
"Dih, kemana sih tuh cemplon? Klakson sekeras ini nggak dengar juga. Ngebo kali ya?" gerutu Chesy sambil memasang standar motor. Ia menunduk menatap lengan yang melingkar di perutnya, kemudian melirik kepala yang nyender di pundaknya.
Pelukan Cazim begitu erat. Ia bingung bagaimana caranya membawa Cazim masuk ke rumah.
"Mas, bangun! Ayo, turun!"
Cazim tak bergerak.
"Ya ampun, gimana ini?" Chesy perlahan menuruni motor dan melepas pelukan Cazim di perutnya, ia kalungkan lengan Cazim di leher.
"Mas, bangun! Kamu nggak apa apa kan?" Chesy menepuk pipi Cazim.
"Ini sakit sekali," lirih Cazim dengan mata yang masih terpejam, tubuhnya pun juga masih lemas.
"Ya udah, aku bantu masuk ke rumah!" Chesy memapah Cazim melangkah menuju rumah.
Chesy mengetuk pintu yang dalam keadaan terkunci. Tidak ada sahutan. Ia menggedor pintu cukup kuat sambil memanggil nama Alando. Tetap juga tidak ada sahutan.
"Ambil kunci di situ!" Cazim menunjuk pot bunga yang bertengger di rak bunga paling atas.
Chesy pun mengangkat pot bunga, mengambil kunci. Lalu membuka pintu. Ia memapah Cazim memasuki kamar. Langkahnya sempat sempoyongan karena badan Cazim yang berat sekali. Tubuh berotot dengan tinggi seratus tujuh puluh lima centi meter. Itu membuat Chesy keberatan.
__ADS_1
"E eeeeh..." Chesy meringis hebat saat tubuh Cazim terhuyung dan menubruk dinding. Chesy kesulitan menahan hingga keseimbangannya goyah.
Chesy kembali mengerahkan tenaga dan memapah Cazim sampai pintu kamar. Ia terkejut saat merasakan satu tangan Cazim yang tadinya terayun di udara itu mengalung ke pundaknya, telapak tangan berada di salah satu pundak Chesy, hingga tangan besar itu malah seakan sedang mengapit kuat dada Chesy.
Chesy melotot, ingin protes. Tapi percuma. Fokusnya saat ini adalah meletakkan Cazim ke kasur dengan mengabaikan benda keramat miliknya yang ditekan dengan lengan kekar itu. Sial!
Chesy sudah hafal letak kamar Cazim stelah pernah menyusup ke rumah itu.
Dia baringkan tubuh Cazim ke kasur.
"Huuuh... Ya ampun, berat banget badanmu!" Chesy melepas napas lega. Ia menaikkan kedua kaki Cazim yang menjuntai ke lantai ke atas kasur. Ia kemudian duduk di pinggir kasur.
"Mas, apa yang kamu butuhkan sekarang?" bisik Chesy.
"Aku akan panggil Alando!" Chesy bangkit berdiri, namun detik berikutnya tubuhnya balik lagi dan malah ambruk ke badan Cazim sesaat setelah pria itu menariknya.
Chesy membelalak menatap wajah yang berada satu centi dari depannya itu. Ah, jarak pandangnya memang satu centi, namun hidungnya mendarat sempurna di pipi Cazim.
Jantung Chesy berdetak kencang. Ia pun tak bisa beranjak saat merasakan ada lengan kekar yang melingkar di punggungnya.
"Jangan tinggalkan aku!" gumam Cazim masih dengan mata terpejam. Suaranya seperti bisikan.
__ADS_1
Dan saat Chesy berusaha menjauh dengan mendorong dada Cazim, pria itu dengan gerakan sembarang telah menarik jilbab Chesy sekali tarik hingga benda itu lolos dari kepala.
"Hah?" Chesy kaget. "Mas, kamu udah buka jilbabku!"
Kletek.
Chesy menoleh saat mendengar suara di belakang.
"Eh, maaf. Seharusnya aku tidak sembarangan masuk kamar begini di saat yang tidak tepat. Ini privasi." Alando tampak malu dan langsung keluar lagi sambil menutup pintu kamar.
Ya ampun, Alando salah paham!
Chesy kembali mendorong dada Cazim dan melepaskan diri dari pria itu. Ia meraih jilbab dan memasang di kepala.
"Aku akan segera kembali, tunggu di sini!" ucap Chesy. Tak tahu apakah Cazim mendengar perkataannya atau tidak, Chesy tetap saja berpamitan. Ia keluar kamar dan menemui Alando yang tengah berdiri menghadap dinding.
Nah, kumat nih anak! Dia jadi kelihatan seperti sedang menyembah demit gara gara tadi melihat adegan keramat.
Bersambung
Follow instagram @emmashu90
__ADS_1
Emma aktif berbagi info tentang karya di Noveltoon dan di app sebelah