
"Wah wah, aku nggak nyangka cintamu ke Mas Cazim bisa sebesar ini. Padahal kamu itu kan benci banget sama dia. Kok bisa berbalik seratus delapan puluh derajat gini ya? Emang bener apa kata orang, antara benci dan cinta itu batasnya hanya setipis kertas. Yang akhirnya kamu menembus batas tipis itu dengan mudahnya," ucap Sarah bangga.
"Aku pun nggak tahu kenapa aku bisa punya perasaan begini. Aku takut kehilangan Mas Cazim, bahkan sejak Senja muncul, rasa takut itu makin besar," sahut Chesy.
"Ya itu tergantung kamu sih. Mau dibawa kemana pernikahanmu sama Mas Cazim. Apakah masih mau diterusin atau kamu lepasin. Kalau Mas Cazim masih mau lanjutin pernikahannya, kenapa pula dia berharap dengan wanita lain?"
"Sebab sejak awal dia tahu kalau aku nggak pernah menganggap pernikahan ini ada. Mas Cazim tau kalau aku nggak menyukainya."
"Nah, itulah awalnya. Kalau begitu kamu jujur aja ke Mas Cazim bahwa kamu itu suka sama dia dan ingin menjalani pernikahan dengan sebenarnya tanpa ada orang ketiga."
"Nggak semudah itu. Setelah semua yang terjadi, mana mungkin perasaan Mas Cazim akan berbalik dengan cepat. Dia saat ini menyukai wanita lain. Kalau pun aku mengakui perasaanku ke dia hanya demi memaksakan keadaan, itu pasti nggak akan mengubah keadaan, juga nggak akan mengubah perasaan Mas Cazim. Semuanya malah akan jadi berantakan."
__ADS_1
"Lalu maumu bagaimana?" tanya Sarah.
"Aku butuh waktu. Butuh waktu untuk dapat mengubah keadaan, butuh waktu untuk membuat Mas Cazim jatuh cinta kepadaku. Hanya itu yang ingin aku lakukan. Jika memang Mas Cazim juga balik mencintaiku, maka urusan ini akan selesai."
"Terus, gimana sama latar belakangnya Mas Cazim? Tentang siapa dia, asal usulnya bagaimana? Dan semua urusan mengenai dia? Bukankah ini yang jadi latar belakang kemarahan dan kebencianmu sama dia?" tanya Sarah.
"Benar. Setelah perasaanku berubah haluan, yang muncul dalam benakku cuma satu, yaitu gak mau kehilangan dia. Aku mau menjalani pernikahan dengan dia apa pun alasannya. Maka aku akan menerima masa lalunya, masalahnya, dan bagaimana pun kondisi Mas Cazim. Baik buruknya akan aku terima."
Chesy tersenyum, memeluk Sarah erat.
***
__ADS_1
Chesy memasuki rumah setelah memarkirkan motor di garasi. Seperti biasa, sepulang kerja ia tadi menjenguk Cazim. Dan ternyata Cazim tidak ada di kontrakan. Demikian juga Alando yang tidak ada di rumah.
Padahal Cazim masih dalam kondisi terluka, beluk sembuh. Tapi sudah kelayapan kemana- mana. Benar apa kata Alando, bahwa Cazim itu fisiknya kuat. Meski dalam kondisi fisik yang sakit dan belum pulih, dia bisa merayap.
"Dari mana kamu?" tanya Yunus dengan ekspresi tak bersahabat, nada bicaranya pun tidak senang.
"Dari kantor, abi. Kenapa? Tumben nanyain? Bukannya biasanya selalu pulang ngantor ya jam segini?" Chesy melirik Mimin yang duduk di sofa, janda muda yang beberapa waktu lalu mendatangi rumah membawa jengkol untuk sang abi.
"Bukan itu yang abi tanya, tapi kamu dari rumah kontrakannya Cazim kan?" tanya Yunus.
Chesy mengernyit. Kenapa abinya sampai harus menatapnya tajam begitu jika hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya sudah Chesy lakukan?
__ADS_1
Bersambung