Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Tinju


__ADS_3

Beberapa detik terbengong, akhirnya Cazim mengangkat lengannya untuk membalas pelukan itu.  


"Katakan sesuatu padaku!  Satu kata saja!" bisik Cazim. Dia merasakan kehangatan dari pelukan Chsy. Dia memang tidak tahu apa maksud pelukan Chesy, namun sepengetahuannya adalah, pelukan itu hangat dan menandakan kasih sayang.


"Aku mencintaimu!" bisik Cazim lagi. Tidak perlu Chesy mengatakan arti pelukan itu, tapi Cazim mengerti bahwa Chesy sedang menyalurkan bahasa kasih sayang.


"Jangan pergi!" bisik Chesy membuat jari Cazim spontan mengelus punggung Chesy dengan gerakan kecil. 


"Aku tidak akan pergi jika itu maumu." Cazim membiarkan pelukan terus berlalu hingga beberapa detik lamanya. 


"Gugatan cerai itu..."


Cazim melepaskan pelukan, membuat ucapan Chesy terhenti. Ia memberi jarak pandang diantara keduanya. "Aku tidak keberatan. Memang sudah sewajarnya aku tidak menjadi suamimu. Dan seharusnya aku tidak pernah hadir di hidupmu."


Chesy tidak tahu harus dari mana memulai kejujuran, bahwa sebenarnya ia tengah mengandung sekarang. Rasanya lidah masih berat mengatakannya. 


"Tapi jika kau memintaku untuk tinggal sebentar di sini, aku akan tetap tinggal untukmu," imbuh Cazim. 


"Aku mau kamu tetap di sini."


Cazim mengangguk. "Aku masih suamimu sekarang. Aku akan temanimu sekarang." Cazim menunduk dan menunjuk ke arah lantai. "Kalajengking lagi." Ia melirik Chesy.


Wanita itu mendengus.


"Tidak takut lagi?" tanya Cazim dengan senyum simpul. 


"Nggak lucu!" Masih enggan untuk tertawa. Hati ingin tertawa meski masih ngilu, tapi gengsi.


Cazim tertawa kecil. 


Di tengah situasi itu, Chesy mendadak ingin buang air kecil. Ia pun menuju ke kamar kecil. 


"Mau kemana? Kok aku ditinggal?" Cazim menatap Chesy yang meninggalkannya.

__ADS_1


"Pipis."


Luwes sekali lidah Chesy menyebut kata itu, apa salahnya bilang buang air kecil?


Seusai melaksanakan hajatnya di closet duduk, Chesy termenung di depan cermin toilet. Ia menunduk dan menatap perutnya sendiri. Lalu telapak tangan mengusap permukaan perut yang masih rata.


Kenapa begitu berat untuk mengatakan bahwa ia tengah mengandung sekarang? 


Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibir Chesy sambil mengusap perut. Entah bagaimana bentuk tubuhnya saat janin itu membesar di dalam perutnya.


Sepuluh menit berlalu, Chesy akhirnya keluar kamar mandi. Ia terkejut melihat Cazim yang ternyata sudah berdiri di depan pintu. Lidah Chesy masih terasa berat untuk bicara banyak sehingga ia memilih diam.


"Chesy, kau memintaku untuk tidak pergi, itu karena kau ingin aku menemanimu malam ini, atau.... Atau karena kau masih mencintaiku?" tanya Cazim ingin kepastian.


Rupanya pria itu bertanya- tanya juga sejak tadi. 


Melihat Chesy yang hanya diam, Cazim pun berkata, "Baiklah, aku mengerti. Keterlaluan sekali jika aku menanyakan itu kepadamu. Aku sudah tahu jawabannya. Lupakan. Kita akan ke persidangan untuk menuntaskan perceraian."


"Tidurlah di sini." Chesy kemudian memejamkan mata.


Bingung, Cazim naik ke kasur. Berbaring menghadap Chesy yang memunggunginya. Dapat punggung!


"Aku panggil dokter ya? Kondisimu sedang tidak sehat. Wajahmu memucat. Kau juga terlihat lemas," ucap Cazim.


"Nggak usah. Aku udah minum vitamin."


"Vitamin? Kenapa tidak minum obat saja?"


Tidak ada sahutan dari Chesy. Cazim mengubah posisi tidurnya menjadi menelentang, ia menatap langit-langit kamar.


"Besok kita akan menjalani mediasi di pengadilan agama," ucap Cazim yang tidak mendapat sahutan dari Chesy. 


***

__ADS_1


Pagi hari Chesy terjaga dan mendapati diri dalam pelukan Cazim. Wajah tampan itu menempel di wajahnya. Iya, pipi Cazim menempel di pipi Chesy, bahkan hidung mancung Cazim mengenai sebagian pipi Chesy. Napas pria itu menyapu wajahnya. Dan tangan Cazim menempel di atas perut Chesy. 


Nyaman sekali rasanya. Ah, biarkan saja begini untuk beberapa saat. Chesy tidak mau mengubah posisi itu.


'Allahu Akbar Allahu Akbar..."


Suara adzan sayup- sayup terdengar bersahut-sahutan. Artinya momen berpelukan itu mesti harus berakhir. 


Chesy cepat memejamkan mata dan pura-pura tidur ketika Cazim bergerak. Pria itu terjaga dan mengucek mata. Sepersekian detik ia sempat terkejut menyadari dirinya ada di kamar Chesy, namun kemudian ia baru sadar kalau ia semalaman memang menghabiskan malam di kamar itu atas permintaan Chesy. Ia terlalu pulas sampai tidak menyadari keberadaannya di kamar itu.


"Chesy! Bangun! Sudah subuh."


Chesy mengubah posisi tidurnya, memunggungi Cazim.


Melihat hal itu Cazim pun beranjak turun dan meninggalkan kasur untuk segera menunaikan panggilan subuh di ruangan lain.


Setelah Cazim meninggalkan kamar, barulah Chesy bangun.


Pukul enam pagi, Chesy yang baru saja keluar kamar dan mendengar suara Bik Parti berteriak heboh.


"Non, Noooooon... non Chesy!" 


"Ada apa, Bik?" Chesy menatap Bik Parti yang menghambur lari ke arahnya dengan wajah pias.


"Itu anu itu Non. Den Cazim sama Pak Yunus.."


"Mereka kenapa?" Chesy bingung.


"Di ga gazebo be belakang.... be berantem… Eh tinju."


“Hah?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2