Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Dentuman


__ADS_3

"No!" teriak Cazim sambil bangkit berdiri dengan tangan kanan menjulur ke depan seolah hendak menarik Chesy. Namun mobil jelas sudah melayang terjun.


Cazim dapat melihat dengan jelas wajah Chesy yang ketakutan, namun juga pasrah dengan tangan terangkat, menggapai angin.


Suara dentuman mobil yang terguling- guling dan menghantam tebing terjal terdengar sangat mengerikan. Suaranya menggema dan memantul.


Cazim bangkit berdiri hingga pelukan Senja terlepas begitu saja. Dengan langkah terseok dan kaki diseret, Cazim menuju ke bibir jurang. Wanita yang baru saja dia maki itu malah memilih untuk menyelamatkan nyawa orang lain dan mengabaikan nyawanya sendiri.


"Chesyyyyyy!!!" Cazim berteriak menatap mobil yang terguling- guling dan makin lama benda itu makin mengecil. Tatapan Cazim nanar menatap benda yang menghilang dari pandangan ditelan oleh pepohonan rimbun di bawah sana.


"No! Ini tidak benar! Chesy, jangan lakukan ini! Jangan!" Cazim berlutut di tanah, menapakkan tangan di atas tanah dan mengepalkan genggaman tangannya itu, meremas tanah.


"Cazim, bagaimana ini? Kita harus cari bantuan! Kakimu terluka, kakiku juga sakit sekali. Ayo, kita cari bantuan ke arah jalan!" ucap Senja.


"Tidak!" hardik Cazim membuat Senja terkejut. "Kau tidak lihat Chesy menantang maut dan dia terjatuh ke bawah sana. Bagaimana aku bisa memikirkan kakiku?"

__ADS_1


Senja memucat sehabis dibentak. "Maaf. Tapi kalau kita tidak minta bantuan, lalu apa tang harus kita lakukan?"


"Diamlah!"


"Mobil itu terguling dan masuk ke jurang sedalam ini. Mana mungkin Chesy selamat. Dia butuh bantuan tim SAR. Kita panggil tim SAR untuk mengevakuasi."


"Kau bukan Tuhan dan kau tidak bisa memvonis bahwa Chesy tidak selamat. Paham?" bentak Cazim lagi membuat Senja ketakutan.


Gadis itu menangis sesenggukan. Selain menahan rasa sakit di kakinya, ia juga merasa sakit hati.


Kenapa Chesy mengabaikan keselamatannya dan malah mengutamakan keselamatan nyawa Cazim? Juga nyawa Senja? Chesy jelas- jelas bisa keluar lebih dulu dari mobil untuk menyelamatkan diri, tapi dia malah memikirkan nyawa Senja, juga nyawa Cazim. Apa yang ada di pikiran wanita itu?


Cazim teringat perkataan Chesy, dan perkataan itu terngiang- ngiang di telinga Cazim.


"Silakan kamu berhubungan dengan Senja, tapi kamu boleh bunuh aku terlebih dahulu. Sekali lagi kubilang, kamu boleh bunuh aku dulu kalau mau menjalin hubungan dengan wanita lain. Aku dan abi nggak akan menanggung apa pun saat aku mati. Kamu bisa putuskan untuk langsung menikahi Senja setelah aku mati. Nggak ada masalah apa pun yang perlu ditakuti setelah aku mati."

__ADS_1


Perkataan Chesy menjadi kenyataan. Dia pergi.


"Chesyyyyyy!" teriak Cazim sangat keras, suaranya bahkan menggema, memantul dari arah jurang.


"Mas Cazim!"


Suara itu. Cazim terkejut. Ia mendengar suara Chesy memanggilnya. Tak salah lagi, itu suara Chesy. Teriakan Cazim yang hanya sekedar ingin meluapkan kesedihan, malah dibalas dengan seruan dari arah jurang.


Apakah Cazim berhalusinasi? Mungkinkah itu hanya suara yang bersumber dari angan- angannya saja?


Manik mata Cazim bergerak dan berputar mencari keberadaan Chesy diantara rimbunnya pepohonan di bawah sana.


"Mas Cazim!" Tangan kecil menggapai, kemudian berpegangan pada batu menonjol yang ada di lereng jurang. Dan itu adalah Chesy. Kepalanya menyembul muncul ke permukaan lereng setelah tadi sempat tertutup oleh curamnya lereng yang menonjol.


Bersambung

__ADS_1


Hadiahnya mana nih?


__ADS_2