Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Marah Besar


__ADS_3

"Dia lewat jalur laut Mas," ujar Revalina dengan kedua bola matanya yang seketika membesar.


"Terus?" tanya Rival tak mengerti dengan arah ucapan Revalina.


"Ada kemungkinan dia tenggelam dan di makan paus, jadinya dia nggak tertangkap," jawab Revalina dengan jelas.


"Hahahaha," reflek Rival tertawa terbahak-bahak.


Melihat respon Rival yang justru tertawa membuat Revalina kesal, merasa bahwa dia hanya menganggap ucapannya hanya lelucon belaka.


"Mas, aku serius," rengek Revalina.


"Habisnya kamu lawak sekali mana ada paus, kebanyakan nonton film kamu tuh," ledek Rival dengan tawa renyah.


"Sudahlah, aku mau ke belakang dulu ambil air minum. Menertawakan mu ternyata nggak hanya bikin gigi ku kering tapi juga bikin tenggorokanku kering," ucap Rival perlahan beranjak pergi keluar dari kamar.


Klekkkk.


Pintu kamar ditutup Rival dari luar, saat itu juga raut wajah kesal Revalina berubah jadi datar dan serius.


"Aku memang bercanda tadi, bukan itu yang aku rasakan sekarang tapi entah kenapa aku ragu saja," ucap Revalina dengan tatapan kosong.


Keesokan harinya, pada pagi hari tepat saat Revalina tengah riweh dengan persiapannya ke kantor. Seperti biasa Rival ikut menyiapkan beberapa barang penting yang harus di bawa Revalina bahkan mobil pun telah di panaskan olehnya.


"Mas, kemarin itu aku sepetinya bawa Sandisk coba tolong kamu cek ada nggak di tas ku itu," ucap Revalina sembari merapikan lipstik di bibirnya.


"Kebiasaan nggak dipersiapakan dari malam kemarin," gerutu Rival namun tetap membantu Revalina.


"Tolong saja kenapa Mas nggak usah marah-marah," gerutu balik Revalina dengan nada kesal.


"Untung aku bukan orang yang kerjanya dari nine to five, kalau iya sudah pasti kamu nggak keurus ribet sendiri," gerutu Rival.


"Ya berarti kita itu memang ditakdirkan buat saling melengkapi, kamu punya kekurangan nggak bisa masak sampai panci gosong aku pun juga punya kekurangan di bidang lain," sahut Revalina sembari tersenyum meledek.


"Kurang asem, detail sekali kamu jabarkan kesalahanku kemarin," ucap Rival sambil tersenyum-senyum.


"Ya gimana Mas, memang kenyataannya begitu," sahut Revalina dengan nada meledek.


"Pergi dari sini!" 


Tiba-tiba terdengar suara begitu keras dari luar kamar yang seketika membuat Revalina dan Rival menghentikan pergerakan masing-masing.


"Mas, kamu dengar?" tanya Revalina dengan ketakutan.


"Iya aku dengar," jawab Rival.


Tanpa aba-aba keduanya bergegas keluar dari kamar, awalnya ia mengira suara itu berasal dari ruang tengah tapi ketika ia keluar kamar dan mengecek langsung terlihat tak ada siapapun di sana.


"Jadi suara itu dari mana asalnya Mas?" tanya Revalina mulai ketakutan.


Mengingat yang ada di rumah ini cuma dirinya, suami dan dua Kakak ipar, ia jadi berpikir yang macam-macam dengan suara bentakan tadi.


"Aku bilang pergi ya pergi!" 


Lagi-lagi suara itu terdengar kali ini sangat keras hingga menggetarkan jantung Revalina, saat itu juga Revalina dan Rival saing bertatapan dengan berakhir melirik ke arah ruang tamu.

__ADS_1


"Sepertinya lagi ada masalah, kamu langsung berangkat ke kantor saja," ucap Rival lirih.


"Kita lihat dulu apa masalahnya," sahut Revalina melenggangkan kakinya dengan cepat menuju ke ruang tamu lebih dulu.


Tak lama Rival menyusul dari belakang. Saat ini Revalina sudah lupa segalanya, termasuk dengan jam kerjanya yang sebentar lagi harusnya akan di mulai.


Tiba di ruang tamu, Yakub yang meradang menatap pria paruh baya dengan amarah yang membara seketika terdiam ketika Revalina sampai di sana.


"Ada apa ini Kak?" tanya Revalina pada Yakub.


Tak kunjung ada jawaban, Revalina pun berpindah tanya ke Sarah.


"Ada apa Mbak?" tanya Revalina pada Sarah.


"Bagaimanapun caraku menjelaskan," ucap Sarah lirih sedih menatap Yakub.


Mereka berdua semakin tak jelas, termasuk Rival kini juga tak jelas tatapannya tak bisa berbohong kalau dia mengetahui sesuatu tentang pertikaian ini. Sementara pria paruh baya ini tak berhenti tersenyum, namun senyumannya terlihat bukan senyum ramah melainkan senyum menakutkan.


"Saya rasa kita perlu berkenalan," ucap pria paruh baya itu mulai menyodorkan tangannya.


Plakkk.


Secara mengejutkan Yakub langsung menampik tangan pria itu dengan cukup kasar, reflek Sarah langsung menarik tangan Yakub agar tak lagi bermain tangan.


"Yakub, nggak sopan," tegur Sarah dengan keras.


Revalina terkejut sekaligus kebingungan setelah melihat reaksi Yakub yang menampik tangan pria yang kini ada di hadapannya, dia begitu marah melihat pria itu tengah mengajak Revalina untuk bersalaman.


"Tidak apa apa, saya sudah kebal dengan perlakuan Kakak ipar mu itu," ucap pria itu pada Revalina dan ambigu dengan senyumannya.


"Kamu nggak perlu memperkenalkan diri mu karna aku sudah tahu siapa kamu," sambung Probo sembari tersenyum ke arahnya.


Dilihat dari senyumannya Revalina jadi ragu kalau orang yang ada di hadapannya ini adalah orang baik, apalagi melihat Yakub yang begitu emosional terhadap pria tersebut.


'Ada masalah apa Kak Yakub sampai segitunya sama lawyernya Dalsa, meskipun terlihat menyebalkan tapi rasanya kurang pantas memarahi seorang manusia yang sudah tua seperti ini,' ucap kebingungan Revalina dalam hati.


"tujuan saja kesini tu mau mengajak kalian semua diskusi terlebih pada Revina," ucap Probo dengan serius mengerjakan.


"Tapi Kakak iparmu ini sudah marah-marah seperti orang gila," ucap robo terus tersenyum seperti orang sehabis kena banyak gula.


"Sudah, jangan libatkan Revalina dengan pemikiran gila mu itu!" tegas Yakub dengan emosi yang begitu tertahankan.


Jujur, setelah sekian lama Revalina baru melihat Yakub semarah ini, apalagi sekelebat telinganya mendengar bahwa laki-laki itu menginginkan sebuah kerja sama.


"Reva, sudah kau harus berangkat ke kantor sekarang," bisik Rival lirih.


Sepeti ada sesuatu yang lebih dalam dirinya sehingga Revalina tak menghiraukan bisikan-bisikan Rival.


Disini dalam posisi kebingungan Revalina bertekad untuk mencari tahu apa yang membuat amarah Yakub terpantik, atau mungkin diskusi tentang Dalsa itu ada kaitannya dengan upaya Candini untuk membebaskan Dalsa.


"Matikan mobilnya Mas," ucap Revalina perlahan duduk di sofa.


"Reva, yang betul kamu?" tanya Rival terkejut melihat aksi Revalina.


"Matikan mobilnya, aku mau berbicara sebentar dengan lawyer ini.

__ADS_1


Rival yang bingung akhirnya terpaksa menuruti Revalina, dia pun keluar lalu mematikan mesin mobil yang sejak tadi menyala.


"Baik Pak, silahkan dimulai pembahasannya," ucap Revalina dengan wajah datar.


Kali ini Revalina benar-benar tak peduli dengan pekerjaannya, berikut dengan kebisingannya. Pagi ini ia ingin mendengarkan apa yang akan disampaikannya lawyer Dalsa.


"Sebenarnya nggak perlu kita semua dengar ucapan dia, karena semua yang dia ucapakan itu nggak ada gunanya," potong Yakub makin tak bisa mengontrol emosinya.


Perlahan Revalina melirik Yakub dengan tatapan kecewa, ia kecewa karena Yakub sejak tadi tak memberi kesempatan untuk lawyer ini menyelesaikan kalimatnya.


"Biarkan lawyer adik Kakak bicara dulu, kalau mungkin Kakak sudah dengar biarkan aku juga dengar sekara," tutur Revalina dengan tatapan kesal.


Perlahan netra Revalina beralih menatap ke arah Probo, dengan cepat ia mulai menaikkan atensinya karena sebentar lagi akan ada pembahasan yang sudah dapat ditebak akan membuat urat-urat nadi kencang.


Di saat yang bersamaan Rival kembali masuk ke dalam rumah setelah mematikan mesin mobil.


"Baik, saya akan mulai sekarang tapi saya harap kalian semua mau berdiskusi bukan membentak lalu meneriaki saya untuk keluar dari sini," ujar Probo sembari menatap satu-persatu dari mereka.


Di sini Revalina sadar jika Probo tengah menyinggung Yakub, tapi melihat Yakub seorang diam meski matanya sejak tadi melotot, ia jadi sedikit lebih tenang.


"Silahkan Pak," ucap Revalina mulai mempersilahkan Probo untuk bicara.


"Baik, jadi tujuan saya kesini itu mau membahas terkait Dalsa adik kalian semua yang sekarang tengah meringkuk kedinginan di dalam penjara. Saya minta kalian semua berbesar hati untuk memaafkannya terlebih dahulu," ujar Probo membuka perbincangan awal dengan mereka semua.


Dari awal saja Revalina sudah bisa menebak inti dari apa yang diminta lawyer ini, namun ia berusaha tak menunjukkan kemarahannya, sebab dia lah yang memulai, jadi yang mengakhiri secara baik-baik juga ia sendiri.


"Silahkan Kak Yakub dulu bicara," ucap Revalina memoderatori perbicangan kali ini agar kondusif.


"Kalau aku jelas sudah maafkan Dalsa dari jauh-jauh hari tapi tetap nggak merubah hukum yang berlaku, saya mau hukum terus berjalan untuk memberinya pelajaran," ujar Yakub dengan nada bicaranya yang masih terdengar tinggi.


"Mbak Sarah," sebut Revalina beralih memberikan Sarah kesempatan untuk bersuara.


"Karena aku di sini nggak ada sangkut pautnya dengan masalah ini jadi aku no comment," sahut Sarah sembari menatap Revalina.


"Baik, kalau begitu Mas Rival," ucap Revalina beralih ke Rival yang kini telah duduk tepat di sampingnya.


"Sama seperti Kak Yakub, aku juga sudah maafkan Dalsa tapi yang namanya hukum harus tetap berjalan," jawab Rival dengan gaya bicaranya yang begitu tenang.


Melihat ketenangannya dalam berucap patut di acungi jempol, karena tak semua orang bisa begitu.


Dan kini tibalah Revalina sendiri yang harus memberi tanggapan, di dalam hati dan pikirannya kini tengah bergejolak hampir tak mau memberi tanggapan namun senyuman Probo terasa seperti tengah menodongnya untuk segera bersuara.


'Aku harus hati-hati, dia bisa gunakan ucapanku untuk menyerang balik aku di persidangan nanti,' ucap Revalina dalam hati.


"Jujur saya sebagai seorang saudara kembar dari korban, berat hati untuk memaafkan dia karena dia sendiri nggak mau meminta maaf hingga detik ini*" jela Revalina pada Probo.


"Tapi bagaimana kalau Dalsa datang kesini bersujud di kaku mu laku meminta maaf padamu apa kamu akan maafkan dia?" tanya Probo dengan wajah tegang serius.


"Kalau hal itu sampai terjadi aku tetap pada pendirianku, karena jika sekalipun Dalsa datang meminta maaf aku yakin itu bukan dari hatinya sendiri tapi atas dasar suruhan agar dia bisa secepatnya bebas,'" ujar Revalina dengan lantangnya.


Seketika semua terdiam menatap ke arahnya dengan tatapan terkejut, apalagi Sarah.


"Tega kamu ya," ucap Probo sembari mengerutkan keningnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2