
Cazim memasuki bangunan tingkat tinggi, disebut sebagai kantor kerjanya Diatma. Cazim mengenal persis kantor itu, ia pernah menangani kasus pembunuhan di kantor itu, yang membuatnya bertemu dengan Diatma dan sempat diakui sebagai anak.
Cazim mengenakan masker ketika mendekati satpam yamg berjaga di dekat pintu. Ia terpaksa mengenakan masker karena takut akan ada yang mengenalnya sebagai buronan dan malah membuat kasusnya menjadi rumit.
"Maaf, silakan buka masker dan tekan tombol di samping, Pak!" Satpam menunjuk tombol biru.
Ya ampun, ribet sekali untuk masuk ke wilayah ini. Cazim sebelumnya masuk mengenakan seragam sehingga tidak melakukan sederet aktifitas seperti itu. Terpaksa Cazim menurunkan masker ke dagu dan menempelkan jempol ke tombol yang ditunjuk. Satpam lalu mempersilakan masuk.
Cazim melenggang masuk sambil memasang kembali masker di wajahnya. Ia sengaja pergi sendiri tanpa membawa Chesy bersamanya. Pagi-pagi sekali ia meninggalkan rumah Fatih, lalu bergegas menuju ke kantor itu, bahkan Chesy pun tidak tahu ketika ia meninggalkan rumah.
"Permisi, mau bertemu dengan Pak Diatma. Apakah beliau ada di kantor?" tanya Cazim pada resepsionis yang bertugas. Ia Sebenarnya tidak yakin usahanya itu akan berhasil, Diatma adalah owner perusahaan besar yang tentunya sulit ditemui. Bukan orang sembarangan yang bisa menemuinya. Tapi ini akan dia coba.
"Pak Diatma baru saja masuk sekitar tiga menit yang lalu," jawab resepsionis. "Ada perlu apa, Pak?"
"Aku mau bertemu dengannya. Katakan Cazim ingin bertemu sekarang."
"Maaf, Pak. Tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan beliau. Bahkan harus membuat janji terlebih dahulu untuk bisa bertemu dengan beliau."
Cazim ingin sekali menggebrak meja. Tapi tidak mungkin itu dia lakukan. Sesulit ini untuk bertemu Diatma. Kenapa harus Diatma?
Jika saja ia menyebut nama panjangnya alias nama yang dikenal sebagai polisi, pasti Diatma akan langsung mengenalnya, namun sama saja ia membuat orang umum akan mengenalnya dan malah melaporkan keberadaannya ke pihak yang berwajib.
__ADS_1
"Bisakah aku minta nomer hape nya?" tanya Cazim.
"Tidak, Pak. Saya sendiri tidak memiliki nomer ponsel milik beliau."
"Baiklah, sampaikan pesan kepadanya, bahwa anaknya menunggunya di bawah," ucap Cazim lagi.
"Maaf, pesan ini tidak bisa saya sampaikan. Lebih baik bapak membuat pesan di sini." Resepsionis menarik secarik kertas hingga terlepas dari buku kecil dan menyerahkan pena.
Cazim menuliskan sepotong kalimat di kertas itu.
.
.
Cazim melipat kertas itu dan menyerahkannya kepada resepsionis. "Tolong sampaikan ke Pak Diatma. Dia mengenalku."
"Baik. Nanti akan saya serahkan kepada OB supaya membawanya kepada sekretaris Pak Diatma," jawab resepsionis.
Cazim kemudian melenggang pergi. Ia langsung menuju ke restoran tempatnya mengadakan perjanjian dengan Diatma. Ia memesan jus terong belanda. Sambil menunggu, Cazim iseng mengecek pesan masuk. Ada notifikasi pesan masuk dari sadapan, yang pastinya pesan itu masuk ke hp Chesy.
.
__ADS_1
'Aku tidak habis pikir, ternyata Cazim yang selama ini diakui sebagai ustad itu adalah penjahat. Dia mafia. Sebaiknya memang kamu melepaskan Cazim, berpisah saja darinya.'
.
Ah, sialan. Lagi-lagi Yakub bermain api. Membuat dada Cazim menjadi panas terbakar api cemburu. Meski Chesy sudah jelas menjadi miliknya, tetal saja ia merasa panas saat istrinya didekati pria lain begini.
"Sepertinya dia perlu diberi pelajaran! Tapi dari mana dia tahu soal aku?" Cazim bertanya-tanya sendiri.
Ah, kacau jika orang-orang julid sepertinya ikut campur dalam kasus ini. Bisa-bisa kasusnya dikawal oleh netizen, dan akan sulit baginya jika media dan wartawan pun ikut campur.
Satu jam lebih Cazim menunggu, namun tidak ada tanda-tanda Diatma muncul. Sudah dua gelas jus yang dia habiskan di meja itu. Perutnya pun jadi begah.
"Ya ampun, apa yang dikerjakan resepsionis bahlul itu? Apakah pesanku tidak sampai? Ah, konyol sekali. Lihatlah aku menjadi seperti orang bodoh. Sial!" Cazim menyapu sebagian permukaan meja dengan lengannya kesal. Ia lalu bangkit bangun. Beberapa orang berseragam polisi sudah berdiri ketika ia balik badan.
"Selamat pagi saudara Azzam Cand Cazim! Kami Membawa surat penangkapan untuk anda."
Sepasang mata mengawasi kejadian itu dari jauh.
***
Bersambung
__ADS_1