Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kambing


__ADS_3

Joseph masih sibuk menata nafasnya yang masih terengah-engah, jeda beberapa menit itu membuat Revalina over thinking dan lagi-lagi mengarah ke Dalsa.


"Katanya mau melakukan penjemputan, tapi aku tadi bilang kalau kau lagi keluar dan nggak tahu kemana. Aku panik Rev," ujar Joseph dengan kedua matanya yang mulai membesar.


Mendengar aduan Joseph seketika dadanya terasa sangat sesak, amarah mulai bergejolak rasanya ingin sekali melupakan amarahnya saat ini juga.


"Penjemputan, penjemputan atas dasar apa Pak?" tanya Revalina kembali, masih tak jelas dengan hal ini.


Tiba-tiba Joseph celingukan kesana kemari, entah apa yang sedang dicarinya.


"Reva, sepetinya kita perlu ke ruangan mu," ucap Joseph.


Sadar bahwa apa yang akan dijawab Joseph terlalu tabuh untuk dikatakan di luar, ia paham jika Joseph takut ada yang lain mendengar hal ini meskipun terlihat jelas ruangan itu tak ada satupun orang di luar ruangan. Kini Revalina mulai masuk ke dalam ruangannya mengajak Joseph.


Tiba di dalam ruangan, Joseph kembali melanjutkan ucapannya sembari mengeluarkan selembar surat dari dalam saku jasnya.


"Aku dititipkan surat penangkapan, nanti sore katanya mau kesini lagi," jawab Joseph atas pertanyaan Revalina.


Ia pun segera menyodorkan selembar surat itu ke arah Revalina, sedangkan Revalina sendiri tanpa basa-basi langsung menerima surat tersebut.


"Penasaran aku, kenapa aku mau ditangkap," ucap Revalina dengan nada tinggi.


Dibukalah surat yang ada di balik amplop, di dalamnya terdapat surat dari polres kota yang berisi izin penangkapan berikut dengan dugaan yang tersemat pada dirinya.


"Kambing," umpat Revalina tak tertahankan, ia tak bisa mengontrol mulutnya sesat setelah membaca surat penangkapan tersebut.


Sontak Joseph terkejut mendengar umpatan Revalina sampai tubuhnya tersentak dengan kedua mata yang makin terbelalak.


Klekkk.


Tiba-tiba di waktu yang sangat tidak tepat ada seseorang di balik pintu masuk secara mengejutkan tanpa ketukan pintu.


Setelah dilihatnya dengan seksama ternyata orang itu adalah Rafa, masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan mata memerah.


"Reva, sepertinya aku masih ada kerjaan aku tinggal dulu ya. Kau kalau ada perlu bantuan panggil aku saja," pamit Joseph terburu-buru pergi dari ruangan Revalina.


Kini tinggal Revalina dan Rafa yang berada di dalam ruangan tersebut, dari tatapan matanya terlihat seperti mengetahui apa yang terjadi sekarang padanya.


"Kak, Kakak tahu ini?" tanya Revalina sembari mengangkat surat penangkapan itu dengan tangan yang mulai gemetar.


"Tahu," jawab Rafa lirih sedih.


"Hari ini Dalsa nggak cuma seret Akram tapi juga seret aku atas dugaan perencanaan pembunuhan pada Rival," ujar Revalina dengan air matanya yang seketika tumpah.


Tak hanya Revalina yang menangis, saat ini mata Rafa nampak berkaca-kaca. Perlahan Rafa mulai memberi pelukan padanya, memberi bahunya untuk menumpahkan air mata.


"Aku benci dengannya, aku sangat benci," ucap Revalina kesal.


"Serahkan dirimu ke polisi sekarang, aku akan bawakan pengacara terhebat di negri ini untukmu dan akan aku bawakan Rival untukmu," ujar Rafa dengan nada bicaranya yang begitu tenang.

__ADS_1


Mendengar hal itu Revalina sangat terkejut, ia tak mengira jika Rafa akan memintanya untuk menyerahkan diri sebelum terjadi penjemputan yang kedua pada sore hati nanti.


Sontak Revalina langsung melepaskan pelukannya dengan Rival.


"Aku harus menyerahkan diri?" tanya Revalina mengulangi ucapan Rafa padanya.


"Iya Reva, tunjukkan kalau kamu nggak bersalah," jawab Rafa berusaha meyakinkan sang adik.


"Enggak-enggak, itu nggak mungkin. Aku nggak mungkin memenuhi panggilan gila ini," tolak Revalina sembari menggeleng ketakutan.


Kedua bahu Revalina tiba-tiba terasa tersentak oleh tangan Rafa yang coba menggenggam, lalu buat kaku dengan tatapan Rafa yang dekat dan begitu dalam.


"Ada aku Reva, aku nggak akan tinggalkan kamu. Tenanglah aku berjanji nggak akan membiarkanmu ikut dengan Dalsa," ucap Rafa dengan sungguh-sungguh.


Sekarang ini ia tak bisa berpikir, perasaannya terlanjur kalut memikirkan surat penangkapan ini.


*******


POV Rafa.


Siang itu Rafa langsung mengantar Revalina ke kantor polisi, ia juga sudah menghubungi Rival memberinya kabar bahwa saat ini Revalina tengah memenuhi panggilan polisi akibat pengakuan dari Dalsa, entah hanya sebuah pengakuan atau justru pelaporan sampai Revalina dijemput oleh para polisi.


Selama dalam perjalanan Rafa mencoba untuk menenangkan sang Adik yang terus gusar, kedua kakinya tak berhenti bergerak lali jari-jarinya terus memainkan ujung jahitan jasnya.


'Revalina sedang ketakutan saat ini, semoga saja pengacara ku datang sebelum Reva tiba,' ucap Rafa dalam hati.


Melihat kondisi adiknya yang sepeti ini, sekejap di dalam dadanya terdapat rasa tak terima pada Dalsa dan Candini. Diam-diam ia sudah mengetahui pergerakan mereka tapi untuk yang kali ini sungguh ia tak menyangka polisi datang mencari Revalina dan lebih shock nya lagi mereka datang ingin menjemput sudah seperti penjahat saja padahal ini hanya sebuah kesalahpahaman saja.


"Tenang Reva, kamu nggak akan kenapa-napa," ujar Rafa dengan santainya.


"Itu kalo kata Kakak, kalau kata polisi ya lain lagi," sahut Revalina dengan nada kesal.


Seketika Rafa terdiam mendengar sahutan Revalina, setelah dipikir-pikir ada benarnya juga karena kalimat menenangkan memang hanya sebuah kalimat penenang saja tidak menjamin seutuhnya.


"Kuncinya ada di Rival, kalau dia memaafkan sesudah jelas kamu nggak akan kena pidana," ujar Rafa terus mencari cela untuk membuat Revalina lega.


Tapi tetap saja Revalina tetap resah, apalagi kini kantor polisi itu tinggal beberapa ratus meter lagi.


"Jangan bilang Umi ya Kak, aku takut Umi sedih lagi gara-gara aku," pinta Revalina mengerut sedih.


"Iya," sahut Rafa sembari menghembuskan nafas beratnya.


Ia sudah terlanjur mengiyakan permintaan Revalina dan kini saatnya menyematkan ucapan yang juga adalah janjinya itu di kepalanya agar tak lupa apalagi sampai keceplosan karena ketika polisi masuk ke dalam kantor hal itu akan menjadi trending topik di jagad Maya.


Tak ada pilihan lain selain terus menjaga permasalahan ini meski dirinya yakin Uminya akan mengetahuinya cepat atau lambat.


Tak lama akhirnya mereka tiba di kantor polisi, setelah memarkirkan mobilnya Rafa mulai memutar posisi duduknya ke kanan untuk bisa menatapnya.


"Reva, ingat pesanku kau harus jujur selama proses BAP ini jangan ada yang ditutupi,"pesan Rafa sebelum Revalina menginjakkan kakinya di kantor polisi.

__ADS_1


Revalina langsung mengangguk sedih, tak berani menatap Rafa. Saat itu juga Rafa kembali memeluk adik kesayangan ini memberi kekuatan padanya.


Rafa mengantarkan Revalina tepat di depan ruang pemeriksaan, sesuai dengan instruksi yang tidak berkepentingan dilarang untuk masuk namun secara kebetulan Tuhan bawa seseorang yang paling dibutuhkan saat-saat seperti ini


"Pak Levin," panggil Rafa menyambut hangat sosok pengacara muda dan tampan itu dengan jabatan hangat.


"Pak Rafa," sahut Levin tersenyum-senyum menerima jabatan tangannya sah ternyata.


Dia adalah pengacara dengan usia sepantaran dengan Rafa di tambah rekomendasi dari berbagai pihak tentang keahliannya yang tak adalah di ragukan lagi.


"Reva, kenalkan dia ini pengacara yang aku tunjuk untuk mendampingimu menyelesaikan termasuk dengan baik," ucap Rafa mulai memperkenalkan Revalina.


"Mungkin Dalsa tak sewa pengacara, tapi aku yakn dia pasti akan sewa dan serang baik kamu. Mulai sekarang kamu kalau ada apa-apa langsung hubungi Pak Levin," ucap Rafa kembali.


Revalina hanya terdiam mengangguk pasrah dengan ucapan Rafa, dia terlihat sudah sangat stres dan sepertinya tak akan masuk di telinganya.


'"aku permisi dulu Pak," pamit Levin perlahan mulai masuk ke dalam ruangan pemeriksaan bersamaan dengan Revalina.


Perlahan Revalina mulai masuk ke dan ruang pemeriksaan, di pandanginya mereka dari luar dinding kaca mulai memberikan keterangan Levin datang di saat semua belum di mulai.


Meski merasa adiknya sudah aman tapi ada saja yang yang menyenggol lagi, lagi dan lagi. Meski begitu tak membuat Rafa ambil pusing. Baginya huru-hara yang terjadi di luar begitu menguras energinya semakin terkuras ketika mengetahui bahwa Dalsa sekarang tengah menggunakan jasa lawyer.


"Pantas saja dia berani ubah keterangan, dia bilang kalau Reva dan Akram juga ikut terlibat," gerutu Rafa dengan nada kesal.


"Sialan," umpat Rafa tak tertahankan.


Tak lama Rival dan Yakub datang dengan langkah buru-buru menghadap ke arah Rafa di sana, saat itu juga Rafa langsung menaikkan atensinya, amarah di dalam dada semakin berkobar tatkala melihat Rival. Entah kenapa ia ingin sekali memukulinya sampai kekesalannya habis karena Revalina di bawa-bawa.


"Kak, gimana Reva?" tanya Rival panik.


Terlihat keringat-keringat dingin di kening Rival keluar dengan jumlah yang cukup banyak, begitupun dengan Yakub pun sama.


"Rafa, aku tas nama adikku minta maaf. Aku dan Rival nggak tahu kalau Dalsa akan merubah keterangannya dan menyeret Reva," ujar Yakub pada Rafa dengan nada serius setra tatapan yang begitu meyakinkan.


"Terus, aku di sini itu mau menyalahkannya siapa. Siapa yang bisa datangkan lawyer untuk Dalsa kalau nggak dari keluarganya, kalian pikir aku bodoh," sahut Rafa kembali meradang.


Rival dan Yakub terkejut reflek keduanya saling menatap.satu sama lain.


"Maaf Kak, kalau lawyer itu Mama yang sewa. Kita nggak tahu apa-apa," jelas Rival sembari mengerutkan keningnya.


Rafa terdiam sejenak memikirkan ucapan Rival, sesekali netranya mengedar ke arah Rival dan Yakub coba mencari jawaban dari celah matanya.


'Ada benarnya juga, Candini kan sayang sekali sama Dalsa sampai rela keluar dari rumah juga buat Dalsa dan setahu aku Mereka berdua support masalah ini apalagi Yakub yang begitu kerasnya sanggup menyeret Dalsa seorang diri ke kantor polisi,' gumam Rafa dalam hati.


"Kak, sumpah kita nggak lakukan itu. Kita sama-sama pasrah dengan hukuman Dalsa nantinya karena memang dia pantas mendapatkan itu," ujat Rival dengan berat hati.


Tak bisa di pungkiri ucapan seperti itu sangat amat berat terucap dari mulut seorang saudara, Rafa jadi kembali berpikir tentang hal ini.


"Aku hargai sikap kalian, tapi aku mohon jangan sangkut pautkan Reva, dia nggak tahu apa-apa, dia sendiri juga korban," ujar Rafa pada keduanya.

__ADS_1


"Sekarang Rega di mana?" tanya Rival.


Bersambung


__ADS_2