Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Ditangkap


__ADS_3

POV Dalsa


Malam itu setelah malam malam bersama di dalam kamar kos nya Dalsa mulai merasakan tak enak pada perutnya, duduk pun terasa sangat tak nyaman.


"Ma, aku tinggal ke toilet sebentar ya," pamit Dalsa pada Candini.


"Iya," sahut Candini menatap cemas.


Dengan cepat Dalsa keluar dari kamar menuju ke toilet umum yang terletak di ujung lorong kos-kosan, ia coba mengecek dan ternyata ia tengah datang bulan. Cepat-cepat ia pun keluar dari toilet kumuh itu, termenung beberapa detik mencoba mengingat stok pembalut di lemarinya.


"Ah, sial kenapa kalau sudah butuh begini pakai habis segala untung tadi cuma keluar sedikit jadi aku bisa beli keluar," gerutu Dalsa dengan nada kesal.


Dalsa pun bergegas kembali ke kamar kos nya, setibanya di sana Candini menatapnya dengan tatapan cemas sama seperti tadi ketika ia pamit keluar kamar.


"Ada apa Nak, perutnya sakit?" tanya Candini dengan nada lembut.


"Enggak Ma, aku datang bulan," jawab Dalsa sembari memegangi perutnya yang kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Perlahan Dalsa pun duduk, ia tak mampu berdiri terlalu lama menanggung rasa sakit di perutnya yang makin lama semakin terasa sakit.


"Terus kenapa duduk, memangnya sudah ganti pakai pembalut?" tanya Candini sembari menaikkan sebelah alisnya.


Seketika Dalsa menggeleng lemas "pembalut ku habis, aku mau beli habis ini tapi tunggu perut ku nggak sakit lagi."


"Kan ada Mama, bisa minta tolong Mama kan," ucap Candini bergegas beranjak dari duduknya.


"Kamu mau yang merk apa dan ukuran berapa?" tanya Candini langsung to the point.


"Yang merk L, ukuran 30. Tapi aku juga pengen beli coklat Ma aku yang beli saja Mama di sini," jawab Dalsa mulai beranjak secara perlahan.


Meski begitu perutnya tetap saja sakit, tepaksa ia pun menekan perut itu dalam posisi berdiri dengan sedikit membungkuk.


"Tuh, sakit begitu masih saja kamu ini mau beli sendiri," gerutu Candini kesal.


Setelah melalui perdebatan singkat akhirnya mereka sama-sama pergi ke mini market, namun kali ini Dalsa memilih mini market terdekat agar tak darahnya sekarang tak meleber kemana-mana.


"Mama biasanya parkir mobil di mana?" tanya Dalsa penasaran sebab sepanjang jalan menuju ke mini market ia tak menemukan mobil Candini.


"Di parkiran taman dekat sini," jawab Candini sembari tersenyum tipis.


Reflek Dalsa melongo mendengar jawaban Candini, tak menyangka akan setotalitas itu dalam menjaganya agar tetap aman di kos tanpa orang lain tahu.


"Ya ampun Ma, itu kan jauh sekali. Pasti Mama setiap hari capek harus jalan kaki jauh mana Mama selalu bawa banyak belanjaan," ucap Dalsa menatap sedih.


"Enggak, Mama nggak capek. Orang mau ketemu anaknya masa capek," sahut Candini langsung merangkul pindah Dalsa.


Kedua mata Dalsa mulai berkaca-kaca, setelah sekian lama mendengar kalimat "kasih sayang Ibu sepanjang masa," kini ia baru bisa mengerti arti dari kalimat itu sesungguhnya.


Tiba di mini market Dalsa membeli satu pack pembalut dengan satu coklat batang favoritnya, meski uang saku yang diberi Candini masih banyak namun Candini tetap membayar belanjaan Dalsa.


"Terimakasih Ma," ucap Dalsa sembari tersenyum ke arah Candini.


"Sama-sama Nak," sahut Candini membalas senyuman itu.


"Lebih baik kau ke toilet sekarang, takutnya nanti malah makin bocor. Nanti di kos ganti lagi," ucap saran Candini.


Dalsa terdiam sejenak memikirkan dan membandingkan mas yang lebih baik namun tak lama ia telah menemukan yang terbaik untuk dirinya.


"Okelah," sahut Dalsa bergegas menuju ke toilet mini market yang ada di belakang.


Tak lama Dalsa telah selesai mengenakan pembalut, ia pun bergegas menghampiri Candini yang tengah menunggunya di teras mini market itu.


"Ayo Ma, kita balik," ajak Dalsa.


Tak kunjung menyahut ajakannya, Candini justru melongo melihat ke salah satu titik arah dan tak lama tangan kanannya menghalangi Dalsa untuk melangkah maju.


"Tunggu dulu," ucap Candini dengan nafas yang tiba-tiba terengah-engah.


Melihatnya seperti ini Dalsa mendadak panik meski tak tahu apa yang membuat Candini seperti ini.


"Ada apa Ma?" tanya Dalsa.


"Sepetinya itu mobil Kakak mu, Yakub," jawab Candini sembari menunjuk ke arah jalanan raya.


Sontak kedua mata Dalsa terbelalak mendengar hal itu, dengan cepat kepalanya berputar ke arah yang ditunjuk Candini dan betapa terkejutnya ia melihat mobil itu kini tengah berbelok ke arahnya.


"Mati aku," ucap Dalsa menelan salivanya dengan kasar.


"Dia kesini Dalsa dia kesini," ucap Candini sangat panik.


"Mama gimana ini?" tanya Dalsa lebih panik lagi.


"Kabur Dalsa kabur!" seru Candini sembari menggenggam kedua tangan Dalsa.


Panik setengah mati yang Dalsa rasakan, otaknya tiba-tiba tak bisa berkerja melihat sekeliling mini market itu di kelilingi tembok tinggi sementara mobil Yakub sudah memasuki halaman mini market membuatnya tak bisa berpikir bagaimana cara untuk bisa kabur sekarang.


"Kemana Ma, kabur kemana?" tanya Dalsa semakin panik.


Candini tak kalah bingung, melirik kesana kemari tak bisa menjawab pertanyaan Dalsa.


"Aku masuk saja lah," ucap Dalsa langsung berlari masuk ke dalam mini market meninggal Candini di sana.


Ia terus berlari dengan sangat terburu-buru, tak ada pilihan lain selain masuk ke dalam toilet dan mengunci diri di sana. 


Degup jantung semakin tak karuan, berada di dalam toilet mini market dengan nafas terengah-engah membuat nafasnya semakin sesak.


"Ya Tuhan aku mohon selamatkan aku, aku nggak mau di penjara," ucap Dalsa dalam hati.


Tak lama ia baru tersadar akan ucapannya.

__ADS_1


"Bodoh, di dalam toilet mana boleh sebut Tuhan," ucap Dalsa mencela dirinya sendiri.


Tok tok tok tok tok.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, sontak Daksa berjingkat dan hampir tertelungkup ke dalam closed. 


"Dalsa, aku tahu kau ada di dalam. Cepat keluar!" perintah Yakub dengan suara garangnya.


Sontak kedua mata Dalsa terbelalak dan hampir saja lepas menggelinding di lantai toilet mini market itu, apa yang ditakutinya kini benar-benar terjadi.


"Harus berapa kali Mama bilang, Mama itu di sini sendiri nggak ada Dalsa," ucap Candini.


"Nggak aku nggak percaya, aku lihat dengan mata kepala ku sendiri kalau tadi Mama sama Dalsa," sahut Yakub kekeh.


"Dalsa keluar, atau aku dobrak pintu ini," teriak Yakub semakin keras.


Di dalam toilet Dalsa terus mondar-mandir, gusar mendengar ucapan mereka di luar pintu ini termasuk bentakan Yakub yang membuat buku kuduknya seketika merinding.


"Yakub jangan, di dalam itu bukan Dalsa," teriak Candini.


"Aku dobrak ya Dalsa, satu dua tiga," ucap Yakub menghitung timing sebelum tubuhnya mendobrak pintu itu.


Degk degk degk brakkk.


Pintu toilet itu langsung berhasil terdobrak dan juga berhasil melukai kening Dalsa, seketika kepalanya jadi terasa berat dan pandangan kabut. Ia tak bisa melihat jelas, namun samar-samar terlihat satu orang laki-laki masuk ke dalam toilet sempit ini.


"Yakub," teriak Candini histeris.


"Ikut aku ke kantor polisi," ucap Yakub mulai menggeret Dalsa keluar dari toilet mini market itu.


Beberapa detik setelah keluar dari toilet kepala Dalsa serasa semakin pusing dan berat, pandangannya semakin kabur dan makin tak terlihat apapun.


Tiba-tiba Dalsa membuka mata sudah berada di atas ranjang di dalam ruangan yang nampak begitu asing, ia berpikir tadi adalah mimpi namun bingung dengan ruangan yang tak ia kenali.


"Dalsa, ini Mama Nak. Mana yang sakit?" tanya Candini mengusap kepala Dalsa.


Perlahan netra Dalsa melirik ke arah kanan, tepat ke sumber suara yang kali ini tak asing di telinganya.


"Ma, ini aku si kos ya?" tanya Dalsa berharap dirinya masih ada di kos bersama Candini.


Candini langsung mengusap seluruh air matanya dan juga mengusap punggung tangan Dalsa secara terus menerus.


"Kamu ada di rumah sakit Nak, tadi kening mu berdarah terkena pintu toilet mini market," jawab Candini.


Seketika Dalsa langsung menghembuskan nafas beratnya, tak disangka kejadian itu adalah kejadian nyata. Tak lama pandangannya mulai beralih ke seluruh sudut ruangan yang di sana, ia terkejut setengah mati melihat dua polisi tengah berdiri di samping Yakub dan Rival.


"Ma aku nggak mau di penjara Ma, aku nggak mau," teriak histeris Dalsa seketika beranjak dan dari baringnya dan langsung memeluk erat tubuh Candini.


"Enggak Nak, nggak akan Mama biarkan kamu di penjara," sahut Candini dalam pelukan Dalsa.


Hari ini adalah hari terburuknya, berharap kejadian tadi hanya sebatas mimpi buruk tapi ternyata semua adalah nyata yang harus ia hadapi. Sekarang dirinya begitu lemah tak berdaya tak bisa lagi berpikir untuk kabur lagi.


"Justru karena aku sayang, aku mau kasih kamu pelajaran supaya jadi orang yang benar. Kalau aku bicarakan kamu terus jadi buronan dan nggak tanggung jawab itu baru namanya nggak sayang," sahut Yakub dengan nada tinggi.


"Kak jaga nada bicara mu," tegur Rival.


"Biarkan saja, biar dia paham. Kalau di kasih tutur kata lembut yang ada nggak masuk di telinganya," sahut Yakub.


"Sabar Nak, ada Mama di sini ada Mama kamu jangan takut," ucap Candini sembari membelai lembut rambut Dalsa.


Tapi semua kalimat Candini hanya sebuah kalimat penenang saja, tak lama polisi-polisi itu menyeret Dalsa keluar dari rumah sakit menuju ke mobil polisi.


"Mama, tolong Dalsa Mama," teriak histeris Dalsa sembari merentangkan satu tangannya ke arah Candini.


Sementara Candini pun juga lebih histeris lagi namun tubuhnya terhalang oleh kedua tangan Yakub yang memeluknya menghalangi langkah Candini ke arah Dalsa.


"Dalsa," teriak Candini meraung di lobi rumah sakit.


Baghhh.


Dalsa di dorong masuk ke dalam mobil polisi.


Di dalam mobil tubuh Dalsa terhimpit oleh dua polisi bertubuh gempal, selama dalam perjalanan kepalanya merasa semakin pusing ia benar-benar sudah tak punya tenaga lagi untuk memberontak.


Tibalah ia di kantor polisi dengan cepat ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan untuk melakukan proses BAP, karena dirinya yang berlaku kooperatif polisi-polisi itu tak lagi berlaku kasar dengannya.


Sekarang ini hanya keajaiban yang mampu menolongnya, sesuai janji Candini ia tak akan masuk ke dalam penjara masih ia pegang teguh.


Berjam-jam lamanya ia melakukan proses BAP hingga datanglah Rafa sebagai pelapor ikut melakukan proses BAP malam itu juga. 


Melihat kedatangannya Dalsa langsung memberikan lirikan tajam ke arah Rafa, ia betul-betul marah dengan Kakak dari iparnya ini yang telah membuat dirinya berada di sini.


'Awas kau, lihat pembalasanku nanti,' ucap Dalsa dalam hati.


"Selamat malam Pak Rafa," sapa Polisi mulai menjabat tangan Rafa.


"Selamat malam Pak," sahut Rafa sembari tersenyum.


"Bisa kita mulai BAP nya?" tanya polisi dengan nafa bicara sopan.


"Bisa, silahkan Pak," jawab Rafa.


Dalsa sedikit iri melihat perlakuan berbeda antara dirinya dengan Rafa, beberapa jam kemudian Revalina dan Rival masuk ke dalam ruang pemeriksaan bergantian dengan Rafa. Perlakuan Polisi tak kalah manisnya pada mereka membuat Dalsa semakin murka.


Setelah berjam-jam lamanya hingga hampir memasuki waktu subuh akhirnya Dalsa selesai dengan proses BAPnya dan langsung menjalani proses tahanan.


"Mama," teriak Dalsa histeris meronta dalam cengkraman dua polisi di kedua sisinya.


"Dalsa," teriak Candini berlari ke arah putri bungsunya.

__ADS_1


"Mama, jangan," cegah Yakub dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Jangan tahan anakku, kalian nggak tahu apa-apa tentang anakku aku yang melahirkan dia aku lebih tahu tentang dia," jerit tangis Candini meronta hendak menyelamatkan Dalsa.


"Mama, aku nggak mau ditahan Ma," rengek Dalsa dengan derai air mata.


"Mohon, untuk keluar dari ruangan. Jangan buat gaduh," ucap polisi bertubuh gempal mulai mengarahkan semua keluar dari ruangan itu.


Tubuh Dalsa terus ditarik mundur menuju ke sel tahanan yang ada di belakang, perlahan netranya tak lagi melihat Candini karena sama-sama di tarik.


*********


POV Revalina


Di luar ruangan semua masih berkumpul, Revalina langsung mendapat pelukan hangat dari Chesy yang nampak khawatir dengan proses BAP tadi.


Jujur selama proses BAP berlangsung, ia merasa seperti membuka luka lama karena harus menceritakannya bagaimana kejadian demi kejadian yang ia ketahui tentang Rajani.


Dalam dekapan Chesy, ia kembali meluapkan tangisannya tanpa malu. Tak lama terasa tangan Rafa mengusap kepalanya dengan lembut.


"Ini semua gara-gara kau," bentak Candini histeris menunjuk muka Rafa.


"Kenapa jadi gara-gara aku Tante?" tanya Rafa dengan berani meninggikan nada bicaranya pada wanita paruh baya ini.


"Gara-gara kau Dalsa jadi dipenjara," jawab Candini tersedu-sedu dalam cengkraman Yakub dan Sarah.


Rafa tersentak, terkejut mendengar jawaban Candini. Berbeda dengan Revalina yang sejak lama tahu sifat mertuanya ini.


"Tante, Dalsa dipenjara itu karena ulahnya sendiri. Aku di sini cuma sebagai Kakak dari korban yang melapor selebihnya itu kuasa polisi mau di masukkan penjara atau ke lubang buaya sekalian," jelas Rafa dengan wajah memerah padam.


"Sudah Ma, jangan makin membuat panas suasana," tegur Yakub masih dengan matanya yang berkaca-kaca.


Sorot mata Candini seketika beralih ke Yakub, menatap putra sulungnya sendiri dengan tatapan yang sangat tajam.


"Apa kau bilang, aku membuat panas suasana?" tanya Candini lirih tajam.


"Apa kau nggak bisa buka matamu, lihat mereka. Mereka sudah jahat sama keluarga kita, nggak cukup sakti Rival tapi Dalsa juga begitu. Reva yang seharusnya masuk penjara," bentak Candini beralih menatap Revalina.


Sontak Revalina terkejut mendengar bentakan Candini, tak disangka ucapan itu akan kembali terucap di kantor polisi dengan posisi seperti ini.


"Kenapa jadi anakku yang kau salahkan?" tanya Chesy dengan nada kesal.


"Buta kau ya, lihat anakku lumpuh begini gara-gara anak sialan itu," jawab Candini menunjuk Rival lalu beralih menunjuk Revalina dengan tajam.


"Sudah Ma, sudah," ucap Sarah lirih berusaha menenangkan Candini.


Suasana semakin memanas, Chesy yang lama bungkam memilih diam dengan kasus ini kini terlihat sekali terpaksa bersuara ketika melihat Revalina disudutkan oleh Candini.


Semua bersuara, hanya Candini seorang diri yang membela Dalsa dan menyalahkan Revalina beserta keluarganya.


Apalagi Rival, sejak tadi hanya diam menunduk entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


'Mas, bicaralah bela aku Mas aku butuh kamu,' ucap Revalina dalam hati.


"Aku nggak terima kalau kamu salahkan anakku, jelas-jelas yang mulai semuanya itu ya anakmu. Anak mu itu sadis sudah bunuh anak ku Rajani, kalau aku tak ingat Tuhan sudah ku balas anak mu sama seperti apa yang dia lakukan ke Rajani," geram Chesy pada Candini.


"Umi," panggil Rafa langsung merangkul Chesy sekaligus Revalina.


Rangkulan Rafa terasa begitu hangat, dia sudah seperti tameng yang siap melindungi keluarganya. Semenjak Ayah meninggal memang Rafa mengambil alih peran sebagai kepala keluarga terbukti jelas di hari ini Rafa begitu melindunginya juga Chesy.


"Kurang ajar kau ya," teriak histeris Candini, memberontak hebat ingin menyerang Chesy.


Semuanya sigap menarik dua ibu-ibu itu agar tak terjadi perkelahian, malam itu sungguh malam yang buruk. Beberapa saat kemudian mereka pulang setelah diusir oleh polisi karena sudah berbuat gaduh di kantor polisi.


Candini pulang satu mobil bersama dengan anak dan menantunya kecuali Revalina yang terlebih dahulu ditarik Chesy menuju mobilnya.


Lagi-lagi Revalina kembali melirik ke arah Rival yang kini juga tengah meliriknya.


'Mas, jaga diri baik-baik,' ucap Revalina dalam hati berharap Rival mendengar suara hatinya.


"Ayo Reva, masuk!" perintah Chesy.


Dengan cepat Revalina pun masuk ke dalam mobil, duduk do bagian belakang sementara Chesy duduk di depan menemani Rafa yang memegang kemudi mobil itu.


"Cepat Rafa, kita pergi dari sini," ucap Chesy dengan nada kesal.


"Iya Ma," sahut Rafa.


Perlahan mobil mulai melaju dengan kecepatan rendah keluar dari kawasan kantor polisi, tiba pada gapura yang ada di depan kedua mobil itu berbelok dengan arah yang berbeda.


Tak lepas kedua mata Revalina memandangi mobil Yakub yang di dalamnya terdapat sang suami yang semenjak tadi terdiam, mulutnya hanya terbuka ketika proses BAP.


'Terimakasih Mas, kamu sudah mau kooperatif mau memberi keterangan dengan sejelas-jelasnya pada polisi. Sungguh aku sangat bangga padamu, tapi kenapa  ketika Mama marah padaku kau tak membela ku, kenapa kau tak mau bersuara sama sekali,' ucap Revalina dalam hati.


Saat ini ia merasa sepeti dipisahkan dengan separuh jiwanya dengan paksaan keadaan. Ia tak bisa menyalahkan kemarahan Chesy pada Candini, namun menyalahkan Candini ia tak mampu.


"Reva, kau jangan injakkan kaki mu si rumah nenek lampir itu. Umi nggak rela anak Umi di marah-marahi orang seperti dia, sakit hati Umi lihat kamu dibentak seperti tadi," ujar Chesy.


"Tapi Umi," sahut Revalina hendak membantah ucapan Chesy, namun terpaksa terhenti.


"Nggak ada tapi-tapi, kalau Rival mau tetap bersama kamu berarti dia harus mau keluar dari neraka itu," ucap Chesy lebih keras lagi.


Revalina paham dengan neraka yang dimaksud Chesy adalah rumah Candini, ia hanya bisa diam sekarang ini tak mungkin membantah aturannya sebab sadar seorang Ibu tak akan pernah mau melihat hidup anaknya menderita.


Di tengah perjalanan tiba-tiba Chesy meminta sekarang juga berbalik arah ke rumah Candini, bukan untuk berperang kembali melainkan meminta Revalina mengambil baju-bajunya.


"Mi, aku nggak mau Mi," rengek Revalina semakin tak siap dengan keadaan ini.


"Mau nggak mau kamu harus tetap mau," sahut Chesy dengan tegas.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2