
Seketika kedua mata Revalina terbelalak, terkejut mendengar ajakan Akram. Matanya masih membulat menatap teman baiknya tanpa kedip.
"Apa kamu sudah gila, kita belum punya bukti tentang dalang utamanya dan kamu sudah mengajakku untuk mencelakai dia?" tanya Revalina dengan nada kesal.
"Enggak. Aku nggak mau," tegas Revalina menggeleng pelan, mengalihkan pandangan mata diikuti kedua tangan melipat di depan dada.
"Kenapa kau tidak mau?" tanya Akram memicing keheranan.
"Harus aku katakan berapa kali padamu, aku masih ingin mencari pelaku lain karena pelakunya bukan cuma dia aja yang masih hidup, kita belum punya bukti apa-apa," jawab Revalina dengan sejelas-jelasnya.
"Lalu dengan tato itu, apa tidak cukup membuktikan semua?" tanya Akram kembali.
"Asik sekali rupanya, lagi membicarakan apa memangnya," tegur Rival.
Secara tiba-tiba datang dari arah belakang lalu melenggang ke hadapan Revalina. Netranya kembali terbelalak celingukan menyorot ke seluruh sudut kampus melihat masih ada beberapa mahasiswa bergerombol di sebrang taman.
'Ya Tuhan, kenapa Pak Rival ke sini apa dia tidak tahu kalau kita lagi dibicarakan satu kampus? Dan semoga saja dia tidak mendengar pembicaraan barusan.' gumam Revalina dalam hati.
Bola mata Rival mengedar ke arah Akram, lalu kembali terparkir pada mata indah Revalina.
"Re, kamu sudah tidak ada kelas lagi kan?" tanya Rival dengan tatapan teduhnya.
Revalina menggeleng kebingungan, bingung akan maksud pertanyaan Rival.
"Ya sudah kalau begitu ayo pulang, jangan lama-lama di kampus apalagi di bawah pohon seperti ini, bisa-bisa kesurupan," ajak Rival sambil melirik tingginya pohon yang digunakan Revalina berteduh di bawah teriknya sinar sang surya.
"Tapi saya bawa mobil Pak," tolak Revalina dengan sangat halus.
"Nah, justru itu aku mengajak mu pulang," sahut Rival.
Revalina kebingungan, tatapannya masih enggan lepas dari paras Rival. Entah kini terpaku pada kalimat ambigunya atau justru terpaku dengan ketampanannya.
"Hah, gimana Pak?" tanya Revalina kembali memicing kebingungan.
"Aku tidak bawa mobil," jawab Rival singkat, jelas.
"Oh, pantas saja mengajak saya pulang ternyata karena ada maunya," ucap Revalina terpaksa beranjak.
Ia pun langsung berpamitan dengan Akram lalu bergegas menuju parkiran mobil, di sana sudah berjejer mahasiswa-mahasiswa yang berdiri secara berkelompok kini tengah memandangi ke arahnya.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, jangan pernah dekat-dekat apalagi sampai pulang bersama seperti ini, lihatlah mereka semua sudah curiga atau bahkan sudah tahu tentang kita," gerutu Revalina lirih.
"Biarkan saja, lebih baik semua tahu dari pada aku harus melihat mu bersama Akram di bawah pohon tadi," sahut Rival dengan entengnya.
Revalina memilih bungkam dari pada harus meladeni ucapan Rival, ia memilih segera masuk ke dalam mobil. Disusul Rival yang memegang kursi kemudi perlahan melajukan mobil keluar dari kawasan kampus.
Ketika berada di dalam mobil Revalina merasa masih belum selamat dari sorotan mahasiswa lain, semua terlihat masih menyorotnya sambil sesekali berbisik lirih dengan teman-temannya.
"Re, kita keluar sebentar tidak langsung pulang," ujar Rival.
"Lihatlah Pak, semua orang sedang membicarakan kita," Revalina menunjuk beberapa mahasiswa yang tersisa di depan sana yang terlihat dari gelagat dan tatapnya tengah membicarakan si penumpang mobil ini.
Rival yang acuh dalam hal seperti ini menoleh namun tak lama kembali mengalihkan pandangan mata.
"Seperti itu saja kau pikirkan, kenapa kau tidak coba memikirkan hal yang lebih penting," sahut Rival sambil memutar setir mobil mengambil arah kiri dari gerbang utama kampus.
Mendengar sahutan Rival sontak kedua mata Revalina memicing keheranan, tak lepas menatapnya nanar.
"Enteng sekali bicara mu, kau tidak merasakan langsung gimana rasanya dicemooh banyak orang, diancam mau diadukan Dekan," gerutu Revalina kesal.
"Santai saja, aku tidak mungkin membiarkan mu dalam bahaya. Aku bisa handle masalah ini, dan untuk Dekan percayalah kita akan aman," ucap Rival tanpa beban.
Revalina masih menggeleng tak percaya, begitu santainya Rival menghadapi masalah ini. Masalah yang seharusnya jadi pertimbangan keras baginya untuk menentukan setiap langkah namun berbeda dengan Rival yang justru menunjukkan kedekatan di antara mereka.
Berbicara tentang Uminya, Revalina baru sadar jika ia harus memberi kabar akan pulang terlambat. Ketika ia akan menghubungi Umi tak sengaja netranya melirik ponsel milik Rival. Entah kenapa ia seperti menemukan kesempatan emas.
"Pak, aku boleh meminjam ponselmu?" tanya Revalina menatap Rival yang kini tengah fokus mengemudi.
"Untuk?" tanya balik Rival, menaikkan sebelah alisnya.
"Aku mau hubungi Umi, mau pamit kalau pulang terlambat kebetulan ponsel ku lowbat," jawab Revalina sambil menunjukkan layar ponselnya yang mati total.
Tanpa banyak bicara Rival langsung meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya, dengan tangan kiri Rival membuka sandi layar ponselnya. Melalui sorotan ekor mata Revalina yang tajam ia coba merekam sandi layar ponsel Rival di dalam otaknya. Ketika sudah berhasil membuka Rival memberikan ponselnya tanpa curiga.
"Terimakasih, aku pinjam sebentar," ucap Revalina ketika tangannya menyentuh benda pipih milik Rival.
Saat ini Revalina langsung menuju salah satu aplikasi chatting fokus pada tujuan utamanya untuk menghubungi Uminya.
"Tutt tuttt tutttt," dering panggilan tersambung.
__ADS_1
Chesy : "Assalamualaikum hallo, Nak Rival."
Revalina : "Waalaikumsalam ini Revalina Umi, bukan Rival."
Chesy : "kenapa ponsel Rival bisa di tangan mu?"
Revalina : "aku meminjamnya Umi, karena ponsel ku lowbat. Aku cuma mau izin ke Umi kalau siang ini aku pulang terlambat karena ada urusan sama Pak Rival."
Chesy: "Ya sudah kalau sama Rival, Umi izinkan. Tapi jangan pulang larut malam ya Nak."
Revalina : "Siap Umi."
Revalina: "Assalamualaikum."
Chesy: "Waalaikumsalam."
Revalina menutup telfon, lalu menatap lega pada layar ponsel itu.
'Seperti biasa jika keluarnya sama Pak Rival sudah pasti diizinkan,' ucap Revalina dalam hati.
"Sudah Pak, terimakasih," Revalina cepat-cepat mengembalikan ponsel Rival.
"Sama-sama," sahut Rival menerima ponselnya.
Meski tidak bisa menyidak isi ponsel Rival sekarang tak membuat Revalina merasa hari ini adalah hari kegagalan melainkan hari pembuka untuk kejutan-kejutan selanjutnya. Ia berusaha tidak kegabah dalam mengambil keputusan, terus melakukan misinya dengan smooth.
Rival terus membawanya entah kemana, melintasi jalan tol yang tiada ujungnya. Makin lama Revalina merasa lelah dan kini mulai merasa keri g pada tenggorokannya.
"Pak," panggil Revalina melirik sang Dosen.
"Iya," sahut Rival singkat.
"Aku haus, pengen minum," pinta Revalina sambil memegangi lehernya.
Reflek Rival melirik ke samping sisi kiri dan kanan, secepat kilat beralih menoleh ke belakang.
"Kau tidak punya air minum?" tanya Rival wajahnya mendadak pucat pasi.
Revalina menggeleng lirih, tidak bertenaga untuk hanya sekedar menjawab pertanyaan Rival kali ini.
__ADS_1
"Ya Tuhan," Rival menepuk keningnya.
Bersambung