
POV Revalina
Malam semakin larut namun Revalina, Rival dan Sarah masih menunggu Candini pulang. Mereka duduk bersama di ruang tamu yang langsung menghadap ke pintu utama.
Rasa kantuk yang Revalina rasakan sudah semakin kuasa untuk ditahan, perlahan kepalanya mulai tersandar di bahu Sarah lalu tak lama terpejam.
"Reva, kau tidur saja dulu," ucap Rival.
Sontak Revalina terkejut, sepersekian detik matanya terpejam sudah hampir masuk ke alam mimpi seketika langsung tersadarkan dengan suara Rival.
"Ya ampun maaf-maaf," ucap Rival ikut terkejut.
"Nggak papa Mas, ini cuma butuh kopi saja," sahut Revalina bergegas ke belakang mengambil satu kaleng kopi yang ada di kulkas lalu membawanya ke ruang tamu dengan kedua matanya yang kini terbuka lebar.
"Mantap juga ini kopi, bisa aku bawa ke kantor besok biar melek terus," gumam Revalina lirih.
Ia pun kembali duduk di sebelah Sarah, tak lama baru tersadar jika jam pulang Kakak iparnya ini sudah terlewat beberapa jam namun dia tetap duduk santai di sini.
"Mbak malam ini menginap di sini?" tanya Revalina pada Sarah.
"Iya, Yakub belum pulang ada lembur katanya. Dari pada aku di rumah sendirian mending menginap di sini sekalian," jawab Sarah.
"Mbak Sarah kalau mau tidur duluan nggak papa Mbak, Reva juga. Biar aku yang tunggu Mama pulang," ucap Rival pada kedua wanita di hadapannya.
Revalina tetap menggeleng tak mau membiarkan suaminya menunggu Candini seorang diri di ruang tamu yang semakin malam terasa semakin horor meski tubuhnya sudah sangat kelelahan setelah seharian di kantor.
Gelengan kepala itu langsung menular pada Sarah yang juga tak mau tidur lebih awal.
"Coba aku telfon Mama," ucap Rival kembali.
Rival mulai meraih ponselnya yang ada di meja tepat berada di hadapannya, tiba-tiba secara bersamaan suara mobil terdengar mulai masuk ke dalam pekarangan rumah lalu terparkir di garasi.
"Nah, itu Mama sudah pulang," ucap Sarah tersenyum lega.
Berbeda dengan ekspresi Revalina ketika mendengar suara mobil sang mertua, ia justru sedih sebab sudah terlanjur meminum kopi ternyata tak lama mertuanya pulang.
'Tahu begini lebih baik aku tahan saja mataku pakai kayu, kalau sudah begini aku bakal susah tidur,' keluh Revalina dalam hati.
Klekkk.
Pintu mulai terbuka, terlihat Candini dari balik pintu membawa satu bungkus makanan. Tak seperti yang ada pada bayangan Revalina dan Sarah tadi.
"Assalamualaikum," ucap salam Candini mulai masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab semua secara bersamaan.
Klekkk.
__ADS_1
Pintu utama kembali di tutup dan di kunci olehnya, mereka semua masih terlibat adu tatap kebingungan.
"Mama dari mana, jam segini baru pulang. Bukannya aku sudah minta buat pulang jangan sampai lewat jam 10?" tanya Rival dengan kening mengerut tajam.
Candini terkejut, dia langsung melihat jam tangannya lalu kembali menatap Rival dengan tatapan yang menunjukkan dirinya semakin terkejut.
"Ya Tuhan, Mama sampai lupa sangking senangnya belanja. Ya maklum saja ibu-ibu kalau lagi lihat diskonan," sahut Candini sembari tersenyum.
"Diskonan yang mana Ma, Mama dari siang sampai malam cuma beli kue saja?" tanya Sarah.
Terlihat jelas dari kantung plastik bening itu hanya ada terdapat satu box kue yang ada di sebrang jalan raya dekat rumah, siapa yang tak curiga jika melihat keanehan ini.
"Oh ini," ucap Candini mengangkat belanjaan nya.
"Tadi itu Mama beli banyak cuma sudah memakan tapi yang ini belum sama sekali. Kalau barang di mall Mama tadi beli piring cantik-cantik tapi Mama suruh kirim saja, nggak kuat Mama bawanya," jelas Candini pada Sarah.
Revalina hanya terdiam, ia tak berani bertanya-tanya pada mertuanya ini. Sudah terbayangkan dengan perbedaan respon Candini ketika dirinya yang bertanya.
"Lah, bukannya Mama mau beli panci?" tanya Sarah makin kebingungan.
"Oh panci, iya tadi itu mau beli tapi masih kemahalan kualitasnya juga kurang jadi Mama nggak jadi beli," jawab Candini masih dengan senyum manisnya.
"Sudah ya interogasinya, Mama mau istirahat capek seharian jalan-jalan," pamit Candini bergegas pergi menuju ke kamarnya.
"Lain kali kalau pergi jangan sendiri ya Ma," tegur Rival memandang punggung Candini yang semakin jauh dari pandangan matanya.
Terlihat Rival masih begitu cemas dengan Candini namun masih memberinya celah untuk beristirahat sebelum menuntaskan rasa cemasnya lebih lama lagi.
"Kau curiga juga nggak?" tanya Sarah berbisik lirih ke arah telinga kiri Revalina.
"Iya," jawab Revalina lirih pula.
Setelah mengetahui Candini sudah pulang, mereka pun tidur di masing-masing kamar. Sarah tidur di kamarnya dan Revalina tidur bersama Rival di kamarnya. Dan benar, ia tak bisa tidur akibat meminum setengah kaleng kopi tadi.
Beruntung Sarah juga tak bisa tidur alhasil semalam melalui chat pribadi mereka bertukar pesan membahas tentang kejanggalan Candini sampai pagi.
Tiba pada jam 3 pagi Revalina baru bisa tertidur dengan pulasnya, namun kepulasannya langsung tersingkirkan oleh suara adzan yang sudah menggema menunjukkan waktu subuh telah tiba.
"Reva, bangun sudah subuh," panggil Rival yang sudah mengenakan sarung dan baju koko.
"Satu menit lagi Mas," sahut Revalina makin erat memeluk guling dan menarik selimutnya.
Entah kenapa di saat-saat subuh begini bantal, guling dan selimut terasa begitu nyaman sangking nyamannya tak rela untuk ditinggalkan.
"Satu menit nanti kebablasan satu jam, nggak bisa bangun sekarang," ucap Rival lebih tegas lagi.
"Hih iya-iya, padahal aku cuma minta satu menit saja nggak boleh nggak tahu apa aku baru tidur," gerutu Revalina bergegas beranjak dari tidurnya melempar guling dan selimut secara asal.
__ADS_1
"Baru tidur?" tanya Rival terkejut.
Kedua kaku Revalina yang baru menapak ke lantai mendadak kaku tersadar dengan ucapannya yang tak seharusnya ia ucapakan.
"Jadi kamu semalaman nggak tidur?" tanya Rival kembali.
Dengan perasaan takut perlahan Revalina menoleh ke arah Rival, tersenyum-senyum menutupi rasa takutnya.
"Gara-gara kopi Mas, tapi nggak lama tidur kok," jawab Revalina sedikit jujur namun masih tetap menyelipkan kebohongan.
"Ya Tuhan, terus gimana pagi ini kamu harus kerja?" tanya Rival menatap khawatir.
"Santai saja, aku sudah nggak mengantuk lagi," jawab Revalina dengan santainya.
Beberapa detik kemudian mulutnya tiba-tiba menguap, benar-benar tak bisa diajak kompromi. Reflek Revalina langsung menutup mulutnya.
"Tuh kan masih menguap," ucap Rival.
"Ini kena air wudhu juga langsung fresh lagi," sahut Revalina sembari terus tersenyum.
Pagi itu setelah sholat, Revalina tak berlanjut mengerjakan pekerjaan rumah. Secara langsung Rival memerintahnya untuk tidur sebelum berangkat ke kantor.
Saat itu Revalina hanya bisa menuruti perintah Rival tanpa berpikir panjang tentang tumpukan cucian yang selalu menggunung belum lagi baju-baju yang harus di setrika.
Anehnya ketika mereka sarapan bersama, Candini nampak begitu bahagia tersenyum sepanjang waktu tak menyingung rumah yang masih kotor apalagi cucian di belakang.
'Tumben Mama nggak marah-marah, biasanya suruh aku ini itu, komentar ini belum bersih itu belum di cuci. Ini dia malah senyum-senyum terus apa iya ini efek dari healing dia kemarin sampai larut malam,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
Secara bersamaan Revalina dan Sarah saling melirik, berbicara melalui lirikan mata. Namun lirikan itu tak bisa berlangsung lama hal ini untuk menghindari kekecewaan pada Rival karena Mamanya tengah dibicarakan oleh pada menantunya.
"Bahagia sekali kelihatannya Ma, cerita lah ada apa," singgung Rival dengan senyum bahagianya melihat Candini kembali tersenyum setelah keterpurukannya yang berlangsung selama berminggu-minggu.
"Nggak ada apa-apa lagi bahagia saja," sahut Candini.
"Ah aku tahu, pasti Mama bahagia bisa jalan-jalan sampai larut malam kemarin ya kan," tebak Rival.
"Iya," jawab Candini singkat.
"Aku bahagia kalau Mama bahagia, tapi Mama kalau mau pergi sampai larut malam harus ditemani ya Ma jangan sendiri seperti semalam, aku khawatir," ucap Rival berakhir teguran untuk Candini.
"Iya-iya," sahut Candini.
Tak hanya rona bahagia yang ditunjukkan Candini, dia juga menunjukkan bagaimana lahapnya menyantap sarapannya bahkan dengan posisi dua kali lipat dari biasanya.
'Ada apa sama mertuaku ini, aku jadi takut, jangan-jangan mertuaku ini tertukar dengan jin di jalan' ucap Revalina dalam hati mulai ketakutan sendiri.
Bersambung
__ADS_1