
Rumah besar Yunus dipadati oleh orang- orang yang sibuk dengan urusan walimah. Di dapur urusan ibu ibu memasak berbagai menu lezat. Di bagian depan tepatnya di halaman luas yang sudah dipasang tenda istimewa, bapak bapak berbaur dengan anak muda tampak sibuk menyusun cemilan di setiap meja dan lauk pauk dengan menu beraneka di prasmanan.
Rumah benar- benar ramai oleh lautan manusia yang tengah menyambut hari walimah seorang Chesy, putri orang terpandang di komplek itu.
Rumah itu jadi kelihatan indah dan menawan dengan segala dekorasi di setiap sudut ruangan. Tak disangka ada banyak pemuka agama yang menyumbangkan dukungan dengan berbagai bentuk bantuan, baik materi maupun secara finansial.
Yunus yang awalnya menghitung anggaran akan menghabiskan dana sekian banyaknya, malah hanya menghabiskan separuh dari anggaran. Koleganya banyak, tak heran jika ia mendapat support dari berbagai sudut.
Chesy masih di kamar ketika di luar sana sudah sangat ramai tamu dan kesibukan pun melanda begitu hebatnya.
Chesy asik dengan hape nya. Ia sudah mengenakan gaun putih ala pengantin dengan hijab warna senada. Kecantikannya sungguh luar biasa dengan make up ala pengantin. Setiap mata akan pangling saat menatap wajahnya.
__ADS_1
"Chesy, kursi pelaminanmu sudah menunggu, tamu juga udah sangat ramai." Sarah muncul dan langsung menghampiri Chesy yang duduk di kursi kamarnya.
Chesy cuek saja. Terus main hape.
"Hei, kamu ditunggu oleh semua orang. Abimu juga menunggumu. Aku disuruh jemput kamu, ayo keluar!" ajak Sarah yang saat itu mengenakan kebaya warna pink, dia manis sekali.
"Aku disuruh ngapain? Duduk bersanding dengan Cazim?" Chesy cuek sekali.
"Aku tau itu. Tapi hidupku nggak melulu hanya sekedar untuk menyenangkan hati orang lain dengan mengabaikan perasaanku sendiri. Aku lelah, Sarah. Abi kan nggak harus memaksakan kemauannya demi kesenangan dirinya kan? Sampai aku harus mengorbankan hidupku juga kebahagiaanku demi semua ini."
"Chesy, tujuan abimu sebenarnya baik, hanya ingin kamu menjadi anak yang beragama baik menurutnya. Aku oun nggak tau apakah pandangan abi benar atau salah, tapi yang jelas tujuannya baik kok. Kita ikuti aja dulu semua ini, semuanya udah terlanjur. Setidaknya ingat saat abimu berada di masa kritis dan kamu menderita karena itu."
__ADS_1
Chesy menarik napas dalam dalam. "Aku nggak yakin harapan abi akan terwujud, sebab dia nggak tau pria munafik seperti apa yang sudah dia nikahkan dengan putrinya ini. Cazim bukanlah manusia baik, dan aku nggak sudi menjadi istrinya."
"Sudi atau nggak sudi, kamu tetap istrinya Cazim. Asiyah, istri Firaun pun tetap menjadi wanita salihah meski suaminya adalah Firaun. Itu nggak mengubah iman dan agamanya. Jadi, jangan sampai kamu malah menjadi istri durhaka hanya karena kebencianmu terhadap Cazim. Biarlah kejahatan Cazim akan menjadi urusannya dengan Tuhan, tugasmu mengabdi pada suami selagi abdianmu di jalan yang benar. Kita akan sama sama mengungkap siapa Cazim yang sebenarnya, tapi butuh waktu."
"Thanks ya, Sarah. Kamu udah kasih aku masukan." Chesy menggenggam tangan Sarah. Ia kemudian meraih dan memakai masker putih yang memiliki renda, satu set dengan gaun pengantin yang dia kenakan.
Masker tersebut sengaja dipilih oleh Cazim supaya saat Chesy duduk di kursi pengantin tidak ada kamera yang bisa mengabadikan wajah pengantin.
Menurutnya, wajah wanita tidak sepatutnya diekspos apa lagi diabadikan dalam sebuah foto yang turun temurun akan tetap abadi bila diposting di sosial media. Jadi lebih baik pengantin mengenakan masker stelan gaun pengantin.
Bersambung
__ADS_1