Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sial


__ADS_3

Sontak Revalina tercengang mendengar gertakan itu dari Dokter Vandy, seketika ia langsung membayangkan dirinya berurusan dengan hukum. 


'Sial, aku kan cuma mau cari kejelasan kenapa jadi tuntut-tuntutan begini. Memang dasar Dokter pemarah, begini nih kalau orang nggak punya kompetensi bisanya cuma tuntut-tuntut saja. Lebih baik aku diam-diam cari rumah sakit lain saja nggak usah ladeni dia lagi,' ucap Revalina dalam hati.


"Saya rasa perbincangan kita sudah cukup sampai di sini, saya pamit," ucap Revalina bergegas pergi dari ruangan itu.


Dengan langkah terburu-buru namun berusaha untuk tetap tenang dan santai, Revalina terus melangkah keluar. Saat utu Dokter Vandy hanya terdiam membiarkan Revalina pergi, agaknya benar dia hanya menyertai saja.


Klekkkk.


Pintu ruangan itu kembali di tutup Revalina dari luar dengan menunduk sedih.


"Reva," panggil Joseph.


Sontak Revalina terjingkat tiba-tiba mendapati Joseph berdiri di sampingnya, kedatanganya yang tiba-tiba dapat digambarkan seperti jelangkung yang tiba-tiba datang tanpa di undang.


"Astagfirullahalazim, ya Allah. Pak Joseph bikin kaget saja," ucap Revalina lemas dengan nafas yang terengah-engah.


"Hahaha, bukan aku yang bikin kaget tapi kamu tuh yang melamun," tawa renyah Joseph setelah mendengar ucapan Revalina.


Perlahan Revalina mulai mengerakkan tungkainya tanpa sadar, padahal dirinya belum berpamitan dengan Josep seseorang yang menduduki jabatan di atasnya.


"Reva," panggil Joseph kembali, mengikuti langkah Revalina.


Kini keduanya berjalan beriringan menyusuri lorong-lorong rumah sakit itu.


"Kamu kenapa habis dari ruang Dokter fisioterapi itu langsung murung begini?" tanya Joseph dengan nada bicaranya yang lembut dan tenang.


"Nggak kenapa-napa Pak, cuma lagi pengen diam saja bukan murung," jawab Revalina mengelak pertanyaan berbau diklaim itu.


Ia terus coba menutupi ini semua, dengan keluarganya saja ia tutupi apalagi dengan Joseph yang notabennya adalah orang luar yang tak perlu tahu sama sekali dengan apa yang terjadi di hidupnya.


"Reva, suamimu kenapa-kenapa?" tanya Joseph kembali.


"Jawab Reva, aku tidak tenang kalau kau terus diam," pinta Joseph sembari menghentakkan kedua tangannya, resah dengan Revalina yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Revalina terus melangkah sembari menghalau semua pertanyaan yang keluar dari mulut Joseph, ia enggan menanggapi jika desakan pertanyaannya hanya seputar itu-itu saja. Sampai langkahnya kini tiba di lobi rumah sakit.


"Pak Joseph, mohon maaf saya nggak bisa jawab pertanyaan Bapak. Saya harus pulang sekarang," pamit Revalina.


Ia pun bergegas pergi meninggalkan rumah sakit itu beserta Joseph yang masih terdiam kaku di lobi sana.

__ADS_1


Setibanya di rumah Revalina langsung disambut hangat oleh senyum dan pelukan Rival, seketika senyuman itu membuat hatinya teriris.


"Assalamualaikum, Mas," ucap salam Revalina.


"Waalaikumsalam," jawab Rival dalam pelukan.


"Gimana hari ini, bahagia?" tanya Rival perlahan melepaskan pelukannya.


Dengan posisi berlutut Revalina kembali memundurkan tubuhnya sembari memegangi kedua sisi pegangan kursi roda itu.


"Bahagia," jawab Revalina sembari memejamkan kedua matanya.


Berat mengatakan suatu kebohongan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang sudah ia lalui hari ini namun harus tetap dilakukan demi menjaga perasaan Rival yang sangat berpengaruh dengan kesembuhannya.


"Tadi jadi ke salon sama Umi?" tanya Rival kembali.


"Jadi," jawab Revalina sembari menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba kening Rival mengernyit tajam, menatap Revalina dengan tatapan yang lain.


"Tapi kenapa rambut mu nggak wangi?" tanya Rival kebingungan.


Blarrrrr.


'Ya Tuhan, aku harus jawab apa. Aku sudah terlanjur bilang kalau jadi ke salon, kalau aku bohong yang ada dia malah curiga semua yang aku katakan itu bohong,' ucap Revalina dalam hati lebih kebingungan lagi.


Rival terus menunggu jawaban Revalina, sedangkan Revalina masih mati-matian mencari jawaban yang tepat. Lebih tepatnya kebohongan baru.


"Eh kalian ini gimana sih bukannya masuk malah ngobrol di tengah pintu," tegur Sarah yang baru saja tiba di ruang tamu.


"Masuk Reva, bawa suami mu masuk juga," ucap Sarah sembari mengedipkan matanya.


"Iya Mbak," sahut Revalina sembari perlahan menghembuskan nafas leganya.


Dengan cepat Revalina mendorong kursi roda Rival membawanya masuk ke dalam rumah sembari berpikir keras memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan sang suami.


"Sepetinya aku salah atur waktu Mas, jadi aku ke salon dulu baru ke pasar jadinya bau begini rambutku," jawab Revalina sembari memandangi Rival dari belakang.


Tak diduga tiba-tiba Rival langsung menoleh ke belakang, melirik Revalina yang tengah mendorongnya.


"Lah tadi katanya ke market?" tanya Rival kebingungan.

__ADS_1


Reflek Revalina memejamkan kedua matanya sembari mengumpat dalam hati, kesal dengan dirinya sendiri yang lupa dengan apa yang sudah mulutnya katakan.


"Em, iya Mas. Tadi itu aku ke market habis itu ada beberapa list belanja Umi yg nggak ada jadi terpaksa ke pasar," jawab Revalina dengan jelas.


"Oh begitu," ucap Rival mengangguk paham.


Dari sudut ruangan Sarah terus memberi kode padanya dan baru ia sadari ketika sudah berada di sampingnya, namun masih coba ditelaah kembali karena kodenya hanya melalui putaran korneanya.


'Apa maksud Mbak Sarah ini,' ucap Revalina dalam hatinya bertanya-tanya.


Tak lama akhirnya ia pun memahami apa yang sedang Sarah sampaikan pada dirinya.


"Mas, kamu belum makan siang ya?" tanya Revalina dengan nada kesal.


"Sudah tadi," jawab Rival lirih.


"Bohong. Pokoknya sekarang harus makan dulu," ucap Revalina dengan tegas.


Kini Revalina mulai membawa suaminya ke ruang makan, terlihat di sana sudah ada hidangan yang berjejer yang sudah berkurang isinya menunjukkan semuanya sudah makan kecuali Rival.


"Kenapa sih Mas, susah sekali makannya seperti anak kecil saja," gerutu Revalina sembari mengambilkan nasi untuk Rival.


"Stop-stop!" seru Rival.


Revalina langsung menghentikan tangannya mengambil nasi, berpindah ke arah lauk yang diinginkan Rival.


"Makanya suaminya itu diurusin jangan ditinggal-tinggal," sahut Rival tak mau kalah.


"Lah, nggak ada hubungannya Mas. Kalimat mu tadi itu pas cuma buat rumah yg nggak ada masakan begini, nah ini saja ada banyak begini," elak Revalina lebih tak mau kalah lagi.


Setelah selesai mengambilkan beberapa lauk untuk Rival, akhirnya Revalina bisa duduk menyaksikan Rival menyantap sarapannya.


"Kenapa jadi berdebat begini ya," ucap Rival berusaha mengakhiri perdebatan.


"Siapa dulu yang mulai," sahut Revalina enggan membiarkan dirinya menerima kekalahan.


"Eh, kamu nggak makan?" tanya Rival terkejut menoleh ke arah Revalina yang duduk tepat di samping kirinya.


"Enggak, tadi aku baru saja makan sama Umi," jawab Revalina dengan spontan jarinya menunjuk ke arah rumah Chesy yang berjarak beberapa kilometer dari rumah Candini ini.


"Oh begitu," sahut Rival sembari mengangguk paham.

__ADS_1


Beberapa menit setelah makan seperti biasa Rival langsung meraih obatnya, Revalina yang melihat hal itu langsung terbelalak terkejut reflek langsung menyahut obat itu lebih cepat lagi.


"Reva," panggil Rival dengan raut wajah kebingungan.


__ADS_2