Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Patah


__ADS_3

Satu minggu berada di tahanan, tak lantas membuat Cazim merasa seperti di penjara. Dia tetap tenang. Hidupnya tidak patah meski harus menghabiskan waktu di tahanan. Tidak ada rasa takut. Hanya saja, hatinya gundah oleh keadaan Chesy, juga janinnya. 


Apa kabar Chesy? Dia mungkin tidak enak makan, bersedih dan risau dengan situasi ini. Berbeda halnya dengan Cazim yang tetap tenang. Sejak pertama kali datang ke tahanan membesuknya, Chesy belum muncul lagi untuk membawa kabar. 


Apakah istrinya itu sudah berhasil menemui Diatma dan membawa papa kandungnya itu kepada Yunus? Cazim bertanya-tanya. 


"Cazim!"


Kepala Cazim mendongak menatap sosok yang memanggilnya, ternyata Hamdan. 


Ah, manusia yang satu ini selalu ada di mana saja. Cazim yang tengah duduk di lantai itu pun tidak beranjak dari tempatnya. "Ada apa? Kenapa kau sampai kemari? Tempatmu bukan di sini. Apa kau mengintaiku?


"Cazim, aku mau membantumu. Kau menyuruh Chesy menemui papamu, kan? Tapi dia tidak berhasil. Kenapa kau tidak ingat padaku? Kenapa kau tidak meminta bantuanku?" tanya Hamdan.


"Kau lihat aku ditahan di sini kan? Bagaimana aku bisa meminta bantuanmu?" 


"Halah, bukannya kau bisa pinjam alat komunikasi untuk meneleponku? Cazim, aku sempatkan ke sini untuk menemui orang tuamu, tapi aku mendapat informasi bahwa beliau sudah terbang ke australia. Tapi aku sudah mengantongi nomer ponselnya. Apa kau mau bicara dengannya langsung? Atau aku saja yang meneleponnya?"


Cazim bangkit berdiri dan memegangi teralis. "Sampai detik ini aku masih belum tahu apa modusmu kenapa sebegitu besar ingin membantuku?"


"Buang pikiran negatifmu itu. Aku temanmu. Aku hanya ingin kau bebas."


Cazim mengedikkan pundak. "Akan selalu ada embel-embel di belakang bantuanmu. Aku sudah sangat mengenalmu. Kau bisa menghalalkan segala cara untuk dapat memenuhi keinginanmu, termasuk memperalat aku, memeras aku, atau bahkan menuntut apa pun atas jasamu itu."


"Cazim, lupakan momen buruk itu. Biarkan aku menjadi temanmu saat ini. Apakah salah aku memperbaiki diri? Ayolah!"


"Melalui pengacaraku, aku sudah bernegosiasi mengenai justice collaborator yang aku tawarkan pada pihak kepolisian sebelum kasus ini mengalir ke persidangan, sehingga ini akan mempermudah urusan."


"Lalu hasilnya?" tanya Hamdan.


"Masih dalam pertimbangan."

__ADS_1


"Setidaknya kau optimis dan yakin bahwa mereka akan setuju. Kau memiliki power dan nama besar, kau juga disegani dan ditakuti, kau memiliki kekuatan, ini hanya masalah teknis."


"Powerku sudah tergeser sejak kerajaanku di kepolisian bubar dan penyelewenganku terendus. Jadi jangan bicara kekuatan lagi."


"Ini terjadi karena beberapa anggota kepolisian yang jujur, baik, taat peraturan, dan membela kebenaran, kejahatanmu tersingkir juga. Ternyata masih ada juga segelintir manusia yang memiliki jiwa patriot dan penuh cinta seperti mereka. Baiklah aku tidak akan terlalu lama mendramatisir masalah ini, intinya aku akan berusaha menghubungi papamu, apa pun caranya. Keluarga besar Diatma pasti akan menerima pesan dariku, aku kan polisi."


Cazim tidak menanggapi lagi. Terserah saja apa yang akan dilakukan oleh Hamdan. Semoga saja temannya yang suka modus itu kali ini tulis membantu, tanpa pamrih. Susah berurusan dengan mental modus.


“Oh ya, mengenai kasusmu, ternyata dilaporkan oleh sekretaris Pak Diatma.  Dia membaca namamu yang ditulis di kertas, dia juga meminta security untuk mengecek cctv saat kau mendatangi kantor. Dia meyakini bahwa itu adalah Azzam Cand Cazim yang selama ini memiliki skandal besar.  Meski memakai masker, namun dia berhasil mencocokkan dengan fotomu di sosial media.  Dan tuduhannya ternyata terbukti benar,” jelas Hamdan.


“Ada masalah apa sekretaris Diatma itu denganku?”


“Pada intinya, dia tidak percaya bahwa kau adalah anaknya Pak Diatma, bosnya.  Sepengetahuannya, bosnya itu tidak punya anak.  Dia mengira kau punya rencana buruk kepada Pak Diatma sehingga dia langsung gerak cepat melaporkanmu ke polisi. Ya sudah, aku pergi sekarang!”


Hari itu juga, Hamdan ke rumah Diatma mengenakan seragam dinasnya, disambut baik oleh security yang berjaga. Beginilah nasib orang berseragam, dihormati dan disegani. Inilah yang membuat Hamdan bangga pada seragamnya, karena yang namanya manusia kebanyakan menilai manusia lain dari tampilannya. 


Hamdan dipersilakan masuk, dia pun memberikan pesan pada istrinya Diatma yang ada di rumah, bahwa Cazim alias sosok yang dikenal dengan nama Azzam itu berada di tahanan. Hamdan meninta pada istrinya Diatma supaya membantu menyelesaikan kasus yang menimpa Cazim.


Waktu itu, Diatma belum bisa dihubungi via telepon, sehingga akan coba dihubungi lain waktu.


***


"Mas Cazim, aku nggak bisa mempertemukan kamu dengan papamu," ucap Chesy yang saat itu membesuk Cazim di tahanan. Dia tampak risau dan sedih. Ini entah ke berapa kalinya ia membesuk Cazim di tahanan.


Cazim meraih tangan Chesy yang duduk berhadapan dengannya. Pria yang tetap tampak tenang itu mengusap punggung tangan istrinya. "Aku minta maaf, ternyata aku tidak bisa menunaikan tugas yang abimu berikan."


"Ini udah sebulan sejak kita meninggalkan rumah. Dan kita belum mendapatkan hasil apa-apa. Papamu nggak bisa ditemui, bahkan ayah Fatih pun kini sedang dalam mode kecewa terhadapmu. Awalnya aku ingin membawa ayahmu aja untuk menemui abi, tanpa kamu. Tapi ayah nggak mau. Ayah benar- benar kecewa terhadapmu."


"Aku paham itu. Dan aku tidak bisa memaksakan ayah untuk bisa memaafkan aku. Sudah banyak pengorbanan yang ayah lakukan untukku tapi berakhir dengan kekecewaan. Selain itu, aku juga sudah mengecewakan abi. Mengecewakanmu."


"Mas, aku memikirkan abi. Abi yang kehilangan umi dan justru menyerahkan putri semata wayangnya pada pembunuh istrinya. Dan abi hanya memberi syarat padamu supaya bisa mempertemukannya dengan besannya, juga supaya kamu bisa lepas dari skandal mu. Tapi semuanya nggak ada yang terwujud.”  Chesy menunduk, tidak tahu harus marah pada siapa.  Di sisi lain, hatinya sangat mencintai Cazim, namun di sisi lain, ia juga menghormati perasaan abinya.

__ADS_1


“Ternyata aku terlalu takabur, meyakini bahwa aku akan sanggup menyelesaikan misi ini dalam satu bulan, tapi Tuhan berkehendak lain,” sahut Cazim.  “Kasusku masih berjalan dalam tahap perundingan yang alot dan rumit.  Bahkan awalnya aku meyakini akan bisa atasi ini sendiri dalam tempo waktu yang ditentukan, tapi ternyata tangan Tuhan dengan cepat menyadarkan aku, bahwa aku tidak punya kekuatan apa pun melainkan hanya atas Kuasa-Nya.”


Chesy menarik napas dalam- dalam.  Setiap kali bertemu dengan Cazim di ruang pembesukan, ia merasa dunia sempit sekali.  Takut kalau Cazim akan mendapatkan hukuman berat dan ia akhirnya hidup sendirian.  Tidak ada suami, juga tidak mendapatkan restu dari abinya.


“Abi meneleponku,”  ucap Chesy.


“Abi marah padaku?  Dia mau kau kembali ke rumah dan menjauh dariku, begitu?”  Cazim yang selama ini selalu optimis akan segala hal, mendadak pesimis.  Satu harapan yang dia berikan kepada Chesy sudah runtuh dan harag dirinya juga terasa runtuh.  Dia tidak bisa menepati ucapannya sendiri untuk menuruti semua kemauan Yunus.


Sekarang sebenarnya apa yang diharapkan Chesy darinya?  Dia bukan lelaki baik, dia memberikan masa lalu buruk dan bahkan dampak buruk juga untuk kehidupan Chesy, bahkan sekarang pun dia berada di dalam tahanan.  Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk sang istri.  Harga dirinya benar-benar terasa runtuh.


Seharusnya Chesy tidak bertahan untuknya. Chesy berhak mendapatkan kebahagiaan dari sisi mana pun.


“Abi memintaku untuk pulang,” jawab Chesy.


“Pulanglah!  Turuti kemauan abi.”


“Aku nggak akan pulang selagi kamu masih di sini.”


“Tidak ada lagi yang bisa kau harapkan dariku.”


Tatapan Chesy langsung berubah.  Harapan di mata itu memudar.  “Kenapa kamu ngomongnya begitu?  Aku masih di sini karena aku mengharapkanmu, aku maunya kamu bebas dan menemani aku.”


“Sayangnya harapanmu itu tidak bisa aku wujudkan.”


“Kenapa kamu putus asa?  Dimana semangat dan optimismu?” gertak Chesy.  “Apa kamu nggak mau mendapatkan dukungan dari istrimu?  Apa kamu nggak mau didampingi istri?”


Cazim pun tidak tahu kemana semua harapan itu.  “Sekarang pikirkan abi.  Aku bisa urus diriku sendiri di sini.  Dan satu hal lagi, jika kau merasa jenuh, atau bahkan tidak kuat dengan situasi ini, kau boleh meminta aku menalakmu.  Rawat anak kita jika sudah terlahir dengan baik.”  Cazim bangkit berdiri dan meninggalkan meja.  


Chesy membeku di tempat, tertunduk.  Ternyata harapannya yang begitu tinggi tidak dibarengi dengan semangat oleh Cazim.


Di sini, seharusnya Cazim lah yang berjuang untuk bangkit, bukan Chesy.  Tapi kenapa Cazim malah surut?  

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2