Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Aku minta maaf."


Hah? Revalina membelalak kaget. Dalsa meminta maaf? Sayangnya dia meminta maaf dengan muka sangar dan garang, tatapan pun sadis. Benar- benar permintaan tidak ikhlas. Maksudnya apa itu?


"Ini minta maaf atau apa?" Revalina menatap datar. 


"Ya minta maaf."


"Kesannya nggak ikhlas banget?"


"Aku minta maaf." Dalsa menegaskan kembali.


Revalina hanya diam, kemudian ia menyingkirkan salah satu badan dan melintas pergi melalui celah yang ada. 


Deringan telepon membuat Revalina segera menyambar hp dari tas dan menjawab telepon.


"Halo!" Revalina menempelkan benda pipih itu ke pipi sambil terus melangkahkan kaki.


"Apakah Dalsa sudah minta maaf padamu?"


Loh? Siapa ini? Seperti suara Rival. Revalina kaget sambil menjauhkan hp dari pipi, dia menatap nomer yang tertera di layar hp, nomer asing. Dan benar suara yang meneleponnya itu adalah suara Rival. 


Dari mana Rival mendapat nomer hp nya?


"Bapak menelepon saya cuma mau tanya itu?" tanya Revalina.


"Jawab saja pertanyaanku. Kamu mau dia menerimamu sebagai keluarga baruku kan?"


"Oh, jadi rupanya bapak yang meminta dia supaya minta maaf ke saya. Dalsa seperti orang mau menerkam saat bilang maaf, lebih tepatnya seperti mau ngajakin berantem."


"Jadi?"


"Apanya yang jadi?"


"Kamu sudah terima maafnya kan?" 


"Bagi saya itu bukan minta maaf," tegas Revalina.


"Baiklah, kamu ke ruangan saya sekarang!"


"Ngapain?"


Telepon diputus sepihak. Ya ampun! Kebiasaan tidak punya sopan santun. Apa salahnya menghargai lawan bicara dengan berpamitan saat menutup telepon?

__ADS_1


Revalina sebenarnya ingin menolak perintah Rival, tapi saat ini Revalina menjadi mahasiswi dia tidak bisa membantah perintah dosennya. Andai saja ia membantah, ia tetap akan kalah dari segi apa pun. Dosen memiliki kuasa di kampus.


Revalina mengetuk pintu ruangan Rival. Kemudian masuk meski tidak mendengar sahutan dari dalam. 


Rival ternyata tidak sendirian. Ada Dalsa yang berdiri menghadap Rival. Pria itu duduk di kursi.


Dalsa menatap ke bawah, sedikit pun tidak menoleh meski tahu ada orang lain yang masuk ke ruangan itu.


"Ada apa, Pak?" Revalina mengambil posisi berdiri di sisi Dalsa.


"To the point. Kamu mau Dalsa menerima kamu sebagai calon kakak ipar kan?" ucap Rival. "So, aku minta supaya Dalsa minta maaf kepadamu. Minta maaf tidak seperti yang tadi Dalsa lakukan kepadamu."


Dalsa melirik Revalina lalu berbisik, "Kamu mengadu?"


Revalina diam saja. Santai sekali.


"Dalsa, aku mau dengar kamu meminta maaf pada Revalina. Sekarang! titah Rival.


Dalsa menatap Revalina, lalu berkata dengan nada terpaksa, "Aku minta maaf."


Revalina balas menatap Dalsa. "Kamu yakin mau menerima aku sebagai calon kakak iparmu?" 


Beberapa detik Dalsa menatap Revalina tanpa memberikan jawaban. 


"Suka atau nggak suka, kamu harus belajar untuk berdamai denganku, aku akan menjadi bagian dari keluargamu," ucap Revalina.


Revalina merasa menang saat ini. Dia akan mempermainkan Dalsa dan Rival sekali gus. Ini menarik.  Sekarang saatnya Dalsa dibikin bertekuk lutut kepada Revalina oleh Rival, besok entah apa lagi.  


“Jadilah adik ipar yang baik!  Kejadian serempetan di depan kampus kemarin nggak harus membuatmu memusuhiku.  Kita bisa berteman,” ucap Revalina dengan rileks.  


Sebenarnya bukan sebatas perselisihan akibat serempetan mobil yang membuat Dalsa marah para Revalina, namun perlawanan Revalina- lah yang membuat Dalsa murka.  Harga diri dan level Dalsa serasa diinjak- injak begitu ia menemukan sosok yang melawan dan menentangnya setelah selama ini ia selalu ditakuti, dipatuhi dan disegani.  


Sekarang, bahkan uang gerak Dalsa untuk melawan dan meringkus Revalina pun sangat sempit mengingat Rival akan menikahi Revalina.


Dalsa diam saja menatap mata Revalina dengan ekspresi datar.  


Revalina memprediksi bahwa Dalsa saat ini sedang memendam emosi tingkat tinggi.  semoga saja tidak meledak.  Perang dingin dimulai.  Namun Revalina sebisa mungkin menampilkan sikap tenang dan santai.


“Saya pikir nggak ada lagi yang mesti dibicarakan. Permisi, Pak.”  Revalina melangkah pergi.  Ia tidak langsung meninggalkan pintu ruangan Rival saat sudah berada di luar.  Ia menempelkan kuping ke pintu, menguping pembicaraan antara Rival dan Dalsa.  Ia ingin tahu apakah peritah Rival untuk Dalsa meminta maaf kepada Revalina hanyalah akting dan kerja sama mereka berdua untuk memanipulasi Revalina, ataukah memang perintah itu murni keluar dari mulut Rival untuk membuar Dalsa betul- betul meminta maaf?


“Aku tidak mau ada drama pertengkaran lagi diantara kamu dan Revalina.  Kalian akan menjadi satu bagian keluarga!” 


Itu suara Rival.  Tidak ada sahutan dari Dalsa, sampai akhirnya Rival kembali bersuara.

__ADS_1


“Aku ingin pernikahanku dnegan Revalina berjalan dengan lancar.  Jangan sampai kamu menjadi penghalangnya.  Ini bisnisku, kehidupanku, juga masa depanku.  Tidak akan aku biarkan siapa pun merusaknya.  Kamu adalah kesayanganku.  Dan aku sangat mencintaimu.  Kuharap kamu bisa memahami ini.  Jangan biarkan kamu merusak rasa sayang dan kepercayaanku ini padamu.  Sebagai adik, kamu adalah nomer satu bagiku.”


Revalina masih menempelkan kuping, mendengarkan samar- samar suara di dalam ruangan sampai akhirnya bayangan di depannya muncul, pertanda ada orang lain yang datang.


“Apa yang kamu lakukan?  Nguping begitu?”


Revalina terkejut. Sontak menjauhkan kuping dari pintu.  Menatap sosok besar sebesar drum yang terlihat rapi mengenakan stelan blazer di depannya.


“Maaf, Bu.”  Revalina tersenyum lebar, mencuri perhatian bu dosen yang pipinya lebar seperti bakpao.


“Hayo, saya laporkan Pak Rival ya kamus edang menguping.”


“Jangan Bu.  Saya nggak nguping kok.  Nanti ibu saya traktir deh.”


“Nggak butuh traktira,”  Bu dosen mendengus.


“Saya beliin jilbab.” Revalina tidak henti membujuk.


“Sudah punya banyak.”


“Saya ajak jalan- jalan ke Ancol.”


“Bosan.”


“Saya sampaikan salam ibu ke Pak Rival, mau?”


“Boleh juga.”


“Baik.  Nanti akan saya kirim via chat, dan akan langsung saya kirim ke ibu sebagai bukti.  Permisi bu.”  Revalina lari ngibrit.


“Jangan lupa sekalian ayam gulainya sekalian yang kamu kirim, jangan salamnya doang.”


Perkataan yang membagongkan.  Ternyata selain dosen dingin seperti kulkas, masih ada dosen aneh yang isi kepalanya hanyalah lelaki tampan.  Dan Rival adalah salah satu lelaki incaran para wanita di kampus itu.


Pintu terbuka.  Rival keluar bersama dengan Dalsa.


“Eh, Pak Rival.  Siang, Pak!”  Bu dosen tersenyum malu- malu.


Rival mengangguk dan berlalu pergi.


Dalsa menatap heran pada bu dosen yang pipinya merona merah sambil tersenyum sipu dan berjalan menjauh.


***

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2