
Rival langsung menunduk menutupi kesedihannya, sedang Revalina tahu bulir-bulir air mata itu hampir saja tumpah, perlahan mengusap bahu Rival dengan sentuhan tangan lembutnya.
"Mas," panggil Revalina lirih.
Saat itu suasana mendadak tegang, tak ada lagi yang berani bersuara hanya bisa menunggu Rival sampai tenang untuk mendapatkan jawaban atas kesedihannya.
"Mama sedang murung menatap jendela, selama aku hidup baru kali ini aku lihat Mama seperti ini," ucap Rival lirih sedih.
"Gimana ini Umi, apa kita kasih waktu dulu buat Mama Candini?" tanya Rafa tak enak hati.
Umi terdiam bingung, menatap Rafa, Rival dan Revalina secara bergantian.
"Sepetinya kalau Candini melihat kita juga akan memperburuk kondisi kesehatannya," ujar Chesy juga tak enak hati.
Mendengar ucapan keluarganya Revalina lebih tak enak lagi, mereka sudah susah-susah datang kesini untuk membesuk mertuanya tapi niatnya terpatahkan oleh kemurungan Candini, Revalina tahu Chesy dan Rafa sudah mengetahui apa penyebab Candini bisa sakit seperti ini.
"Umi titipkan buah ini ke kamu ya, kalau mertua my sudah baikan kabari Umi. Umi akan langsung kesini," ucap Chesy memberikan parsel buahnya ke tangan Revalina.
"Iya Umi, terimakasih Umi sama Kak Rafa sudah datang kesini. Maaf kalau Mama belum bisa di besuk sekarang," ucap Revalina lirih sedih.
"Nggak papa, Umi doakan semoga Candini cepat sembuh ya," ucap Chesy sembari menyentuh kedua bahu anak menantunya.
"Amin," sahut semua mengamini doa Chesy.
Tak lama Chesy dan Rafa berundur pergi dari sana membawa kehampaan, sementara itu Revalina seorang diri yang mengantar mereka sampai ke depan rumah.
"Gimana soal keuangan rumah tanggamu Reva, Umi lihat Rival sudah nggak bekerja dan Candini cuti sudah lumayan lama?" tanya Chesy sembari mengerakkan tungkainya beriringan dengan Revalina.
"Maaf Reva, bukanya Umi mau ikut campur soal keuangan tapi sebagai seorang Ibu, Umi kepikiran tentang hal ini," sambung Chesy setelah tak kunjung mendapatkan jawaban dari Revalina.
Revalina terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Chesy yang memang nyata adanya ia pikirkan beberapa hari lalu.
"Its okey Mi, memang keuangan kita lagi nggak baik-baik saja. Aku bingung mau kerja tapi nggak bisa tinggal Mas Rival, kalau Mama justru gampang karena mau di urus Mbak Sarah setiap hari juga Mbak Sarah kesini tapi kalau Mas Rival susah dia nggak gampang mau diurus orang," jelas Revalina mulai mengeluarkan keluhannya pada Chesy.
"Ya ampun Nak, di umur mu yang masih sangat muda sudah di kasih cobaan segini beratnya. Umi bisa rasakan kebingungan mu," ucap Chesy sedih, langsung merangkul pundak putri bungsunya.
"Kirim saja lamaran di perusahaan peninggalan almarhum Abi, biar aku yang bicarakan sama pihak SDM terkait ini," ucap Rafa dengan santainya.
Seketika kepala Revalina berputar ke arah Rafa "bicarakan tentang apa Kak?"
"Tantang posisi mu sekarang, kalau kau mau. Kau bisa bawa Rival ke kantor sekalian urus dia dan bekerja," jawab Rafa.
"Aku tak mau kau terlalu larut dalam rutinitas mu yang begini-begini saja sementara perkonomian nggak stabil, kamu harus bangkit," sambung Rafa memberi semangat pada adik kesayangannya ini.
Mendapat masukan dari keluarga Revalina berusaha menginput semua masukan itu di otaknya sebaik mungkin, lalu pada malam harinya setelah mengirim email ke perusahaan barulah ia berani menghadap Rival.
Terbalik memang, tapi Revalina justru takut kalau meminta izin terlebih dahulu sementara eksekusi dilaksanakan di akhir.
Di dalam kamar Rival tengah termenung seorang diri, makin lama makin mirip kondisi Candini sekarang.
'Memang paling benar saran Kak Rafa tadi, aku harus bekerja sekalian bawa Mas Rival keluar biar nggak melamun terus di rumah yang ada ketularan Mama nanti,' gumam Revalina dalam hati.
__ADS_1
Perlahan tungkainya mulai bergerak mendekati Rival sembari perlahan menarik nafasnya dalam-dalam, ia coba mengumpulkannya keberanian untuk membicarakan hal ini dengan sang suami.
"Mas," panggil Revalina dengan nada lembutnya.
"Iya," sahut Rival gelagapan, terkejut melihat Revalina.
"Boleh aku bicara?" tanya Revalina perlahan duduk di atas ranjang, menghadap ke arahnya.
"Tentu boleh," jawab Rival dengan wajah kebingungan.
Mendengar jawaban Rival lantas membuat tarikan nafas Revalina semakin dalam, dalam diri ia sangat takut menyinggung perasaan Rival, namun di satu sisi saat ini mereka sangat membutuhkan dana yang banyak untuk kehidupan sehari-hari dan pengobatan Rival yang terus berjalan, semua ini tak bisa dibiarkan.
"Mau bicara apa, Reva?" tanya Rival dengan kedua mata yang hanya tertuju pada Revalina.
"Em, aku mau bekerja," jawab Revalina lirih, takut.
Seketika gestur tubuh Rival mulai bereaksi, memundurkan tubuhnya sampai tersandar dengan terus menatap Revalina.
"Maaf Mas, tapi kita perlu, jadi aku rasa aku harus bekerja, ini untuk kita," sambung Revalina makin takut.
"Entahlah. Kenapa tiba- tiba aku tak bisa membayangkan kamu bekerja sementara mengurusku dan rumah ini saja kau terpontang-panting, kelelahan. Aku berubah pikiran, apakah tunggu aku sembuh saja, aku akan kembali berkerja," ucap Rival menatap kecewa.
"Tapi ini sudah pernah kita bahas, Mas. Aku bisa bagi waktu, dan Rafa tadi sudah sampaikan kalau dia bakal bantu bilang ke orang SDM supaya kasih izin aku bawa kamu ke kantor. Aku bisa berkerja sambil jaga kamu Mas," jelas Revalina dengan sejelas-jelasnya.
"Terus Mama?" tanya Rival kembali.
"Mama kan ada Mbak Sarah, dia setiap pagi sampai sore selalu kesini. Lagi pun Mama cuma mau diurus sama Mbak Sarah," jawab Revalina. "Boleh ya Mas? Kita sudah pernah membicarakan ini dan kuharap kamu nggak berubah pikiran, Mas." rengek Revalina meminta persetujuan dari Rival.
"Nanti aku pikir lagi, saat ini aku mendadak berubah pikiran ini," sahut Rival mengulang kalimatnya.
"Mas, nggak bisa harus di pikirkan sekarang juga," rengek Revalina kembali.
Rival langsung menoleh, menatap Revalina dengan kedua bola matanya yang membesar.
"Bisa-bisanya minta jawaban sekarang," gerutu Rival kesal.
Revalina makin ketakutan melihat reaksi Rival saat ini, sungguh apa yang terjadi sekarang tak sesuai dengan prediksinya. Kini semua terasa membingungkan, bingung dengan kalimat apa yang akan ia keluarkan dari mulutnya guna memadamkan kekesalan Rival.
Padahal Rival sudah setuju dulu, tapi pikirannya memang terombang ambing. Mungkin efek kondisinya yang begini.
"Aku yakin kamu pasti akan kembali berpikir seperti dulu lagi," jelas Revalina dengan bibir manyun lima centimeter.
"Terserah lah, pusing aku," gerutu Rival kembali pada posisi awalnya berbaring memunggungi Revalina.
Melihat Rival yang seperti ini makin membuat Revalina ketakutan, padahal tutur kata dan penjelasannya ia lakukan dengan sangat berhati-hati namun hasilnya tetap nihil.
Revalina mendadak gusar, tak bisa dirinya terus di diamkan. Tahu jika saat-saat seperti ini tak cocok untuk mulutnya beradu debat, hanya rengekannya lah yang bisa menyelamatkan semuanya.
Perlahan tangannya mulai memeluk tubuh Rival dari belakang, saat itu ia tahu Rival masih belum tidur setelah merasakan degup jantungnya yang tak beraturan.
"Mas, aku mohon kali ini saja kasih aku izin," rengek Revalina.
__ADS_1
"Mas, jangan pura-pura tidur aku tahu kamu belum tidur. Ayolah jangan buat aku resah," rengek Revalina kembali.
Namun, agaknya rengekannya tak membuat tembok itu runtuh runtuh justru semakin memperkokoh, kakunya Rival dengan keputusan sepihaknya tak bereaksi apapun lagi ketika Revalina merengek meminta izin darinya.
Malam itu Revalina berhenti merengek, ia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di samping Rival sembari memikirkan apa yang ia lakukan setelah mendapat penolakan seperti ini.
***
Keesokan harinya Rival langsung meninggalkan kamar, dia beralih dari ranjang ke kursi roda seorang diri. Dari kamar perlahan berpindah ke kamar Candini. Meninggalkan Revalina yang sedang menyisir rambut.
'Mas, kenapa kita jadi begini,' ucap Revalina dalam hati sedih melihat sikap Rival padanya.
Pagi itu seperti biasa Sarah datang untuk mengurus Candini, dia datang membawa senyum ceritanya sedangkan Revalina membalasnya dengan senyum kepalsuan.
Saat ini mereka tengah berada di dapur, cepat-cepat memasak mengingat kebiasaan Candini yang selalu sarapan pagi-pagi.
"Rival mana Rev?" tanya Sarah sambil celingukan.
"Di kamar Mama," jawab Revalina.
"Oh," sahut Sarah menganggukkan kepalanya.
Keduanya mendadak diam seribu bahasa, sibuk dengan masing-masing. Revalina sibuk memotong sayuran sementara Sarah sibuk menggoreng lauk.
"Nanti siang nggak perlu masak ya, aku sudah pesankan makanan," ujar Sarah memecah keheningan.
"Iya Mbak," sahut Revalina.
"Reva, tahu nggak aku tadi itu sebenarnya hampir nggak bisa kesini gara-gara Yakub minta aku buat di rumah jaga tanaman sampai agak siangan," ujar Sarah mulai bercerita dengan Revalina.
Cerita itu sontak membuat Revalina terkejut, tak paham dengan maksud tujuan Yakub sekaligus tak terbayang jika Sarah benar-benar tak bisa datang kesini.
"Ada apa memangnya sama tanaman rumah Mbak?" tanya Revalina kebingungan.
"Jadi kemarin itu Tamanan hias kesayangan dia rusak gara-gara kucing tetangga, ya cuma rusak beberapa saja tapi Yakub sudah marah-marah nggak jelas sampai aku disuruh pantau berkali-kali dan puncaknya pagi ini aku disuruh pelototin itu tanaman sampai siang," jawab Sarah dengan nada kesal.
"Terus Mbak gimana, nurut?" tanya Revalina kembali.
"Huh," Sarah mulai menghembuskan nafas beratnya sebelum kembali menjawab pertanyaan Revalina.
"Ya mau giman lagi, sebagai seorang istri aku harus nurut apa kata suami. Aku pelototin itu tanaman dari subuh tadi, akhirnya aku nggak masak order makanan deh," jawab Sarah.
"Untungnya tadi itu pagi-pagi sekali aku lihat kucing yang sering obrak-abrik tanaman itu pergi dibawa majikannya entah kemana jadi aku bisa kesini," sambung Sarah.
Mendengar cerita Sarah lantas Revalina membandingkan dirinya dengan Kakak iparnya ini yang jauh berbeda.
Dari sini perlahan ia belajar untuk bisa mendengarkan apa kata suami dan tidak membantahnya sedikitpun meski di satu sisi langkahnya benar akan tetapi tak berkah jika tak mendapatkan ridho dari suami.
Revalina kembali merenungi apa yang terjadi semalam, ia juga merenungi sikapnya selama ini para Rival hingga pada akhirnya sekarang Revalina sudah legowo jika harus melepas mimpinya.
"Reva," panggil Rival dari arah depan pintu kamar Candini.
__ADS_1