
Jantung Revalina berdegup kencang, makin lama rasanya makin tak karuan hampir saja membuat dadanya sesak tak tertahan.
'Dia mau mengungkapkan apa,' ucap Revalina dalam hati, bertanya-tanya.
Tiba-tiba Rival merayap mendekatinya, perlahan tapi pasti mulai mengungkungnya dengan jarak tubuh yang sangat dekat sepertu tak ada celah. Saat itu tubuh terasa pepet maksimal tak bisa berbuat apa-apa, bahkan otak pun tak jalan seolah membicarakan aksi Rival di atas tubuhnya.
Rival mulai menjamah telinga Revalina, mendekatkan bibir manisnya ke arah telinga serasa berbisik. "Aku mencintaimu."
Sontak lensa mata Revalina terbelalak, terkejut bukan kepalang, di detik itu juga otaknya tiba-tiba mempu berputar sehingga tubuh termasuk kedua tangannya bisa digerakkan.
Dengan kasar Revalina mendorong Rival, ia berusaha melepaskan kungkungannya tak peduli seberapa berat tubuh Dosen muda ini. Ia terus mendorong tanpa ampun, setelah mendapatkan celah ia pun melompat turun dari sofa itu.
Beberapa detik mata Revalina dan Rival beradu pandang, nampak Rival tengah kebingungan, terkejut sekaligus kecewa pada Revalina, saat ini campur aduk perasaannya, bibirnya kaku tak mampu berkata-kata.
"Maaf aku capek sekali mau istirahat," dalih Revalina atas penolakannya barusan.
Dengan cepat ia naik ke atas ranjang sisi kiri membaringkan tubuh kesana sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu.
Tak lama Rival pun ikut naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya di samping Revalina dengan tangan yang masih menahan kepalanya untuk menyentuh bantal.
"Jangan jadikan alasan capek buat penolakan mu hari ini, katakan sejujurnya kenapa kamu menolak ku?" tanya Rival masih dengan tatapan kekecewaannya.
Revalina melirik kesana kemari mencari jawaban dari langit-langit kamar sampai ke lantai-lantai, beberapa detik kemudian akhirnya ia mendapatkan jawaban yang tepat. Lantas ia pun segera membalikkan badan memberanikan diri menatap Rival dengan posisi seperti ini.
"Katakan," pinta Rival kembali.
"Aku nggak mau kita melakukan hubungan di sini, bagiku nggak adil rasanya kalau kesucian yang sudah aku jaga dua puluh tahun lebih harus hilang di sini," jelas Revalina sambil memasang wajah sedih.
Dengan percaya diri, jawaban ini akan membuat Rival percaya dan menyudahi kekecewaannya, terbukti perlahan tatapan Rival berubah kerut-kerut di keningnya langsung menghilang.
"Jadi kamu maunya di mana?" tanya Rival sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sudah pasti aku nggak mau di rumah, aku juga nggak mau di hotel," jawab Revalina sebagai upaya menghindari terjadinya hubungan itu.
Tapi sialnya jawaban ini justru membuat Rival jadi tersenyum-senyum sendiri, bahkan hampir terkekeh entah lucunya dari sebelah mana.
"Kenapa? ada yang lucu?" tanya Revalina menahan kekesalannya melihat Rival menahan tawa.
Rival menggeleng pelan. "Enggak aku cuma lagi menertawakan diriku sendiri saja yang bodoh, nggak peka sejak tadi."
"Maksudmu?" tanya Revalina gagal paham dengan ucapan suaminya ini.
"Ya maksudku, aku bodoh nggak bisa mengerti kalau kamu itu maunya honeymoon," jawab Rival dengan jelas.
Seketika kedua mata Revalina terbelalak, tak pernah terbesit dalam pikirannya apalagi terbayangkan akan hal itu tapi bisa-bisanya Rival berpikir ke arah sana. Sungguh menyedihkan sebuah alasan yang berujung mencekiknya sendiri.
Sekarang ia jadi makin pusing, kini ia pun memilih untuk menutup wajahnya dengan selimut sekaligus menutup gemuruh dalam otaknya sekarang.
"Tenang saja, Mama sudah kasih pilihan tiket honeymoon padaku, Rafa juga, jadi kamu nggak perlu khawatir tinggal pilih saja," ucap Rival lirih namun terdengar di telinga Revalina dari balik selimut.
Namun ini bukan cuma masalah terbiasa atau tidak terbiasa, melainkan masalah logika dan perasaan yang tak bisa dipatahkan, bahwa ia masih menyimpan dendam pada Rival sekaligus terjawab oleh bukti tato di punggungnya pula.
Sulit baginya untuk melakukan itu sementara akal pikirannya mendorongnya untuk balas dendam.Ia hanya ingin melakukan hubungan dengan tanpa dendam.
Malam itu posisi yang pada awalnya menutup telinga di balik selimut sambil menutup kedua matanya berujung tertidur pulas. Sadar-sadar sudah berganti hari di jam 2 pagi, nampak lampu kamar hotel di matikan menyisakan lampu redup di kedua sisi membuat cahaya masih terasa meski tak seperti tadi.
Dalam posisi batu saja terbangun, melirik ke arah lampu tidur yang berdiri di sisi kirinya lalu berbalik badan menatap Rival tapi betapa terkejutnya Revalina meliharnya masih memainkan ponsel di jam segini.
"Kamu nggak tidur Mas?" tanya Revalina lirih, malas.
Rival langsung menoleh ke arah Revalina, lalu tak lama kembalinya menatap layar ponselnya.
"Aku masih belum mengantuk," jawab Rival sambil tersenyum-senyum.
__ADS_1
"Ya sudah terserah, habis ini sudah mau subuh kalau nanti mengantuk ya terserah. Asal kamu tahu saja pagi-pagi nanti kita sudah harus cekout," ucap Revalina dengan santai.
"Iya sebentar lagi," sahut Rival makin tersenyum-senyum.
Enggan mengurusi Rival, Revalina pun kembali menutup matanya mengikuti kantuknya yang semakin tak tertahankan mengingatkan Rival yang masih terus sibuk dengan ponselnya sejak semalam.
Sambil menunggu subuh, Revalina terus tertidur pulas.
***
Pagi harinya ketika awal membuka mata paginya Revalina sudah disapa hangat dengan senyuman manis Rival yang sudah mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan peci dan sajadah yang terlipat di lengan tangannya.
Awalnya Revalina terkejut melihat Rival ketika membuka mata, tapi setelah coba berpikir keras ditengah kekantukkannya yang luar biasa ini, akhirnya ia paham kenapa Rival bisa ada di sini saat ia membuka mata.
'Dodol sekali aku ini, sudah tahu Rival itu suami mu Pagai terkejut segala. Untung saja belum teriak, coba kalau teriak pasti aku akan sangat malu,' gerutu Revalina dalam hati menggerutui dirinya sendiri.
"Ayo sholat bersama, sudah subuh," ucap Rival masu dengan senyum manisnya.
"Emhhh lima menit lagi," sahut Revalina menggeliat sangit, salah satu tangannya menata posisi bantal yang enak.
Baru saja kepala terangkat pada akhirnya pun kepala itu kembali ke tempat ternyamannya yaitu bantal, kembali memejamkan kedua matanya sambil mempertahankan posisi bantal dengan menggeliatnya dengan lengan tangan.
"Reva, nggak ada lima menit lima menit lagi ya. Kalau sudah waktunya sholat subuh harus cepat dilaksanakan," tegur Rival.
Terdengar suara Rival sangat halus seperti mesin motor baru, sangking halusnya bukannya membuat Revalina segera bangun dari tidurnya melainkan semakin pulasĀ karena merasa Seperti tengah didongengi.
"Ya Tuhan gimana caraku bujuk dia, apa harus aku seret ke kamar mandi biar bisa bangun," ucap Rival sedikit menunjukkan kepastiannya dalam menjaga rasa sabar.
Revalina masih tak berkutik, ia justru semakin masuk dalam mimpi.
"Apa siram air saja dia sini," Rival dibuat bimbang.
__ADS_1
Bersambung