
"Mana bisa sampai subuh, sebelum itu kita pasti sudah diusir yang punya resto," sahut Rafa menggerutu lirih.
Mereka pun kembali berdiskusi tentang segala perencanaan yang sudah sangat matang, bahkan hal kecil seperti hiasan bunga pada mobil pengantin pun juga diperhatikan dan untuk perizinan cuti sementara juga sudah Rival urus untuk beberapa hari ke depan.
Lagi-lagi ketika membahas itu Dalsa kembali mengalihkan pandangan matanya, sibuk memainkan sedotan dan es batu pada minumannya.
"Ini para calon pengantin jangan ikut pusing, biar kita yang siapkan semua," tegur Yakub melirik Revalina dan Rival.
"Nggak pusing sama sekali, biasa saja," sahut Rival dengan santainya.
Berbeda dengan Revalina yang tahu bahwa Yakub merasakan bahwa ia saat ini tengah banyak beban pikiran dan untungnya tak berpikir macam-macam mengira hanya memikirkan resepsi pernikahan besok. Padahal yang dipikirkannya sekarang adalah rencana yang harus ia jalankan tepat di hari pernikahannya.
"Bilangnya biasa saja, tapi percaya deh Umi. Nanti malam ada yang nggak bisa tidur," ledek Yakub bertubi-tubi.
"Hihihi, kayanya nggak cuma Rival tapi Reva juga," sahut Chesy beralih melirik Revalina yang berada di ujung meja.
Reflek Revalina mendelik keheranan, bisa-bisanya ia tak selamat dalam setiap ledekan dua keluarga ini.
'Iya aku emang nggak bisa tidur tapi bukan karena besok menikah, melainkan aku harus memulai aksiku dengan sempurna,' gumam Revalina dalam hati.
Hari itu sangat melelahkan, setelah acara wisuda selesai ia harus ikut dalam rapat serius berkedok makan-makan bak pesta setelah wisuda.
Pulang dari sana, dengan cepat ia melepas semua yang melekat di tubuhnya lalu berendam di bathtub dengan air hangat diikuti sinar mata hari terbenam yang indah dadi balik tirai putih.
Perlahaan air hangat itu melepas semua beban-beban di tubuhnya, termasuk beban pikirannya pula. Berunjung sandaran pada ujung bathup.
"Seharian Akram tak menghubungi ku, sungguh sibuknya dia sampai-sampai lupa kalau aku di sini lagi menunggu breafing an," gumam Revalina lirih sambil membasuh lengannya.
Dan benar tak lama Akram menghubungi Revalina, mereka membicarakan banyak hal termasuk resepsi besok. Tak lama Akram mengungkapkan niatnya saat itu juga, memaparkan beberapa hal yang perlu untuk Revalina lakukan besok.
Dalam setiap kalimat yang keluar dari mulut Akram, Revalina sangat menunggu saat-saat Akram mengatakan bahwa dirinya tidak perlu menikah dengan Rival, namun justru dengan entengnya Akram berbicara jika setelah akad selesai Revalina harus pintar membaca situasi dan kondisi.
'Kenapa permainan ku ini sampai sedalam ini membawa janji Tuhan di dalamnya,' ucap Revalina dalam hatinya.
__ADS_1
Akram : gimana Reva, kau sanggup?
Revalina terdiam sejenak, meraba pikirannya yang terus berkecamuk.
Akram : kau hanya tinggal selangkah lagi. Bukti kan yang kamu mau?, Inilah cara menjemput bukti itu.
Revalina : Iya, aku siap.
Akram : bagus. Kau tak perku khawatir saat acara berlangsung aku akan stay berada di belakangmu.
Revalina : Setelah acara selesai?.
Akram : Aku akan cari cara buat booking kamar di sana, kalaupun tak bisa pun itu tak masalah toh semua ada di tanganmu.
Mendengar hal itu Revalina langsung lega, ia merasa jadi boneka yang digerakkan dari jarak dekat. Rasanya sangat berbeda jika dibandingkan dengan kendali jarak jauh yang pada intinya semua yang melakukan adalah dirinya.
***
Chesy melintas, membawa satu tas berukuran sedang.
"Pagi-pagi sekali Umi, memangnya nggak bisa nanti saja?" tanya Revalina dengan nyawa yang masih belum terkumpul seutuhnya.
"Nggak bisa, kamu sudah harus sampai sana jam 5. Make up pengantin itu nggak sesimple make up wisuda mu kemarin," jawab Chesy sambil berlari kecil menuju ke depan.
Terlihat di depan Rafa tengah sibuk memandangi mesin mobil, mengecek segala sesuatunya agar tak terjadi kendala sementara Chesy sibuk memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.
Melihat bagasi mobil itu rasanya seperti melihat bagasi orang-orang yang mau pindahan rumah. Uminya benar-benar berlebihan membawa semua-muanya tak terkecuali banyak sekalipun.
"Ya Tuhan Mi, ini serius semuanya dibawa?" tanya Revalina terperangah.
Seketika matanya jadi fresh, tak lagi mengantuk seperti tadi.
"Serius lah, masalahnya ini semua adalah bagian terpenting yang harus dibawa," jawab Chesy dengan jelas.
__ADS_1
Tak bisa berkata-kata, Revalina hanya bisa menggelengkan kepala melihat Uminya yang kembali mondar-mandir mengambili barang entah apa lagi yang mau di masukkan ke dalam bagasi.
"Umi sadar tidak, barang bawaan Umi sudah sepeti orang pindahan kena gusur," ledek Revalina kegelian.
"Berlebihan kamu, orang cuma segini di anggap seperti orang pindahan," sahut Chesy terus menyahut ucapan Revalina meski sibuk sendiri menyiapkan ini itu.
"Mau bawa apa lagi Mi, sepeda listrik perlu?" tanya Revalina justru memancing seorang ibu-ibu paruh baya ini.
Tiba-tiba Chesy terdiam mematung, nampak sangat memikirkan pertanyaan Revalina. Menatap isi bagasi berulang kali, tepat di luar terparkir rapi sepeda listrik kesayangannya.
"Jangan aneh-aneh Umi, kita di hotel cuma sebentar lusa juga sudah balik. Jadi nggak perlu bawa-bawa sepeda listrik," tegur Rafa sambil menutup kap mobil.
Tak lama Revalina langsung mendapat lirikan tajam dari Rafa yang seketika membuatnya terdiam, enggan meneruskan bujukannya.
"Tapi nanti kalau Umi mau jajan keluar naik apa Rar?" tanya Chesy beralih menatap Rafa.
"Gampang, nanti tinggal pesan di aplikasi. Tapi kalau Umi mau keluar juga ya kita naik mobil," jawab Rafa dengan santainya.
"Emm," gumam Chesy sambil menepuk dagunya dengan berulang kali, memikirkan ucapan putranya dengan sangat baik.
"Ya sudahlah Umi ikuti apa katamu," pada akhirnya Chesy pasrah dan mengaku tunduk pada arahan Rafa.
Setelah semua selesai, saatnya siap-siap untuk ke berangkat yang di akhiri dengan sholat subuh berjamaah.
Dalam doa masing-masing meminta kelancaran dalam prosesi sementara Revalina menambahkan doa khusus untuk di lancarkan juga dalam mencari bukti pelaku pembunuhan kembarannya yang sampai sekarang masih belum jelas.
'Rajani, jika kamu ada sekarang pasti aku sangat bahagia menanti detik-detik aku melepas masa lajang ku. Kita masih akan tertawa sepanjang malam mengenang masa kecil kita sampai tiba di hari yang katanya bahagia itu langkah mu mengantarkan aku ke gerbang pernikahan tapi sayang kak sudah lebih dulu meninggalkan aku,' ucap Revalina dalam hati.
"Sayang, yuk siap-siap kita berangkat sekarang," Chesy membelai lembut wajah Revalina yang basah.
"Iya Mi," sahut Revalina sambil mengibaskan seluruh air matanya.
Bersambung
__ADS_1