
"Biar aku saja." Cazim mengambil mangkuk bubur dan mengarahkan sendok ke mulut Chesy. "Tanganku tidak sakit."
Chesy menatap sendok yang diarahkan kepadanya. Kemudian membuka mulut dan menyantapnya.
Yakub tersenyum saja. Ia mundur secara teratur, memberi akses lapang kepada Cazim untuk bisa menyuapi istrinya.
"Chesy, kau sungguh beruntung mendapatkan suami seperti Cazim. Dia perhatian, tulus dan menyayangi. Apa lagi dia adalah lelaki baik, semua orang mengenal itu," ucap Yakub dengan senyum.
"Ya. Tentu aku beruntung. Nggak ada lelaki sebaik Mas Cazim yang aku kenal. Aku nggak perlu merasa cemas lelaki sepertinya berselingkuh seperti lelaki yang nggak punya moral dan pemahaman agama yang baik," balas Chesy.
"Aku yakin rumah tanggamu akan langgeng sampai nenek kakek. Kalian itu serasi."
"Tapi kadang apa yang dilihat itu nggak seindah yang sebenarnya. Mata orang lain hanya bisa melihat dari luar saja."
Yakub mengacungkan kedua jempol.
Cazim tampak tenang menyuapi Chesy, seolah sedikit pun tidak terpengaruh atas perbincangan antara Chesy dan Yakub.
__ADS_1
"Yakub, kamu temanku kan?" tanya Chesy.
"Tentu."
"Kalau begitu aku boleh bertanya sesuatu?"
"Kenapa tidak?" Yakub tersenyum.
"Aku ingin tahu satu hal darimu. Kamu jawab yang sebenarnya ya?" Tawa Chesy muncul.
"Katakan! Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Yakub melirik Cazim. "Umur Cazim masih panjang, mana mungkin kau akan menjadi janda. Dan tidak mungkin pula Cazim akan meninggalkanmu untuk berpisah, dia lelaki yang paham agama, yang paham terbaik menuju janah dalam berumah tangga," sahut Yakub serius, namun kemudian ia tertawa dan menanggapi dengan guyon dengan berkata, "Tapi kalaupun kau sungguhan menjadi janda, tentu aku yang akan pertama melamarmu. Benar begitu kan, Cazim?"
"Sepertinya kau sudah cukup lama menjenguk Chesy, kau boleh pergi dan kembali temui adikmu," sahut Cazim datar.
Raut wajah Yakub tampak berubah. Ia pun berpamitan dengan ekspresi canggung. Pintu ditutup dan Yakub telah berlalu.
__ADS_1
Chesy dan Cazim bertukar pandang. Menatap satu sama lain.
"Mas Cazim, perbincangan dengan Yakub tadi adalah gambaran tentang rumah tangga kita. Aku sudah ungkapkan bahwa aku mencintaimu, aku ingin kamu menjadi suamiku seutuhnya. Aku memiliki rasa sayang padamu. Ini memang terbilang singkat dan datang begitu cepat, tapi memang itulah kenyataannya. Dan saat aku mencintai suamiku, justru suamiku mencintai wanita lain. Aku sudah berjuang untuk menggapai cinta suamiku bahkan mempertaruhkan nyawaku. Dan itu nggak mengubah apa pun."
Cazim masih diam menatap mata istrinya.
"Aku punya keberanian untuk bicara ini karena sadar harus mempertahankan rumah tangga. Mungkin kamu selama ini beruntung, menikahi perempuan yang nggak kamu cinta, dan si perempuan pun juga nggak punya cinta sama kamu, sehingga ini mempermudah keadaanmu. Melihat kedatangan Yakub, tiba-tiba pikiranku terbuka, sekarang aku berpikir, setelah semua yang kita jalani dan nggak mengubah apa pun, mengingat cintamu ke Senja yang begitu dalam, dan memang harapanmu ingin menghabiskan sisa hidupmu bersama dia, aku nggak bisa berbuat banyak. Aku ikhlas kamu meninggalkan aku. Pergilah bersama Senja. Kita berakhir."
"Sudah bicaranya?"
"Belum. Semakin aku mempertahankan mu dan berjuang mengejarmu, aku yakin rasa cintaku ke kamu akan semakin besar. Dan itu tetap nggak akan mengubah apa pun, akan lebih menyakitkan saat perjuanganku sudah maksimal dan berujung pada perpisahan, sebab aku tahu cintamu ke Senja itu nggak main-main. Aku melihat tatapanmu ke dia sangat berarti. Cinta itu begitu dalam. Kamu boleh pergi bersamanya, Mas. Kalaupun kita berpisah, ada kehidupan yang bisa memberiku kebahagiaan lain. Aku lelah, aku mau tidur." Chesy berbaring dan memejamkan mati.
Urat rahang Cazim mengeras. Wajahnya merah padam. Dadanya terasa membara. Tak tahu itu apa.
Brak. Cazim meletakkan mangkuk ke meja.
Chesy kaget mendengar hentakan itu, namun ia memilih untuk tetap memejamkan mata.
__ADS_1
Bersambung