
Akhirnya Akram menyetujui ajakan Revalina. Tetap di posisi yang sama mereka mulai membahas langkah selanjutnya, tak ada satu detik pun Revalina tak merasakan sesak di dadanya ia sangat keberatan untuk melakukan langkah itu namun ia enggan diberi pilihan antara Rajani atau Rival.
Terpaksa di setiap kata yang keluar dari mulut Akram, ia menyetujui semua dengan harapan ini dapat segera selesai.
"Baik Akram, aku setuju nanti kita bicarakan lagi. Sekarang aku mau bimbingan dulu," ucap Revalina, berundur pergi meninggalkan Akram.
Hari ini Revalina sukses mendapatkan tanda tangan dari Dosen pembimbing, tak disangka hasil pekerjaan Rival kembali membuahkan hasil yang manis. Tanpa ada lagi revisi, skripsinya langsung lolos untuk maju sidang.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga, tinggal tunggu sidang setelah itu wisuda. Umi akan sangat senang melihatku pakai baju toga," gumam Revalina.
Hari demi hari berlalu Revalina mampu menyelesaikan sidang yang katanya adalah ujian akhir paling mematikan nyatanya kini mampu ia tuntaskan dengan tanpa ada drama, lagi-lagi ini karena Rival yang membantu menghafalkan beberapa hal penting yang akan di tanyakan ketika sidang dan beberapa hal yang harus dipaparkan secara jelas.
Di ujung lorong kampus Rival tersenyum bahagia melihat Revalina keluar dari ruang sidang memeluk teman-temannya, beberapa detik ia membalas tatapan Rival disertai dengan senyuman pula sebagai tanda terimakasih.
'Mungkin kau memang menyakiti Rajani, tapi kau memiliki segelintir jada bagiku,' ucap Revalina dalam hati.
****
"Umiiii," panggil Revalina keluar kamar sembari membawa kebaya merah.
"Teriak-teriak ada apa Reva?" tanya Chesy berlari kecil dari arah dapur menghampirinya.
Revalina langsung menunjukkan kebaya yang di pesannya bersama Chesy di salah satu butik langganan.
"Kenapa dengan kebaya mu?" tanya Chesy menatap bingung.
"Kebesaran Umi, aku jadi seperti pakai karung," jawab Revalina merengek kesal.
Chesy makin kebingungan, mengolak-alik kebaya itu sampai melekatkan kebaya itu ke tubuh Revalina. Menatap serius pada lekuk pinggang dan lengan kebaya itu.
"Coba kau pakai, Umi mau lihat," pinta Chesy sambil mendorong Revalina ke dalam kamar.
Terpaksa untuk membuktikan aduannya Revalina kembali memakai kebaya itu, lalu memperlihatkan seluruhnya kebesaran terutama pada bagian perut.
"Ya ampun Reva, baru pesan kemarin sudah begini, ini pasti kamu coba-coba diet sudah kurus masih saja diet," gerutu Chesy kesal.
__ADS_1
Revalina menggeleng cepat, ia tak merasa melakukan diet akhir-akhir ini. Rasanya seperti bisanya, jajan sesuka hati apalagi setelah sidang selesai.
"Enggak Umi, aku nggak diet," jawab Revalina.
"Kalau nggak diet terus apa ini, bisa-bisanya kebesaran kebaya mu jadi terpaksa balik ke butik buat kecilkan," sahut Chesy terus kesal.
"Tukang jahit sebelah saja Umi, kan sama saja lagian cuma kecilkan saja," Sarah Revalina ke tempat yang dekat dan murah dengan harapan tak ada lagi gerutuan semacam ini.
"Jangan sembarangan ini kebaya bagus, kemarin saja Umi jahit rok disana bukannya bener malah tak karu-karuan," tolak Chesy.
"Astagfirullah, kenapa jadi meroasting tukang jahit sebelah," Chesy tersadar dengan tiba-tiba akan ucapannya.
"Ya sudah, habis ini kita ke butik suruh kecilkan kebaya mu ini. Awas saja kalau pas hari H kekecilan lagi," ucap Chesy tak lupa menyisipkan ancamannya.
Revalina pun mengangguk pasrah.
********
Tibalah hari Revalina wisuda, ia membawa Chesy dan Rafa dal acara pentingnya itu. Melenggang di dalam gedung melintasi kursi-kursi keluarga mahasiswa yang sudah di penuhi orang tua masing-masingnya, di barisan depan nampak Rival menatapnya tak berkedip sementara Yakub memberi kode padanya untuk membawa Chesy dan Rafa ke sana. Ia pun mengedip tanda setuju.
"Umi di sini ya, nanti kalau giliran aku naik ke atas panggung harus teriak yang heboh," Revalina mulai membreafing Uminya sendiri.
"Jangan mau Mi, dia nggak patut dibanggakan," larang Rafa sambil menahan senyum.
"Kurang asem ya," gerutu Revalina kesal.
Chesy hanya menoleh wajah Revalina dan Rafa yang ada di sisi kanan dan kirinya, nampak bingung dengan kemauan kedua anak yang berbeda.
"Sudah jangan berdebat, ingat ini hari bahagia," Chesy mulai memperingatkan keduanya.
Mendengar hal itu perlahan Revalina mengangkat dagunya, tepat ketika ia mengangkat dagu tak sengaja melihat Rival juga menatapnya tanpa berkedip dan ia baru sadar jika sejak tadi dipandangi.
"Salim dulu sama calon suami, dia rela jauh-jauh datang kesini buat kamu," ledek Rafa mengetahui kedua mata calon pengantin sudah tertaut.
"Dia kesini kan buat Dalsa kali bukan buat aku, jangan aneh-aneh ya Kak," sahut Revalina.
__ADS_1
"Buat kamu juga," jelas Rival lirih lembut.
"Tuh," Rafa kembali meledek.
Enggan menanggapi ledekan Rafa, Revalina berniat segera pergi dari sana dengan ending yang bagus.
"Hallo Kak Yakub, nanti jangan lupa rekam aku," sapa Revalina tersenyum ke arah Kakak kandung Rival.
"Siap," sahut Yakub dengan cepat.
Saat tungkai mulai bergerak mundur tak sengaja netra ini mihat Rafa menyikut lengan Rival.
"Tuh, itu kode buat kamu. Rekam dia sampai akhir terus posting sekalian, caption-nya happy graduation sayang hahahaha," ucap Rafa pada Rival.
Rival hanya tersenyum sambil mengangguk pasrah, sementara Revalina sudah semakin tidak betah berlama-lama di sana. Dengan cepat ia berundur pergi segera menuju ke barisan yang ada di sebelah panggung.
Acara wisuda berlangsung dengan tawa bahagia sekaligus haru-buru jadi satu. Semua berakhir pada pelukan kedua orang tua namun Revalina hanya bisa memeluk Chesy, disusul usapan lembut mendarat di kepalanya yang berasal dari tangan Rafa.
"Terimakasih Umi, karena Umi Reva ada di sini. Kelulusan ini Reva persembahkan untuk Umi," ucap Revalina dalam dekapan Chesy.
"Hiks, terimakasih nak," sahut Chesy terisak tangis.
Setelah itu entah bagaimana ceritanya ia dibawa menuju ke suatu tempat beriringan dengan mobil Rival di depan, lagi-lagi ia hanya pasrah dan saat mengetahui dirinya dibawa ke resto hanya bisa mengelus dada mengingat Rival yang masih membawa Dalsa.
'Apa lagi kalau bukan bahas pernikahan yang sudah tinggal menghitung hari, risih aku kalau ada Dalsa saat bahas hal ini,' gumam Revalina dalam hati.
"Kita rayakan wisuda mu di sini, makan sepuasnya biar Umi yang bayar," ucap Rafa dengan bangganya.
"Hih, bukannya kamu yang bayar malah Umi," gerutu Revalina sambil melepas sealt belt.
Bergegas keluar dari dalam mobil. Tiba-tiba matanya menatap kaku wujud restoran yang dihampiri, begitu mewah yang pasti makanannya pun akan mahal juga. Jadi teringat ucapan Rival kemarin di meja mi ayam pinggir jalan.
'Aku jadi khawatir Rival nanti tak enak dan memaksa bayar tagihan, dia suka lupa diri kalau sudah begini,' ucap Revalina mulai menebak apa yang terjadi ke depan.
Bersambung
__ADS_1