
"Biarkan akau menangis sampai aku merasa lega, abi. Aku mau menangis saja." Chesy makin ngilu menatap wajah Cazim. Pria itu sudah memeluk wanita lain.
Cazim hanya menatap tangisan itu dengan dahi bertaut. Tadi ia sudah melihat Chesy yang tersenyum dan bahkan sempat mengatakan kalau wanita itu mencintainya. Lalu sekarang tiba-tiba Chesy menangis tersedu. Itu bukan karena merasa trauma atau pun terpukul atas kejadian tadi.
Cazim mendekati Chesy. Duduk di pinggir bed. Ia mengusap air mata di pipi Chesy.
"Kau mau makan?" tanya Cazim.
Chesy menggeleng.
"Aku tau kau wanita kuat, kau pasti tidak akan menangis," ucap Cazim.
"Sudah. Jangan dekat aku dulu. Sekarang aku mau sendiri."
Cazim mengangkat alis. "Kau tidak bisa sendiri. Kau harus dijaga."
"Biarkan abi yang menjagaku sekarang. Setelah abi pergi nanti, barulah kamu bisa menjagaku."
"Apa kalian bertengkar?" tanya Yunus secara terbuka.
Chesy memejamkan mata, tak mau menjawab.
Cazim pun diam.
"Ya sudah, itu masalah kalian. Pasti kalian bisa menyelesaikannya." Yunus tak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.
"Baiklah, aku keluar dulu." Cazim meninggalkan kamar dengan langkah yang masih pincang.
__ADS_1
***
Ini adalah hari ke tujuh Chesy dirawat di rumah sakit. Ia sudah bosan sekali. Ingin cepat pulang. Tapi proses perawatan memakan waktu lama. Terutama perawatan bagian leher.
Pihak perwakilan sekolah kemarin datang menjenguknya, ada kepala sekolah, beberapa guru, Sarah dan dua orang anak sekolah. Cukup terharu dijenguk oleh mereka. Hati pun terhibur.
Sedangkan Cazim menolak jadwal panggilan untuk mengisi tausiah di beberapa acara, ia juga menolak saat kepala sekolah menawarkannya untuk menjadi guru agama di sekolah. Alasannya, ia sedang menjaga istrinya di rumah sakit.
"Makan?" Cazim menawarkan bubur yang disediakan suster pada Chesy.
Chesy diam saja.
"Aku akan menyuapimu." Cazim mengangkat sendok yang sudah diisi dengan bubur.
"Aku nggak berselera makan."
Chesy terenyuh mendengar kalimat itu. Cazim rela mencarikannya sesuatu supaya ia berselera makan.
"Nggak usah. Kamu melakukan itu cuma hanya karena kasian, kan? Malah lebih kasian aku kalau dikasihani, jadi jangan melakukan sesuatu yang dapat membuatku di PHP."
"Kau bisa mati kalau tidak makan," ucap Cazim datar.
"Aku nggak sebodoh itu, yang mau mati sia- sia. Setidaknya jika mati di luar kuasaku, itu baru benar."
Cazim menarik sudut bibirnya, membentuk senyum kecil. Dia tampak sangat tampan dengan wajah dihias senyumannya itu.
"Sejak aku di sini, kau selalu aku suapi kan? Atau sudah bosan aku suapi dengan sendok? Maunya pakai sekop?"
__ADS_1
Chesy mengernyit.
"Mas, kalau kamu mau kerja, ya kerja aja. Aku nggak menahanmu. Hanya saja, aku nggak ridha dan nggak sudi kalau kamu menemui Senja, apa pun alasannya." Chesy mengalihkan pembicaraan.
"Assalamualaikum!" sapa Yakub, abangnya Rival, bocah paling bandel di sekolah.
"Waalaikumsalam." Chesy menyahuti.
Yakub melempar senyum tanda menyapa Chesy dan Cazim.
"Apa labar, Cazim?" Yakub bersalaman dengan Cazim.
"Baik." Cazim mengangguk singkat.
"Chesy, aku mendapat kabar dari sekolah kalau kau kecelakaan, kebetulan aku sedang menjenguk Rival. Dia DBD dan dirawat di rumah sakit yang sama," jelas Yakub.
"Ya Tuhan, moga Rival cepat sembuh dan bandelnya kurang. Dan makasih kamu udah mau menjengukku." Senyum Chesy mengembang lebar.
"Loh, kok belum makan? Ini sudah lewat jam makan." Pandangan Yakub mengarah pada bubur yang belum tersentuh.
"Coba saja kamu suapi aku, mungkin aku bisa makan. Leherku sakit, tanganku juga sakit, kesulitan makan sendiri."
Mata Yakub melirik ke arah Cazim. "Mungkin Cazim bisa melakukannya."
"Tangan Cazim juga sakit pasca kecelakaan," sahut Chesy cepat.
"Baiklah, maaf Cazim." Yakub permisi terlebih dahulu pada suaminya Chesy. Ia mengambil mangkuk dan mulai menyuapi Chesy.
__ADS_1
Bersambung