Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sahabat Lama


__ADS_3

"Ya Tuhan! Senja, apa yang membuatmu sampai pasrah dan menerima makhluk ini menjadi suamimu?" Cazim menunjuk muka Hamdan. 


Yang ditunjuk menatap kaget. 


"Kau seperti menunjuk kecoa saja. Aku manusia." Hamdan tidak terima. 


"Aku udah cari lelaki sampai ke lubang semut, tapi entahlah, kenapa Tuhan mengirimkan Hamdan untukku. Rasanya aku juga seperti bangun dari mimpi," ucap Senja enteng sekali.


"Sayang, ayolah. Jangan menghinaku," kata Hamdan sok manja.


Senja mengusap wajah Hamdan dengan sekali usap satu telapak tangannya. "Awalnya, aku sempat tersandung masalah, hampir dilecehkan dan lapor polisi, kebetulan polisi yang menangani adalah Hamdan. Aku dan dia terlibat banyak hal sampai akhirnya malah sering jalan bareng. Entah bagaimana akhirnya aku udah menikah sama dia dan tiba- tiba tidur sekamar dengannya." Senja sok stres. 


"Ya Tuhan, aku dibuli di sini." Hamdan mengusap wajah.


"Apa menurutmu dia lelaki normal?  Jangan sampai kau tidak mengenal malam pertama karena karena miliknya tidak hidup," ucap Cazim.


"Aku sedang hamil muda. Kupikir Hamdan normal," jawab Senja dengan senyum simpul.


"Hei, jangan-jangan kau belum bisa move on dari Senja makanya kau terlihat mengejekku," kata Hamdan.


"Aku sudah memiliki anak dan istri. Tidak ada standar itu bagiku." Cazim rileks meski dituduh cemburu.


Cazim lalu memesan makanan, mereka menyantap hidangan sambil mengobrol.


"Jadi kamu belum menemukan Chesy?" tanya Senja. 


Cazim mengedikkan pundak saja. "Kukira kau mengetahui keberadaannya."


"Mudah-mudahan nggak terjadi apa- apa pada Chesy," sahut Senja.

__ADS_1


"Apa maksud perkataanmu?"


"Maksudku, jangan sampai Chesy mendahului kita hingga dia nggak ditemukan sampai sekarang. Rupanya sudah tiada."


"Jaga bicaramu! Aku tidak ingin itu terjadi," tegas Cazim membuat Senja membungkam.


"Maaf, istriku sebenarnya sedang mencemaskan istrimu. Bukan maksudnya mendoakan hal buruk pada istrimu," ucap Hamdan membela istri cantiknya. Senja terlalu indah untuk diabaikan. Hamdan seperti ketiban durian runtuh saat mendapatkan Senja, jangan sampai disia- siakan.


"Aku turut prihatin padamu, memiliki istri tapi seperti menduda. Ini buruk." Hamdan sok prihatin. Mukanya malah seperti sedang menahan e'ek.


"Aku justru sekarang sedang tertarik dengan keputusan Senja yang dengan berbesar hati bersedia menerima Hamdan. Seleramu dulu baik, lalu kenapa jadi anjlok begini? Setelah dulu kau naksir lelaki tampan, dan sekarang gantinya malah yang begini ini." Cazim menunjuk muka Hamdan, tak hentinya ia membuli temannya itu. Di kantor, Hamdan yang memang memiliki wajah unik itu selalu mendapat bulian oleh teman seperjuangannya.


Senja tertawa. "Iya, aku pun bingung kenapa bisa menerima dia. Seakan- akan aku menerima saat dalam kondisi alam di bawah sadar, kemudian saat tersadar bahwa Hamdan udah jadi suamiku, aku hanya bisa pasrah. Ha haaa..." Senja ikut-ikutan membuli suaminya. Kesehariannya di rumah juga selalu membuli sang suami. Dan hanya ditanggapi dengan pasrah oleh Hamdan.


"Oh ya, lalu bagaimana dengan papamu? Apakah dia sudah menemuimu?" tanya Hamdan.


"Apa kau akan membawa dendammu sampai mati?" 


"Biarkan saja begini. Dia menjalani kehidupannya sebagai pejabat tinggi sekaligus pengusaha besar, dan aku juga menjalani jalanku sendiri. Kita masing- masing."


"Aku juga heran kenapa papamu tidak mau menemuimu padahal aku sudah menitip pesan kepada mama tirimu itu supaya menemuimu." Hamdan geleng kepala.


"Wanita itu tidak pernah menyampaikan pesan kepada Tuan Diatma."


"Jangan asal menuduh. Barangkali papamu ada kesibukan lain sehingga tidak bisa menemuimu."


"Wanita itu datang menemuiku dan mengatakan semuanya, lalu sekarang dia meminta supaya aku pulang ke rumah. Ini konyol dan lucu. Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Aku saat ini sedang fokus mencari keberadaan Chesy." Cazim kembali fokus ke hp.


"Telepatimu tidak canggih. Kau juga kurang sehati dengan Chesy. Jika kau sehati dengannya, pasti kontak batin dan akhirnya dengan mudah kau mencari keberadaannya."

__ADS_1


"Kita bicara reel saja, jangan pakai bahasa planet."


Hamdan tersenyum.


***


Tujuh tahun telah berlalu. Cazim masih seperti dulu. Sendiri. Tidak ada wanita yang mendampinginya. Bukan karena tidak laku, dia yang masih berusia kepala tiga, tetap tampak gagah, tegap dan awet muda. Wanita mana yang tidak tertarik padanya? Bahkan ada banyak wanita cantik yang silih berganti mendekatinya, menunjukkan ketertarikannya. Namun Cazim tetap dingin. Sama sekali tidak tertarik pada wanita. Isi pikirannya hanya satu, yaitu gagal move on dari Chesy.  


Bahkan Cazim juga tidak tahu apakah anaknya tumbuh dengan baik, ataukah sudah tiada.  Ah, kenapa pikiran Cazim malah kemana- mana.  


Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Chesy?  Dia menghilang begitu saja.  pergi meninggalkan segalanya.  


Sore itu, Cazim tengah berada di salah satu sekolah.  Melakukan penyidikan atas kasus pembantaian yang terjadi di sekolah dasar itu.  Seorang guru membantai tukang kebun sekolah.  Kejadian yang benar-benar tidak layak, namun inilah yang telah terjadi.  Tak lain sekolah dasar islam terpadu, sekolah yang merupakan bentuk satuan pendidikan dasar yang memberikan program pendidikan berdasarkan kurikulum nasional dibarengi dengan system pendekatan Islami.


Menggunakan seragam dinas, Cazim tampak sangat tampan dan gagah.  Dia memandu anggotanya untuk melakukan serangkaian pekerjaan yang harus segera dituntaskan untuk olah TKP.


Cazim meninggalkan ruangan TKP kemudian menuju ke teras untuk menghampiri seorang guru yang melintas.  


“Pak, saya bisa bertemu dengan kepala sekolah?” tanya Cazim.


“Tentu.  Beliau sudah datang dan sekarang ada di ruangannya.  Mari saya tunjukkan ruangan kepala sekolah!”  Guru itu mengantar Cazim menuju ke ruangan yang disebutkan.


Hanya sebentar saja Cazim berbicara dengan kepala sekolah, ia menyampaikan sedikit hal terkait kasus yang dia tangani.  Kemudian ia meninggalkan ruangan kepala sekolah.


Bruk!


“Ah, sial!”  Cazim menatap kesal pada celananya yang menjadi basah, kotor oleh es krim berwarna warni yang menempel.  Parahnya, rasa dingin yang bersumber dari es krim tersebut menjalar sampai ke kulit.  


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2