
"Kenapa kau ambil?" tanya Rival kebingungan.
"Obat itu mau aku minum," ujarnya.
Revalina tetap menggenggam obat itu, justru kini mengambili semua obat dari apotek rumah sakit itu.
"Kamu jangan minum obat ini lagi Mas," ucap Revalina menyembunyikan obat-obat itu di balik tangannya.
"Kenapa?" tanya Rival lagi-lagi merasa kebingungan.
Yakub dan Sarah yang berada di ruang tengah langsung menoleh ke arah ruang makan, menatap Revalina dengan matanya yang terbelalak.
"Hey, aku lagi tanya Reva," tegur Rival.
Sekejap Revalina kembali tersadar, netranya seketika beralih menatap Rival yang sejak tadi menunggu jawaban darinya.
"Em anu Mas, jangan minum obat ini lagi," jawab Revalina gelagapan.
"Kenapa?" tanya Rival secara berulang-ulang.
"Aku tadi lihat berita merk obat yang kamu pakai ini nggak bagus, nanti kita konsultasi sama Dokter ya supaya kasih obat yang bagus," jawab Revalina dengan jeda pada setiap kata dalam kalimatnya.
Rival melongo, bingung dengan jawaban Revalina. Beberapa detik mulutnya hanya ternganga seolah tak bisa menelan jawaban Revalina secara mentah-mentah.
"Nggak bagus gimana, perasaan bagus-bagus saja," ucap Rival bertanya-tanya.
Tiba-tiba Yakub dan Sarah datang, Yakub langsung mengambil obat-obatan di tangan Revalina dengan wajah tegangnya yang kini mulai menatap adik dan adik iparnya.
"Benar apa yang dikatakan Reva, obat merk ini memang sudah masuk berita katanya termasuk obat yang nggak bagus kalau di konsumsi jangka panjang sementara kau sudah berminggu-minggu pakai obat ini. Aku rasa obat mu perlu diganti," ujar Yakub panjang lebar.
'Huhhh, akhirnya selamat,' ucap Revalina dalam hati sembari menghembuskan nafas leganya dengan perlahan.
Ketika Yakub memberi penjelasan pada Rival, terlihat tatapan Rival langsung berubah seperti orang yang tengah mencerna yang berujung percaya.
"Jadi aku harus konsultasi sekarang?" tanya Rival pada Yakub dan Revalina.
"Nanti ya Mas, nggak papa kita skip dulu obat siang. Nanti malam kita pergi," jawab Revalina sembari sibuk memberi kode pada Sarah.
Perbincangan mereka di ruang makan saat itu ditutup dengan anggukan Rival yang setuju dengan pendapat Revalina.
Sore harinya Revalina mengajak suaminya menonton film horor di ruang tengah, keduanya duduk di sofa berbentuk L dengan posisi Rival yang duduk di sofa panjang yang menghadap langsung ke televisi sedangkan Revalina duduk disudut sofa tepat di samping Rival. Saat film telah di mulai entah kenapa vibes di rumah pada sore hari itu terasa pas dengan genre film yang akan ditontonnya.
__ADS_1
"Mas, kenapa jadi horor sekali ya aku jadi takut," rengek Revalina sembari memegangi pundak Rival sebagai tameng untuknya bersembunyi ketika hantu itu mendadak muncul.
"Kak Yakub sama Mbak Sarah kemana Mas, Mama juga mana kenapa rumah jadi sepi begini?" tanya Revalina terus ketakutan.
"Di belakang mungkin, katanya tadi mau potong pohon bunga kamboja," jawab Rival dengan santainya memakan popcorn caramel.
Beberapa detik rasa takutnya berubah menjadi bingung ketika mendengar jawaban Rival, lantas netranya beralih menatap Rival dengan muka sejajar.
"Kenapa dipotong, bukannya sudah bagus itu pohon?" tanya Revalina bingung sekaligus sedih mendengar pohon itu akan dipotong.
"Bagus sih bagus, tapi nggak lucu kalau sudah ada pocongnya," jawab Rival sembari memasukkan popcorn ke dalam mulutnya.
"Mass," teriak Revalina dengan cukup keras.
Reflek ia bersembunyi di balik punggung Rival sembari menutup kedua matanya dengan tangan, ia terkejut tak menyangka akan alasan pemotongan pohon itu.
"Hahahaha, kamu tuh dari pada nonton film horor mana perbulan bayar mending tiap mau Maghrib sama pas tengah malem main ke belakang rumah gratis," ledek Rival dengan tawa puasnya.
"Nggak mau," rengek Revalina masih bersembunyi di balik punggung Rival.
Beberapa menit kemudian Revalina mulai tenang, perlahan kembali ke posisi duduknya sembari membuka kedua matanya.
"Kamu bohong kan Mas?" tanya Revalina dengan panuh harap.
"Mana ada aku bohong, tanya saja ke Mbak Sarah kalau nggak percaya dia yang lihat itu pocong lagi duduk di batang pohon bagian atas yang melengkung itu," jawab Rival dengan kedua matanya yang membesar.
"Aaaaa, aku nggak mau Mas. Kita pindah rumah saja," rengek Revalina ketakutan.
Rasa takutnya membuat dirinya kembali berlindung, namun bukan di belakang punggung Rival melainkan menyembunyikan mukanya di dada Rival.
Dengan lembut tangan Rival menyambut, merangkul tubuh Revalina dengan sentuhan hangatnya.
"Kenapa jadi kita yang pindah, hantunya saja yang pindah," sahut Rival dengan santainya.
"Maksud kamu pindah dari belakang rumah ke dalam rumah begitu?" tanya Revalina kesal.
"Hahahahaha, bukan begitu Reva," Rival tertawa mendengar pertanyaan Revalina.
"Tenang hantu itu nggak akan memakan mu, dia cuma menampakan diri saja sama seperti film yang sedang ku tonton sekarang," ucap Rival berusaha menenangkan Revalina.
"Tetap saja aku takut Mas," rengek Revalina yang kesekian kali.
__ADS_1
Perlahan dengan telaten Rival memberi pengertian pada Revalina agar tak merasa takut, setidaknya rasa takut itu berkurang. Alhasil tak lama Revalina kembali mau menonton film yang terus berputar sejak tadi, ia kembali lanjut menonton sembari terus memeluk Rival.
"Kenapa aku juga lagi nonton film pocong, jadinya parno sendiri kan," gerutu Revalina lirih kesal.
Film itu berdurasi 2 jam, waktu yang lama untuk Revalina menghabiskan film itu.
"Aduh romantisnya kalian nggak seperti Kakak mu," ucap Sarah sembari melirik ke arah Yakub.
Tiba-tiba saja Sarah dan Yakub sudah ada di ruang tengah dengan pakaian bersih dan wangi, terlihat seperti baru mandi begitupun Candini.
Mendengar hal itu dengan cepat Revalina melepaskan pelukannya pada tubuh Rival, membenarkan posisi duduknya sembari menekan tombol pause pada remote televisinya.
"Lebih dari itu juga sudah kita lakukan, itu lebih dari romantis," sahut Yakub sembari menggerakkan tungkainya menuju ke salah satu sofa yang ada di sisi kanan Revalina.
Sementara Sarah yang tengah menyembunyikan pipi merahnya mulai mengikuti Yakub, duduk bersama Revalina dan Rival.
Namun Candini masih berdiri di sana. Revalina sebagai menantu merasa tak enak melihat mertuanya seperti ini.
"Ma, sini Ma nonton bareng," ajak Revalina sembari melempar senyum kepada Candini.
"Aku mau istirahat saja," sahut Candini melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya.
Seketika suasana menjadi dingin, sunyi saat Candini bicara. Semua sama-sama tahu dia sedang memasang tembok antara dia dengan Revalina.
"Kecapekan mungkin, biasanya kalau dekat-dekat tempat yang punya aura mistis suka begitu gampang capek," ucap Rival sembari tersenyum.
"Bukan mungkin lagi tapi memang capek," sahut Sarah mengeluh sembari menyenderkan punggungnya ke senderan sofa.
Tiba-tiba Yakub mengacak-acak rambut Sarah sembari tertawa "Halah, orang tadi cuma ambil gergaji sama tali saja bilangnya capek."
Sarah terkekeh mendengar Yakub yang dengan gampangnya membuka kebohongan di balik keluhannya barusan.
"Kenapa tadi nggak ajak aku, kan aku bisa bantu?" tanya Revalina kasihan melihat kedua Kakak iparnya ini kelelahan.
"Heleh, ini lagi sok-sokan tanya begitu padahal tadi dia ketakutan pas aku kasih tahu apa alasan Kak Yakub motong pohon itu," ledek Rival sembari terkekeh.
"Lah, kamu cerita Val?" tanya Sarah terkejut.
"Iya lah, dia tanya ya aku jawab," sahut Rival dengan santainya.
Melihat ekspresi wajah Yakub dan Sarah, membuat ia merasa cerita Rival tadi benar adanya. Namun masih ada saja sepercik harapan jika hantu itu tidak ada.
__ADS_1
Dengan hati-hati Revalina mulai bertanya "memangnya di pohon bunga kamboja itu benar ada hantunya?"