
"Kau menyembunyikan Senja dariku di rumah bibinya Sarah?" Cazim Tertawa lepas. "Senja tidak akan mengatakan apa pun padamu tentang aku, semua informasi yang kau harapkan tidak akan mungkin dia katakan."
"Kamu terlibat skandal besar makanya kamu sembunyi di daerah sini. Itu yang Senja katakan."
"Itu hanya dugaanmu saja. Baiklah, sedikit cerita tentang keluargaku. Antara ayahku yang satu dengan ayahku yang lain memang ada skandal besar, mereka sampai saling tuduh untuk satu kasus besar, mereka memperebutkan aku, meminta supaya aku hidup bersama mereka. Tapi aku tidak mau bersama salah satu diantara mereka untuk saat ini. Itu saja. Sudahlah, biarkan ini menjadi masalah dalam keluargaku."
"Tapi nggak ada orang baik yang memegang senjata api kecuali petugas di bidangnya, seperti polisi, tentara dan mereka yang meniliki wewenang."
"Di negara kita memang begitu, berbeda di negara lain."
"Kamu pegang senjata ilegal ya?"
"Tidak. Aku pegang senjata milik ayahku. Itu resmi."
"Aku nggak tau apakah hatus percaya atau enggak. Tapi semua yang kamu katakan itu nggak ada buktinya."
__ADS_1
"Aku juga tidak butuh kepercayaan darimu, mau kau percaya atau tidak, terserah saja. Itu tidak mengganggu pikiranku." Detik berikutnya Chesy terkejut saat wajahnya disiram dengan air hingga ia gelagapan. Sialan! Cazim dengan sengaja menyiram wajahnya.
"Yang jelas aku nggak suka lelaki yang penuh dengan rahasia sepertimu, aku nggak sudi punya suami sepertimu. Kau bukan suami sungguhan bagiku," ketus Chesy.
"Sepertinya kau perlu diberi pelajaran supaya lebih bisa menghargai aku!" Cazim mendekati Chesy, membuat wanita itu menghindar sebelum suaminya berhasil meraihnya. Chesy langsung berenang meninggalkan Cazim.
Pria itu tak mau kalah, ia berenang dengan cepat untuk mengejar Chesy. Di dalam air, tangannya meraih kaki Chesy.
Chesy menyentak kakinya. Sial, malah celana Chesy tertarik oleh tangan Cazim hingga celananya melorot. Chesy sibuk menarik dan membenahi celananya.
Kesal atas perbuatan Cazim, Chesy pun balik arah, berenang menuju kepada Cazim. Ia melakukan aksi tendang, aksi pukul pada Cazim. Beraninya Cazim mencari kesempatan di tengah kesempitan begini. Main tarik celana sampai melorot hingga sebagian pinggang sampai ke bawah miliknya terekspos manis.
Terjadi aksi perkelahian sengit di dalam kolam renang, yang tentunya Yunus tidak melihatnya karena peristiwa itu terjadi di dalam air.
Lebih tepatnya Cazim hanya melindungi diri, ia menangkis dan menahan tangan kaki Chesy yang terus menyerang ke arahnya. Gerakan mereka cukup lambat akibat bergesekan dengan air.
__ADS_1
Tangan Cazim menahan kedua lengan Chesy dan memutar badan itu hingga Chesy berada di posisi membelakangi Cazim dengan kedua tangan dipegangi oleh pria itu. Chesy memberontak, namun dalam hitungan detik ia tidak lagi melakukan pemberontakan apa pun ketika ia gagal melakukan pernapasan.
Melihat Chesy yang terpejam tak sadarkan diri, Cazim berenang ke atas membawa tubuh lemas itu.
"Loh loh, ada apa ini?" Yunus terkejut melihat Cazim menggendong tubuh Chesy ke permukaan air, lalu meletakkan tubuh itu ke samping kolam.
"Ada yang keliru dengan cara berenangnya Chesy tadi," ucap Cazim menyusul naik. Ia menepuk- nepuk pipi Chesy. "Chesy, bangun! Ayo, bangun!"
Tidak ada tanggapan, mata Chesy tetap terpejam.
"Cepat lakukan sesuatu supaya Chesy cepat bangun. Jangan biarkan terlalu lama begini!" Yunus cemas.
Seperti diremot, Cazim menekan- nekan bawah dada Chesy, berusaha mengeluarkan air dari mulut istrinya. Tapi tidak berhasil. Usaha terakhir, Cazim menyentuh dagu Chesy, membuka sedikit mulut itu. Tangannya menutup hidung Chesy. Mulutnya menyatu dengan mulut Chesy untuk menyedot.
Bersambung
__ADS_1