Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Perundingan Klimaks


__ADS_3

"Ayo, Reva jangan melamun saja. Baru saja wisuda sudah melamun," tegur Rafa yang baru saja keluar dari mobil.


Revalina tersentak, tersadar kalau dari lamunannya. Ia pun segera mengikuti langkah mereka. Entah sengaja atau bagaimana ketika keluar dari parkiran semua berjalan di depan menyisakan Rival dan dirinya berjalan di belakang berdua.


Dengan rasa malu ia coba menutupi wajahnya yang tak luput dari sorot mata Rival.


"Kenapa ditutupi, aku masih ingin melihat cantiknya wajah calon istriku?" tanya Rival sambil tersenyum-senyum.


"Apaan sih," Revalina terus menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu cantik pakai kebaya merah ini," puji Rival.


Seketika Revalina jadi salah tingkah, ia tak mampu menyembunyikan lekuk di kedua sudut bibirnya. Namun tiba-tiba Dalsa melirik ke belakang dengan sorot mata tajam, sontak membuat wajah Revalina kaku dan ikut saling melempar sorot mata.


'Kenapa sih dia, tak suka Kakaknya memuji ku,' gumam Revalina dalam hati.


Tiba di meja panjang yang sudah di booking Rafa, mereka duduk saling berhadapan antar keluarga dan tepat di hadapan Revalina adalah Rival.


"Aku sudah pesan semua Umi, tak ada yang terlewat," ucap Rafa baru duduk sambil mengutak-atik ponselnya, nampak sekilas beberapa menu yang sengaja dicatat untuk dipesan.


"Kak Rafa jadul sekali pakai catatan begini, aku jadi malu," ledek Revalina sambil melirik ponsel Rafa.


"Dari pada lupa. Lagian kau pikir menu sebanyak ini mana bisa aku hafalkan, ada-ada aja kau," sahut Rafa ketus.


"Hust sudah, kalian nggak di rumah nggak di luar berantem terus," bisik Chesy dengan tajam.


Keduanya mendadak membisu, namun tidak dengan kaki di bawah meja yang saling bertarung mendorong satu sama lain.


"Nggak rame kalo nggak berantem," ucap Rafa pada Rival dan kedua saudaranya.


Dalsa yang sejak tadi buang muka mulai celingak-celinguk entah mencari apa, tak sadar sanggulnya mulai turun.


"Dalsa, mau Umi benarkan sanggulnya," Chesy mulai menawarkan diri.


Mendengar hal itu Dalsa langsung panik, reflek memegang sanggulnya.


"Eh kok bisa turun aduh ini perias nggak bener," getutu Dalsa lirih.


"Sini Umi bantu," Chesy bergegas beranjak dari duduknya, melangkah menghampiri Dalsa yang duduk di sebrang hadapannya.

__ADS_1


"Terimakasih, tapi ini sepertinya aku bisa," tolak Dalsa dengan sopan.


"Ah mana bisa, sanggul yang kamu pakai ini ribet," sahut Chesy langsung bergerak membantu Dalsa membenarkan sanggul Dalsa.


Melihat hal itu dada Ravalina terasa seperti ditombak, dikoyak sampai tak berbentuk. Mengingat betapa kejamnya perlakuan Dalsa terhadap Rajani, untuk yang satu ini sama sekali tak ada keraguan di hatinya berbeda dengan Rival yang entah kenapa masih ada yang mengganjal, entah itu sebuah kebenaran atau justru rasa cinta yang jadi pengganjal hati.


"Memang dasar bocah petakilan," ledek Yakub sambil melirik Dalsa.


"Siapa juga yang petakilan," sahut Dalsa lebih sinis lagi menatap sang kakak.


Dia terus menunduk menanti Chesy selesai membenarkan sanggul di balik jilbabnya tanpa harus membuka sedikitpun jilbab yang dipakainya.


"Beruntung ada Umi di sini, coba kalau tidak pasti sanggul mu sudah cosplay jadi punuk unta," ledek Rival.


"Hahahaha," tawa lepas Rafa.


Agaknya Rafa membayangkan ledekan Rival sampai-sampai tak bisa mengontrol tawanya di tempat umum seperti ini, bahkan pelayan yang kini berjalan ke mejanya sampai terkejut mendengar tawa itu.


"Hust, jangan keras-keras tawa mu nggak sopan," ucap Chesy lirih tajam.


"Maaf-maaf Dalsa, aku nggak lagi menertawakan mu cuma ucapan Rival tadi saja yang lucu," Rafa cepat-cepat mengklarifikasi arti dari tawa lepasnya barusan.


"Sama saja, tapi aku nggak peduli," sahut Dalsa ketus.


"Ehh jangan seperti itu, Rafa kan cuma bercanda," tegur Yakub pada adik bontotnya.


"Salah si Rafa ini mah, kalau kamu mau pukul Umi sangat rela," ucap Chesy membela Dalsa.


Dalsa langsung mengembalikan pandangannya ke arah Rafa, tatapan makin lama semakin tajam disusul senyum sadis yang begitu menakutkan.


"Umi tolong Umi, sepetinya dia mau menerkam ku," ucap Rafa dengan dramatis menunjukkan ekspresi ketakutan serta memundurkan posiis duduknya.


"Umi angkat tangan, salah sendiri ketawain Dalsa,* sahut Chesy sambil mengangkat kedua tangannya.


Tak lama akhirnya drama menantu datangnya makanan sudah selesai, kini mereka semua sibuk menyantap berbagai makanan yang tersaji di meja. Semua di pesan oleh Rafa sampai meja panjang itu tak muat dihinggapi oleh piring-piring itu. 


"Kita mulai saja ya pembicaraan untuk proses pernikahan Reva sama Rival besok," Chesy mulai mengajak ke pembahasan inti.


Dalsa langsung mengalihkan pandangan mata, sambil terus sibuk dengan aktivitas dalam mulut.

__ADS_1


"Silahkan Mi," sahut Yakub dengan nada sopan.


"Jadi untuk proses akad kita sepakat di mulai jam 9, satu jam sebelum akad aku minta tolong buat Yakub persiapkan beberapa yang aku sampaikan waktu itu," ujar Chesy pada Yakub.


"Siap Umi. Cincin, mahar dan buku nikah sudah ada di aku. Insyalalla besok nggak ada drama ketinggalan," sahut Yakub menyebutkan beberapa hal terpenting.


"Bukan apa-apa, karena acaranya di gedung jadi kalo ketinggalan atau hilang itu akan sangat merepotkan," ujar Chesy kembali.


"Siap," sahut Yakub mengangguk dengan tegas.


Netra Chesy beralih ke arah Dalsa yang duduk di tengah-tengah antara kedua kakak laki-lakinya.


"Dan untuk Dalsa dandan yang cantik ya sayang," ucap Chesy lirih lembut.


"Siap," sahut Dalsa tersenyum lebar.


Tiba-tiba jantung Revalina berdegup kencang disusul darah pada sekujur tubuh yang mulai mendidih mendengar sendiri Uminya memanggil seseorang yang diduga dalang di balik kematian Rajani dengan sebutan sayang. Tak terbayangkan akan sesakit apa hati Rajani ketika mendengar langsung.


"Heh, malah melamun lagi. Sepetinya sudah nggak sabar mau nikah," Rafa menyenggol lengan Revalina menyadarkan dari lamunan yang berujung ledekan.


"Sabar Reva, sabar," ledek Yakub sambil menahan tawa.


"Kayanya Rival juga sudah mulai nggak sabar juga," Chesy pun ikut meledek kedua calon pengantin tanpa terkecuali.


Rival hanya tersenyum dengan sedikit menunduk, agaknya menahan malu sekalinya di ledek Chesy. Sementara Revalina tetap berada di posisi duduknya yang tegap, ia berusaha membuat hati dan pikirannya tertuju pada kasus Rajani. Cukup kemarin ia terlena dengan rayuan maut Rival padanya.


"Tadi Reva berbisik, katanya kenapa akadnya tidak jam 8 saja biar ada jeda sebelum pesta," ucap Rafa secara tiba-tiba.


"Ya Allah," ucap Chesy terkejut, reflek menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Kode itu Val," ledek Yakub pada Rival.


Sontak Revalina melongo mendengar ucapan Rafa yang sama sekali tak bersumber darinya, karena gemas melihat ekspresi semuanya menggelikan reflek Reva membungkam mulut Rafa.


"Benar-benar kamu ya, aku nggak bilang apa-apa bisa-bisanya bilang begitu," gerutu Revalina kesal.


"Jelas-jelas tadi bilang begitu," sahut Rafa kekeh dengan ucapannya.


"Sudah-sudah balik ke diskusi, jangan ledek-ledekan nanti keburu subuh," Revalina cepat-cepat menggiring kembali ke perbincangan awal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2