Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kembalilah


__ADS_3

Chesy membeku di tempat. Apa yang bisa ia jawab disaat hatinya kebas begini? Antara bahagia, hancur, sedih dan bimbang. Bahagia karena ia menemukan kembali ayah dari anak-anaknya yang bersedia mengajaknya untuk menata hidup bersatu kembali. Hancur karena ia sudah belajar hidup mandiri dan melupakan masa lalu, namun masa lalu itu kembali dengan entengnya. Namun juga bimbang antara mau menerima atau tidak.


Anak-anaknya sudah terbiasa hidup tanpa seorang ayah. Sebenarnya Chesy sudah lelah dengan tarik ulur dari suaminya yang membuat hidupnya seperti permainan. Tapi ia tidak bisa egois. Anak- anaknya juga membutuhkan sosok seorang ayah.


"Aku nggak bisa jawab sekarang. Aku butuh waktu," lirih Chesy dengan tertunduk.


"Aku bisa mengerti. Kalaupun kau tidak bersedia hidup bersamaku kembali, aku bisa memahaminya. Aku seharusnya memang tidak datang kepadamu, supaya hidupmu yang tenang tidak terganggu. Ini kehendak Tuhan, yang mempertemukanku denganmu di saat yang tidak tepat. Aku juga menyesal sudah mengusik kebahagiaanmu dengan datang menemuimu." Cazim kini tampak tenang dan lebih menerima keadaan. "Mereka itu anak-anakku kan?"


Cazim menatap foto Chesy dan anak-anak.


"Kembar tiga. Satu laki-laki dan dua perempuan."

__ADS_1


"Kau pasti kesulitan merawat dan membesarkan mereka sendirian."


"Semua sudah aku lalui, dan aku bisa."


"Aku tahu kau wanita tangguh dan kuat."


"Aku Chesy Caliana, yang pernah menantang lelaki kuat yang diakui sebagai ustad oleh banyak orang, dan hanya aku yang punya keberanian untuk melabrak lelaki itu.  Benar begitu kan?"


Cazim menelan. Sekilas terkenang momen masa lalu yang membuatnya pertama kali membenci gadis bernama Chesy Caliana, namun kemudian kebencian itu berubah seratus delapan puluh derajat. Benci dan cinta setipis tisu, peribahasa itu benar terjadi dalam hidup Cazim.


Sebenarnya batin Cazim berat meninggalkan Chesy, apa lagi mengulang kedua kalinya untuk menyerah dan mengaku tidak pantas. Toh Chesy masih terlihat mengharapkannya. Ya, jika saja Chesy masih memiliki harapan terhadapnya, maka saat ini dengan penuh percaya diri, Cazim tidak akan menyia- nyiakan kesempatan itu lagi. Seburuk- buruknya dirinya, sejahat apa pun dirinya, saat pasangannya masih bersedia mendampingi, maka ia tidak layak baginya mundur dan malah membuang kesempatan emas itu. 

__ADS_1


Bruk!


Cazim terdiam seketika waktu merasakan pelukan dari arah belakang. Lengan mungil itu melingkar erat di perut kerasnya. Rasa itu masih sama seperti saat terakhir kali ia bertemu dengan Chesy, tidak ada yang berubah. Iya, dalam hati Cazim merasakan sesuatu yang menggetarkan kalbu. 


Cazim cepat balik badan hingga kedua lengan kecil itu terlepas, kini mereka berhadapan, bertukar pandang.


Tidak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan, hanya tatapan mata yang saling bertukar pandang seolah saling mengungkapkan apa yang mereka sama- sama rasakan. Cazim menangkap apa yang ada di pikiran Chesy, sebaliknya Chesy juga menangkap isi hati Cazim melalui tatapan mata itu, bahwa mereka saling membutuhkan.  Luka lama biarlah menjadi sejarah, masih ada lembaran baru untuk dibuka dan dibaca.


Detik berikutnya Cazim langsung menarik pundak Chesy dan membenamkan ke dada bidangnya. Entah sudah berapa lama Cazim tidak mendekap tubuh mungil itu, setelah sekian tahun berlalu, semuanya benar- benar tidak berubah. Justru sekarang kehangatan itu makin membuncah. 


"Pak..." Polisi di luar berhenti di ambang pintu. Baru saja ia hendak menyampaikan kabar, namun batal menyaksikan dua sejoli tengah berpelukan.

__ADS_1


Loh? Pantesan komandan tidak keluar- keluar, rupanya lagi asik ngekepin perempuan. Tapi kenapa harus istri orang yang dipeluk?  Pria berseragam itu beringsut mundur.  Mendadak jadi kangen yayang di luar kota.


Bersambung


__ADS_2