
Yakub mulai membenarkan posisi duduknya, memastikan duduknya telah nyaman sebelum bibirnya terbuka untuk bercerita tentang yang dia alami sejak sore sampai tengah malam begini.
"Jadi awalnya aku memang mau buat laporan dan benar kata Reva kalau laporan orang hilang itu baru bisa diproses setelah 1x24," ujat Yakub menatap ke arah Rival lalu berhenti pada Revalina.
"Lah, terus?" tanya Revalina kebingungan.
"Secara kebetulan Mama sudah ada di sana aku yang nggak tega langsung minta buat dia kembali pulang," jawab Yakub lirih sedih.
"Mama ada di sana?" tanya Rival sembari memicingkan mata.
"Besuk Dalsa, Dalsa kan masih ditahan di sana belum di pindahkan," jawab Yakub dengan jelas.
Yakub seperti seseorang yang masih menyimpan sesuatu dibalik temuannya entah itu perasaan sedih, kecewanya atau karena lain hal.
"Terus hasilnya?" tanya Revalina terus menunggu kelanjutan cerita Yakub.
"Seperti yang kau lihat, aku pulang sendirian. Mama nggak mau pulang tapi kalian tenang saja Mama sudah aman, Mama ada di rumah ku jadi untuk sementara waktu aku tetap di sini karena Mama nggak mau diganggu siapapun," jawab Yakub.
Meski begitu Revalina tetep bersyukur mertuanya telah ditemukan walaupun tetap sama saja dia tak ingin pulang ke rumah ini.
Di hari kedua Revalina sudah tak betah lagi berdiam diri di rumah, ia pun memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan kening yang masih diperban.
Di depan kaca rias, Revalina coba mengganti perbannya yang terlalu besar dan mencolok.
"Reva, kau jadi ke kantor hari ini?" tanya Rival dari arah pintu kamar mandi perlahan keluar dan duduk kembali ke kursi roda.
"Iya Mas, jadi," jawab Revalina.
"Tapi kamu kan masih sakit, masa langsung masuk kerja," ucap Rival khawatir.
"Enggak tuh, dari kemarin perasaaan sudah sembuh," elak Revalina.
"Mas nggak usah ikut, katanya mau diajak Kak Yakub besuk Dalsa hari ini," ucap Revalina.
"Besuk Dalsa bisa nanti, tapi kalau kamu kenapa-kenapa dan aku nggak ada di sana aku pasti akan menyesal," sahut Rival.
Ia tak bisa berkata-kata lagi, takut ucapannya akan kembali menyinggung Rival.
Tibalah saatnya Revalina berangkat ke kantor. Namun tiba-tiba Yakub mendelik ke arahnya.
"Reva," panggil Yakub.
"Iya Kak," sahut Revalina.
"Kamu nggak pamit sama suamimu?" tanya Yakub menatap heran.
"Mas Rival kan mau ikut aku," jawab Revalina bingung dengan pertanyaan Yakub.
"Lah, Rival hari ini mau ku ajak ke kantor polisi. Bukanya kemarin aku sudah bilang," ujar Yakub sembari mengembuskan nafas beratnya.
Mendengar hal itu perlahan Revalina melirik ke arah Rival beberapa puluh detik saling beradu pandang keduanya sama-sama terdiam, Revalina menunggu-nunggu Rival mengelak ucapan Yakub tapi nyatanya dia hanya terdiam dan terus terdiam.
"Ya sudah, Mas aku berangkat dulu," pamit Revalina langsung mencium punggung tangan Rival.
"Iya hati-hati, kabari kalau sudah sampai," ucap Rival.
"Assalamualaikum," ucap salam Revalina.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab salam semua serentak.
Revalina bergegas menuju ke taxi yang sudah dipesannya, sang supir dengan ramahnya membukakan pintu mobil bagian belakang.
"Terimakasih," ucap Revalina pada supir taxi sesaat sebelum ia benar-benar masuk ke dalam mobil taxi.
Tak lama perlahan mobil taxi yang ditumpanginya pergi dari kawasan rumah, dari jendela mobil terlihat mereka mulai masuk ke dalam rumah kecuali Rival.
Dalam hati Revalina memendam kecewa, ia tak suka dibohongi dan tak suka dengan orang yang gampang berubah pikiran. Entah kenapa ia jadi cemburu karena di nomor duakan di hati Rival meski yang menduduki angka pertama di hatinya adalah keluarga tapi tetap saja wanita manapun akan selalu ingin jadi satu-satunya.
Tiba di kantor, lagi-lagi Revalina jadi pusat perhatian karena perban di keningnya lalu tiba di lantai 5 Joseph sendiri menegurnya.
"Reva, kenapa kamu masuk kerja?" tanya Joseph dengan kedua mata terbelalak.
Melihat reaksi atasnya yang sepeti ini Revalina tak sanggup lagi untuk menahan tawanya.
"Hihihi, santai saja lihatnya Pak. Nanti bisa lepas itu mati," kikih Revalina.
Ia baru pertama kali melihat mata Joseph terbelalak seperti saat ini.
"Gimana mau santai lihat ajudannya masuk dalam keadaan masih di perban begini, bisa diamuk Pak Rafa aku kalau tahu kamu masuk," ujar Joseph masih dengan tatapan mata yang sama.
"Nggak akan kena marah Pak, santai," sahut Revalina dengan santainya.
Hari itu berulang kali Joseph memintanya untuk segera pulang namun tak digubris oleh Revalina, hingga pada akhirnya kehadirannya di kantor terendus oleh Rafa.
"Reva, kenapa kau masuk Kerja?" tanya Rafa panik langsung masuk ke dalam ruang kerja Revalina tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Nggak kenapa-kenapa, bosan saja di rumah terus bisa gila aku," jawab Revalina.
Rafa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu perlahan duduk di kursi yang ada tepat berhadapan dengan Revalina dengan terhalang oleh meja kerja Revalina yang lebar dan panjang.
"Harus bagaimana caraku menegurmu, susah sekali kau ini dibilangi, sudah tahu masih sakit tetap saja berangkat kerja," gerutu Rafa dengan nada kesal.
"Aku sudah nggak sakit lagi Kak," jelas Revalina.
Tak lama ia jadi kepikiran dengan masih Joseph yang sejak tadi ketakutan dan sempat menyebut nama Rafa dalam ketakutannya.
Sekejap merta Revalina kembali menatap Rafa, begitu pun sebaliknya Rafa juga kembali menatap Revalina.
"Kak, kau tadi nggak marahi Pak Joseph kan?" tanya Revalina dengan harapan Rafa menggeleng.
"Iya lah," jawab Rafa meninggikan nada bicaranya.
Seketika kedua netra Revalina terbelalak mendengar jawaban Rafa yang tak ia harapkan, terbayangkan bagaimana marahnya Rafa pada Joseph pagi ini.
"Kenapa Kakak marahi?" tanya Revalina mendadak kesal dengan Rafa.
"Aku kira dia yang suruh kamu masuk makanya aku marah, wajar aku marahi dia karena dia itu atasan mu," jawab Rafa dengan jelas.
"Hih, bukannya cari tahu dulu main marah-marahi saja," gerutu Revalina kesal.
Pagi itu Rafa banyak menghabiskan waktunya untuk menemani Revalina, sesekali menanyakan Rival dan keluarganya.
Meski Rafa menghabiskan waktu di ruangan Revalina, tapi tetap saja ada hal yang memaksanya untuk keluar dari ruangan Revalina namun tetap kembali.
Klekkk.
__ADS_1
Pintu kembali di tutup oleh Rival yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Melihat sang Kakak yang sejak tadi mondar-mandir tak jelas membuatnya merasa lelah.
"Kak, kamu nggak mau balik ke ruangan mu saja?" tanya Revalina mengusir halus.
"Banyak yang mencari mu dari tadi, kalau menemani ku terus yang ada pekerjaan mu jadi terhambat," tegur Revalina menatap Rival sembari mengerutkan keningnya.
"Bilang saja kau risih aku ada di sini," singgung Rafa sembari kembali duduk di kursi.
Meski begitu Rafa bukannya pergi tapi justru kembali terduduk membuat beberapa karyawan di kantor ini terpaksa menghampiri Rafa di ruangannya termasuk Joseph.
Saat ini Joseph tengah duduk bersama dengan Rafa, menunggu Rafa menandatangani berkas-berkas penting. Lagi-lagi Revalina merasa tak enak hati dengan Joseph, karena ia yang membuat semua orang kesulitan hari ini.
"Reva, istirahat siang nanti kau langsung pulang saja sudah nggak ada kerjaan lagi," ucap Joseph menatap Revalina dari arah sofa panjang yang ada di ruangan keja Revalina.
"Bohong, orang banyak sekali yang belum selesa," sahut Revalina mematikan ucapan Joseph.
"Susah bicara sama dia," ucap Rafa dengan tatapan matanya yang tak lepas dari berkas yang ada ditangannya.
"Kalau begitu bagus Kak, jadi kita nggak usah test DNA lagi sudah fiks aku ini adik kandung mu," ucap Revalina sembari tersenyum-senyum.
Seketika Rafa yang semula fokus mempelajari berkas yang ada di hadapanya mendadak terkejut dan langsung menoleh ke arah Revalina.
"Apa maksud mu, aku nggak sama susahnya ya. Aku nggak keras kepala seperti mu," elak Rafa.
"Ummhh," desah Revalina dengan ekspresi meledek menujukan bahwa ia tak percaya dengan elakan Rafa.
Siang harinya Rival datang setelah dari kantor polisi, menujukkan keadilannya antara kepada keluarga dan istri. Meski semula kecewa dengannya tapi perlahaan hati ini luluh juga dengan sikap dan bukti yang ditunjukkan Rival padanya.
"Tadi Kak Yakub langsung pergi hanya menitipkan salam untukmu," ujar Rival.
"Pergi kemana buru-buru sekali?" tanya Revalina penasaran.
Sebenarnya ia tak masalah akan hal itu tapi yang jadi masalahnya adalah karena Yakub membiarkan Rival naik ke lantai 5 seorang diri dengan keadaan seperti ini, tega sekali.
"Balik ke kantor polisi lagi karena ternyata Mama sudah sewa dua pengacara untuk Dalsa," jawab Rival dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Revalina terkejut, walaupun jauh sebelum hal ini terjadi dirinya sudah menduga bahwa Candini akan sewa pengacara untuk menuntaskan masalah ini dalamm artian upaya untuk membebaskan Dalsa dari tuntutan hukum.
"Belum apa-apa Mama sudah sewa pengacara, padahal Kakak ku belum apa-apa Kakak ku belum menghubungi pengacara manapun," ucap Revalina lirih lemas.
Perlahan Rival mulai menggenggam tangan Revalina, mngusap punggung tangannya dengan sentuhan lembut seakan tengah memberi kekuatan padanya.
"Maafkan Mama ya sayang, Kak Yakub sekarang lagi berusaha untuk mencegah itu dia nggak mau Dalsa bebas apalagi bebas dengan masih membawa ego dalam dirinya," ujar Rival lirih sedih.
Tatapan Rival beubah sendu, dia seperti tak merasakan aliran darah dalam tubuhnya begitu pucat hingga tak lama terasa kedua tangannya terasa begitu dingin.
"Aku tahu kalian semua nggak akan menghambat proses hukum yang sedang berjalan dan aku harap seterusnya pun begitu," sahut Revalina sembari tersenyum.
Bukan perkara mudah di hadapkan masalah antara keluarga dengan keluarga suami apalagi masalahnya sebesar ini, beruntung suami dan Kakak iparnya mendukungnya.
Seperti kebiasaan atau bisa dibilang adat perusahaan jika seseorang libur kerja sehari saja esoknya pasti banyak tumpukan tugas dan pekerjaan, sama halnya yang Revalina rasakan sekarang Nia terpaksa lembur hingga jam 9.
Selama lembur, Rafa dan Joseph tak berhenti memintanya untuk segera pulang namun tetap tak digubris olehnya hingga ia menyelesaikan pekerjaannya.
"Akhirnya," ucap Revalina berhembus lega setelah benar-benar menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan ia mendongakkan kepalanya menatap ke arah sofa dan betapa terkejutnya tak mendapati Rival di sana.
"Kamana Mas Rival," ucap Revalina panik setengah mati.