
"Segini pengecutnya rupanya lelaki bernama Cazim, lelaki yang dianggap hebat di mata semua orang, ternyata nggak lebih dari sampah busuk, yang hatinya pun sama busuknya dengan isi pikiranmu sendiri," geram Chesy dengan mata berair. Ia sekuat tenaga membendung air mata itu, namun tidak berhasil. Air matanya tumpah.
Cazim tampak diam. Dia membiarkan Chesy bicara dan kini ia menjadi pendengar saja.
"Dia itu abiku. Dia orang tuaku. Dia nggak punya salah dan dosa padamu," jerit Chesy dengan tangis yang pecah. "Apa masalahmu? Kalau kau bermasalah denganku, jangan bawa- bawa abi. Kau bisa membunuhku kalau perlu, jangan abi. Biadab!"
Cazim membiarkan dua kepalan tangan kecil Chesy memukuli dada bidangnya, seakan pukulan kecil itu sama sekali tidak menghasilkan efek apa- apa terhadap tubuhnya yang tegap dan gagah itu.
"Kalau sampai terjadi apa- apa sama abi, aku yang akan melenyapkan mu dari muka bumi ini. Aku yang akan menghukum mu!" pekik Chesy sambil terisak.
Cazim memegangi dua pergelangan tangan kecil Chesy dengan erat menggunakan satu cengkeraman besar tangannya. Raut wajahnya tenang seakan tidak terjadi apa- apa.
"Ini kecelakaan," ucap Cazim.
Tatapan Chesy murka ke arah mata biru Cazim.
"Jangan berlindung di balik kata- kata kecelakaan untuk melindungi dirimu sendiri dari jeratan hukum. Kecelakaan apa setelah kamu mengancamku akan melakukan hal buruk terhadap orang yang aku sayangi. Aku nggak sebodoh itu!"
Pintu kamar terbuka, dokter dan seorang suster keluar.
__ADS_1
"Maaf, ini ruang tenang. Saya harap tidak berisik supaya pasien tidak terganggu," ucap dokter mengingatkan.
Chesy menyesal sudah berteriak, suaranya pasti sangat mengganggu. Ia menarik kuat tangannya hingga terlepas dari pegangan Cazim.
"Apa keluarga pasien ada di sini? Yaitu keluarga Yunus Al Habi?" tanya dokter.
"Ya, saya sendiri. Saya putrinya. Abi saya gimana, Dok?"
Dokter kemudian menjelaskan kondisi Yunus yang kritis, terjadi pendarahan hebat di kepalanya, operasi yang berjalan beberapa jam sudah berhasil. Butuh pemulihan ekstra.
Beberapa jam Chesy menunggu di samping bed ayahnya terbaring tak sadarkan diri. Sesekali ia melirik ke arah kaca pintu, melihat Cazim yang ternyata masih menunggu. Tak tahu entah menunggu apa.
Tak lama kelopak mata Yunus terbuka. Chesy menghambur mendekati wajah sang ayah. Hatinya yang kebas pun berbaur dengan rasa syukur.
"Abi, udah bangun? Abi, ini Chesy." Chesy meneteskan air mata. Dia letakkan keningnya di atas kening sang ayah.
Sekilas ia mencium aroma wangi yang asing memasuki ruangan itu, dan ternyata Cazim masuk ke kamar.
Chesy ingin memaki lelaki itu dan mengusirnya, namun ia tidak memiliki waktu untuk itu. perasaannya lebih cenderung ingin menghabiskan waktu dengan bicara pada sang ayah. Urusan Cazim belakangan. Mungkin Cazim takut Yunus akan membongkar sesuatu hal sampai- sampai nekat mendekati korban. Atau mungkin Cazim sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk Yunus sehingga ia masih terus mengawasi dan tak juga pergi dari sana.
__ADS_1
Isi kepala Chesy masih bisa memggiring opini. Namun ia mengabaikan hal itu, ia lebih fokus pada kondisi ayahnya.
"Abi harus sembuh. Abi kuat ya." Chesy memotivasi. Chesy menyesal selama ini sudah menjadi anak yang buruk bagi Yunus. Berbagai tingkah buruknya pun terkilas balik di ingatannya seperti rekaman video. "Aku janji akan menjadi anak yang baik untuk abi, aku janji akan menjadi anak yang patuh. Aku akan mengikuti semua kemauan abi. Aku janji. Tapi abi harus sembuh."
Yunus melepaskan peralatan yang menutup mulutnya, menurunkan benda yang mengganggu mulutnya itu.
Setelah melepas napas panjang dan mengumpulkan tenaga, Yunus menatap Cazim, kemudian berkata, "Kalau begitu menikahlah dengan Cazim."
"Hah?" Chesy terkejut.
Bersambung .....
Ada di pihak siapa kalian? Chesy atau Cazim?
.
.
.
__ADS_1