
Revalina duduk menghadap meja belajar, ia tidak sedang belajar, melainkan tengah mengotak- atik hp milik Damar. Dia sempat membawa hp itu keluar dari mobil dan menyimpannya. Tentu saja nomernya sudah dibuang.
Revalina melihat daftar panggilan terakhir. Reno. Nama itu adalah nama yang berteleponan dengan Damar terakhir kali. Artinya Reno juga merupakan salah satu pelakunya.
Siap Reno? Apakah masih mahasiswa juga?
“Revalina!”
Revalina terkejut mendengar panggilan itu, ia cepat- cepat memasukkan hp milik Damar ke laci. Jantungnya deg- degan juga. Meski pun penghuni rumah ini tidak ada yang tahu siapa pemilik hp tersebut, namun tetap saja ia merasa kaget jika sampai dipergoki membawa hp orang lain. Apa lagi kalau sampai ketahuan membawa hp si mayit. Kan gawat.
Revalina menatap Rafa yang masuk membawa segelas susu.
“Rafa, kalau masuk bisa ketuk pintu dulu nggak sih?” geram Revalina.
“Kok marah? Tumben. Setahuku Revalina nggak pernah marah kalau Rafa masuk tanpa ketuk pintu.”
Revalina mengubah ekspresi wajahnya yang tegang supaya rileks. “Ini aksusnya beda. Revalina kan udah besar. Kalau di kamar ini Revalina lagi ganti baju gimana?”
“Iya, maaf. Rafa bawain susu buat Revalina. Diminum ya!”
Revalina menatap susu yang disuguhkan dengan hati terenyuh. Niat Rafa masuk kamar itu baik, yaitu untuk memberikannya susu supaya ia sehat. Tapi kenapa ia malah marah hanya karena takut kepergok sedang lihatin hp orang lain?
“Rafa perhatian sama Revalina ya?” Revalina mengambil gelas dan meneguknya separuh.
Rafa menarik kursi. Duduk di sisi Revalina. Tiba- tiba saja Rafa menatap kembarannya itu intens dan berkata, “Revalina adalah adiknya Rafa. Rafa lah yang seharusnya menjaga adik- adik. Semenjak Rafa menjadi penyebab tangan kamu menjadi nggak sesempurna dulu saat kecelakaan masa kecil itu, Rafa merasa sangat ingin mejaga Revalina dan Rajani. Rafa gagal menjaga Rajani. Jangan sampai gagal pula menjaga Revalina.”
__ADS_1
Duuuh… Perkatan Rafa membuat Revalina baper. Hatinya makin terenyuh. Ternyata semenjak kejadian masa kecil itu, Rafa benar- benar mengubah sikapnya terhadap Revalina. Pantas saja selama ini Rafa tidak pernah lagi membuat ulah pada Revalina. Rafa juga selalu mengalah dengan adik- adiknya. Setiap ada masalah, dia selalu memilih diam. Ternyata ada luka yang membekas di benaknya, yaitu merasa bersalah atas kecelakaan itu. Dia menjadi dewasa sebelum waktunya, dewasa oleh situasi hingga ia pun berperilaku selayaknya seorang kakak yang melindungi adik- adiknya.
Inilah jawabannya atas rasa penasaran Revalina kenapa selama ini sikap Rafa berubah drastis, berubah menjadi sosok yang selalu mengalauh dan memilih untuk memberikan apa saja miliknya kepada aadik- adiknya sejak peristiwa jatuhnya Revalina dari meja.
“Makasih ya, Rafa!” Revalina tersenyum.
Rafa pun membalas dengan senyum. "Oh ya, kamu ada dengar kabar tentang mahasiswa di kampus kita yang meninggal kecelakaan nggak? Meninggalnya mengenaskan. Kasian."
Revalina terbatuk, keselek saat meneguk susu. Perkataan Rafa membuatnya jadi deg- degan.
"Damar namanya. Dengar kabarnya nggak?" ulang Rafa.
"Tauk ah, nggak seru ngomongin mayat."
Rafa tersenyum.
“Oh iya.” Revalina mengangguk. Ia mengikuti Rafa keluar menuju ke ruang tamu.
Dan…. Revalina terkejut melihat tamu yang datang. Rival? Ya ampun, mimpi apa sampai bisa kedatangan tamu berupa labu busuk itu? lagi pula ada hubungan apa Rival dengan Chesy hingga mereka terlihat saling mengenal begitu?
Rival tidak sendiri. dia bersama dengan sepasang suami istri yang menemani.
Revalina sebenarnya ingin kembali ke kamar saja, namun ia ingat, bahwa saat ini ia sedang berusaha menyenangkan hati Chesy dengan menjadi seperti Rajani, yaitu anak penurut. Maka ia tidak boleh mengecewakan Chesy. Patuhilah permintaan Chesy. Demi kebahagiaan sang umi.
Tdak pernah Revalina melihat Chesy tertawa renyah seperti yang dia lihat saat ini. Dan kedatangan mereka membuat Chesy terlihat sangat gembira. Sebesar inikah efek kebahagiaan yang diberikan mereka kepada Chesy?
__ADS_1
Langkah Revalina menuju ke sofa, duduk di sisi Chesy. Rafa pun ikut menemani di sofa itu. Menghadap Rival dan sepasang suami istri yang kini menjadi tamu.
Sepasang suami istri itu tak lain adalah Yakub dan Sarah, abang dan kakak iparnya Rival.
Obrolan hangat antara Chesy dan sepasang suami istri itu pun terhenti. Kini pandangan Chesy tertuju ke arah Revalina.
"Revalina, kenalkan ini Tante Sarah, sahabat Umi. Dan yang ini Om Yakub, teman Umi juga. Mereka adalah orang- orang baik." Chesy memperkenalkan dengan senyum cerah.
Revalina melempar senyum ke arah sepasang suami istri itu dengan sopan.
"Luar biasa, anakmu cantik banget. Dan Rafa juga tampan. Aku yakin mereka ini adalah anak- anak yang salih dan salihah," ucap Sarah dengan raut gembira. Pertemuan dengan Chesy sudah merupakan kebahagiaan, apa lagi pertemuan dengan anak- anaknya Chesy yang menarik perhatian itu.
"Alhamdulillah." Chesy menanggapi dengan senyum. "Oh ya Revalina, ini dosenmu kan? Rival namanya."
Revalina mengangguk. Sehubungan tadi Rafa sudah lebih dulu diperkenalkan dengan mereka, maka kini saatnya Revalina yang menjadi target untuk diperkenalkan.
"Jadi, Rival ini dulu adalah anak didik di sekolahnya kakek kamu. Pokoknya dia adalah anak paling bandel, paling nakal dan paling sering mendapat hukuman. Tapi besarnya berhasil jadi orang yang berguna," jelas Chesy.
Oh pantesan Chesy sangat mengenal Rival, rupanya dulu mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
"Bolak balik Om Yakub mesti harus ke sekolah nemuin umi hanya untuk ngurusin Rival ini." Tawa Chesy, Yakub dan Sarah pun meledak.
"Sebenarnya Om sangat berharap pada Rival untuk bisa bekerja di perusahaan yang Om kelola, tapi Rival malah lebih hobi menjadi dosen," jelas Yakub. "Pada intinya, perusahaan Om ini kan bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan milik kakek kamu, kakek Diatma. Jadi, maksudnya Om ingin kalian itu bersatu supaya perusahaan kita bisa sama sama maju saat disatukan. Kalau kalian bersatu, itu kan sama saja penerus perusahaan menjalankan dua perusahaan besar hingga makin jaya. Om pikir ini rencana bagus. Mengembangkan bisnis dengan menyatukan kalian juga. Pada hakikatnya, kalian yang nantinya akan mengembangkan bisnis ini."
Revalina terkejut. Kok malah ia jadi dijodohkan begini? Revalina melihat Rival tampak tenang saja, tidak kaget, pun tidak heran. Pokoknya rileks sekali, lebih tepat disebut manusia kulkas.
__ADS_1
Bersambung