
Chesy tersentak mendengar kata- kata yang diucapkan Cazim.
Oh, rupanya lelaki itu berani mengancam bahkan menentang Chesy. Dia belum tahu siapa Chesy sebenarnya, gadis keras kepala yang kerap menghalalkan segala cara dalam berbagai hal. Memanjat atap rumah pun dia lakukan jika itu untuk kenyamanan dirinya.
Cazim pasti tidak tahu kalau Chesy pernah dihukum jongkok berdiri di ruang makan oleh abinya dari pagi sampai sore karena sebuah kesalahan fatal, tapi abinya tidak menemukan Chesy saat pulang kerja siang hari di rumah, dan malah menemukan gadis itu di atap rumah, berbaring dengan Pe We.
Semua itu Chesy lakukan demi bisa bebas dari pengawasan abinya. Ada lagi kelakuan Chesy yang lebih ekstrim dari itu dan sulit dijabarkan satu per satu. Bahkan menyiram musuh bebuyutannya dengan air cabe oun pernah dia lakukan.
Eh tunggu dulu, apa tadi? Cazim menyebut Chesy dengan sebutan kecoa kecil? Dasar lidah minta digoreng. Okey, lihat saja nanti, apa yang akan dilakukan oleh Chesy setelah ink, ia tidak akan main- main. Semakin Cazim menunjukkan pemberontakan dan sikap buruk pada Chesy, maka niat Chesy untuk membongkar kedok Cazim makin kuat.
__ADS_1
Chesy memalingkan wajah dari Cazim, berusaha untuk tidak menatap wajah yang membuat dadanya panas membara itu.
Setiap kali satu tahap acara selesai di selenggarakan, maka Chesy bangkit berdiri dan maju ke posisi depan untuk membacakan urutan acara dan mempersilakan siapa saja yang ditunjuk mengisi acara. Seperti kali itu, setelah kepala sekolah selesai menyampaikan sambutan kata, maka Chesy pun melangkah ke depan untuk membacakan acara selanjutnya dengan menggunakan mike.
"Terima kasih kepada Bapak Kepala sekolah yang sudah memberikan kata sambutan. Semoga apa yang disampaikan oleh beliau bisa diambil hikmah dan diamalkan oleh kita semua. Baiklah, kita menuju acara inti, yaitu ceramah agama yang akan diisi oleh bapak, maksud saya ustad Cazim Al Ghafar. Kepada ustad Cazim Al Gafar dipersilakan." Chesy berjalan kembali ke kursi dan berpapasan dengan Cazim yang tengah berjalan menuju tempat yang disediakan di depan anak- anak.
"Kalau mau aman, lebih baik bungkam!" bisik Cazim saat melintas di samping Chesy, sementara bibirnya tetap tersenyum ke segala penjuru.
Chesy kembali ke kursinya. Dalam hati sumpah serapah pun bertaburan, menyumpahi Cazim yang dia harapkan akan segera musnah dari komplek itu.
__ADS_1
Chesy hampir tidak mendengar apa pun yang disampaikan Cazim. Ia mengantuk.
Saat itu Cazim menyampaikan tausiah tentang pentingnya menuntut ilmu.
"Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. Peribahasa ini selaras dengan syariat Islam. Karena ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendapatkan wahyu adalah ayat tentang ilmu yakni Iqra, bacalah. Membaca adalah bagian menuntut ilmu. Baca, tulis, hafal, faham." Cazim mengedarkan pandangan ke wajah wajah di hadapannya.
Ketampanan pemuda itu menjadi pemandangan indah bagi para wanita. Bukan hanya murid yang saling berbisik membicarakan ustad muda yang tampan itu, tapi juga para guru.
Jarang- jarang ada anak muda seusia Cazim dan bahkan belum menikah sudah memilki ilmu dan keberanian untuk tampil berceramah.
__ADS_1
Bersambung