Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Rayuan


__ADS_3

Tidak ada keputusan akhir dari pembicaraan semalam, tentang tindakan apa yang akan diambil untuk Cazim. 


Chesy masih membungkam, Yunus pun tidak mau banyak bicara karena ia menyerahkan seluruh keputusan kepada Chesy.  


Beberapa minggu, Chesy memilih diam.  Dia tidak bekerja.  Dia mengurung diri di rumah.  Tidak mau bertemu dengan siapa pun.  Ponsel pun dimatikan.  Benar- benar ingin merasakan hari tenang. 


Setelah beberapa minggu berdiam diri untuk berpikir, Chesy akhirnya memutuskan untuk mulai bekerja.  Ia sudah berada di sekolah pagi ini. Ia disibukkan dengan kegiatan pembagian raport anak-anak. Sebenarnya ia tidak ada kepentingan dalam hal ini, namun seluruh TU dan staf kantor diminta untuk berpartisipasi acara tersebut di aula, tempat para wali murid yang dihadirkan dalam pengambilan rapor anak- anak.


"Semangat ya! Jangan sedih!" Sarah menyemangati Chesy yang sedang mengatur seseorang dalam menyusun sound sistem, yang nantinya akan digunakan saat acara berlangsung.


Beberapa orang wali murid sudah mengisi kursi dan duduk manis menunggu acara tiba.


"Aku selalu semangat kok," sahut Chesy dengan senyum kecil.


"Tapi wajah nggak pernah bohong. Kamu murung, Ches." Sarah melirik wajah Chesy dari afah samping.


Sontak Chesy menepuk pipinya sendiri dengan kedua tangannya. 


"Enggak kok. Aku nggak murung. Cuma masam."


Sarah terkekeh. "Aku tau perasaanmu. Pokoknya harus kuat ya. Apa pun keputusanmu, aku dukung kok!"


Chesy mengangguk.


Para wali murid sudah berdatangan. Mereka mengisi kursi yang sudah disediakan. Kursi berjejer rapi memenuhi aula luas itu.


"Ya udah, kita keluar yuk. Wali murid udah pada datang." Sarah melangkah keluar.


Chesy mengikuti.

__ADS_1


Setibanya di teras, Chesy berpapasan dengan Yakub.


"Aku duluan ya!" Sarah berpamitan ketika melihat Yakub menghampiri Chesy.


Chesy mengangguk.


"Chesy, apa kabar?" sapa Yakub.


"Baik."


"Aku ke sini mau mewakili orang tua untuk mengambilkan rapor adikku," jelas Yakub tanpa diminta.


"Oh. Ya sudah, masuklah. Wali murid yang lain sudah menunggu di dalam."


"Tunggu Chesy. Aku mau bicara sebentar." Yakub meyakini bahwa ia akan aman dari pantauan Cazim. Sehingga aman saja saat ia mengajak Chesy mengobrol.


"Bicara saja. Sejak tadi kan sudah bicara."


"Mm... Tolong jangan bahas masalah rumah tanggaku ya. Biar itu jadi urusanku." Chesy mewaspadai, tak ingin ada pengaruh apa pun dari Yakub yang bakalan bisa mencuci otaknya. "Aku sedang butuh sendiri dalam menyelesaikan masalahku, tanpa campur tangan siapa pun."


"Baiklah, aku paham. Tapi ini menyangkut aku. Kita bicara ke taman sebentar ya!" bujuk Yakub. 


Chesy akhirnya menyanggupi. Ia melangkah menuju taman diikuti oleh Yakub.


Mereka duduk di kursi taman berhadapan.


"Jadi apa yang mau kamu bahas?" tanya Chesy to the point.


Yakub menghela napas. "Maafkan aku, Chesy. Aku kedengaran tolol dan bodoh karena terkesan mengusik kehidupanmu. Tapi aku peduli." 

__ADS_1


Chesy menggaruk pelipis, mulai gerah. Ia hampir bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Yakub.


"Kemarin Cazim yang aku kenal soleh itu tiba- tiba datang membabi buta seperti seorang penjahat yang brutal. Dia sangat marah dan memintaku untuk menjauhimu, dia sangat kasar dan buruk," imbuh Yakub.


Benarkah Cazim sebrutal itu? Apakah Cazim cemburu? Apakah pria itu benar-benar mencintai Chesy? Pertanyaan itu berkeliling di kepala Chesy. Ada debaran aneh menyertai. 


"Justru itulah aku ingin bilang bahwa keputusan untuk menggugat cerai Cazim itu adalah keputusan yang tepat," sambung Yakub.


Chesy mengernyit. "Kamu sudah bilang ini ke aku kemarin. Kenapa mesti diulang lagi?"


"Masalahnya begini, tidak ada lagi yang mesti dipertahankan dari lelaki kasar dan pemarah sepertinya, kelihatan luarnya salih namun ternyata aslinya sangar dan menakutkan, terindikasi bisa kdrt pula. Jangan sampai kamu berubah pikiran, lalu mempertahankan dia karena beranggapan bahwa menjadi janda itu buruk, takut kena sanksi sosial dengan pandangan buruk masyarakat mengenai anak ustad kok bercerai. Jangan pikirkan orang, pikirkan masa depan dan kebahagiaanmu. Hidupmu adalah untukmu, bukan untuk orang lain."


"Sudah cukup mempengaruhiku kan?"


"Bukan itu maksudku, aku begini karena aku peduli padamu. Jangan takut bercerai, karena setelah kamu bercerai pun, akan ada banyak lelaki yang menginginkan wanita sebaik kamu. Contohnya aku."


Chesy tidak kaget. Dia sudah menduga sebelumnya. 


"Kamu suka sama aku?" ceplos Chesy sekenanya.


"Iya."


Chesy geleng- geleng kepala, tak percaya Yakub akan seenteng itu mengakui perasaannya.


"Ini mungkin tidak tepat, aku sudah keliru mengungkapkan perasaan disaat kondisi begini. Bahkan statusmu pun masih istri Cazim, tapi jika aku tidak ungkapkan, aku takut akan menjadi bayangan yang menakutkan dan terus menghantuiku. Jika kamu siap untuk bercerai dari Cazim, maka aku siap menikahi mu."


"Aku sudah tahu isi hatimu sekarang. Jadi nggak ada lagi yang mesti dibicarakan bukan?"  Chesy tak bersemangat membahas hal itu.


"Setidaknya kamu katakan padaku, bahwa kamu benar mau menggugat Cazim atau tidak? Supaya aku lega."

__ADS_1


"Tidak." Bukan suara Chesy, melainkan suara Cazim. Pria itu duduk di kursi sisi Yakub, membuat Yakub seketika menegang menatap wajah tegas seorang Cazim. Di jarak sedekat ini, Yakub dapat melihat betapa mata itu gelap dan tajam.


Bersambung


__ADS_2