Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Fakta Yang Terungkap


__ADS_3

Malam menjadi sangat indah belakangan ini. Setiap di kasur, Chesy menoleh dan mendapati wajah Cazim di dekatnya.


Setelah selesai mandi, pagi itu Chesy keluar kamar. Menyusul Cazim yang lima belas menit yang lalu sudah lebih dulu meninggalkan kamar.


Di ruang tamu, Chesy mendengar suara nada pesan yang bersumber dari hp. Entah hp milik siapa. Segera ia mencari sumber suara, didapatinya hp Cazim tergeletak di meja ruang tamu. Chesy menyambar hp tersebut.


Selama ini ia tidak pernah mau peduli dengan hp suami, namun belakangan ini ia sangat peduli.


Nama Senja muncul di notifikasi, gadis itu mengirimi chat. Tanpa membuka chat tersebut, Chesy membaca pada notifikasi.


'Temui aku sekarang. Ada yg harus kita bicarakan. Kemarin aku lupa mengatakan ini. Seminggu lagi aku akan pulang, kamu jadi antarin aku kan?'


Oh rupanya beberapa hari terakhir ini mereka masih terus ketemuan. Sakit sekali rasanya membaca chat itu. Keragu-raguannya terhadap Cazim terjawab sudah. Ternyata pria itu diam-diam memang masih berhubungan dengan Senja. Inilah yang disebut selingkuh?


Setelah apa yang mereka lakukan selayaknya pasangan suami istri, bahkan kepercayaan Chesy seutuhnya hanya untuk Cazim, kini Cazim malah mengkhianatinya. Ini lebih menyakitkan dari apa pun.


Chesy kembali meletakkan hp di meja. Sekarang Chesy tahu apa yang harus ia lakukan.


Chesy menoleh saat melihat Cazim memasuki ruangan. Pria itu tampak mencari sesuatu dan kebingungan.


"Cari hp?" tanya Chesy.


Cazim menatap Chesy.


"Tuh." Chesy menunjuk hp.


Cazim bergegas meraih hp dan mengusap layar untuk membuka notifikasi yang masuk. Pria itu segera pergi.


Chesy mengawasi punggung suaminya hingga menghilang dari pandangan.


Pasti dia mau menemui Senja. Gerakannya terburu-buru sekali. Ternyata Senja memang sangat berarti bagi Cazim.

__ADS_1


***


Cazim menghentikan motornya di sisi sungai, dimana Senja sudah menunggu. Cazim menghampiri Senja dan duduk tanpa alas di sisi gadis itu, menatap ke arah sungai.


"Cazim! Aku menunggumu sejak tadi." Senja bahagia sekali menatap kedatangan Cazim. Wajahnya sumringah.


"Kau pulang sendiri saja."


"Pulang sendiri?" Senja terkejut.


"Kita tidak perlu bertemu lagi." Cazim datar.


"Kenapa?"


"Semuanya sudah berakhir. Jangan pertanyakan lagi tentangku. Kau pulanglah sekarang! Setelah itu jangan pernah kembali ke sini lagi!" Cazim bangkit dan meninggalkan Senja.


Singkat, padat dan jelas. Itulah yang diucapkan Cazim. Ia meninggalkan Senja dan berlalu pergi.


"Cazim mana?" tanya Chesy tanpa basa-basi.


Senja menggeleng pelan.


"Kamu bersamanya tadi kan?" sambung Chesy. "Kamu tahu kalau Cazim sudah beristri, tapi kenapa masih terus mendekatinya? Kamu punya harga diri kan?"


"Kamu salah kalau harus marah padaku. Seharusnya kamu tanyakan itu pada Cazim. Cazim lah yang mengatakan cintanya ke aku. Dialah yang menginginkan aku."


"Sekuat apa pun lelaki mengejar wanita, jika si wanita menolak dan menjauh, pasti semua tidak akan terjadi. Sekarang semua hanya tergantung padamu." Chesy tegas.


"Kamu tidak perlu cegah aku, tidak akan ada yang namanya perselingkuhan jika lelaki tidak gila.pada wanita di luaran sana. Aku dan Cazim memiliki masa lalu yang cukup dalam. Kamu adalah orang baru dan tidak mengerti hubungan kami sejauh mana."


"Sudah, cukup! Mulai sekarang kamu kembalilah ke kotamu, jangan pernah kembali lagi ke sini. kita lihat sejauh apa Cazim akan mengejarmu. Jika memang dia tetap akan mengejarmu setelah kamu pergi dari kota ini, maka aku sudah paham apa yang harus aku lakukan."

__ADS_1


Senja tersenyum tipis. "Sebesar itu rasa contamu padanya? Sampai kamu masih mau mempertahankannya meski kamu tahu isi pikiran Cazim itu hanya aku. Aku iba padamu. Lebih baik lepaskan dia dan biarkan dia lepas darimu. Sejauh ini dia tidak mau melepaskanmu karena banyak alasan."


"Aku berhak mempertahankan rumah tanggaku, menjauhkan suami dari pelakor."


"Sekali lagi, bukan pelakor yang salah. Tapi suamimu lah yang harus belajar mencintaimu sehingga pikirannya bisa lepas dari wanita lain. Aku kasihan padamu bila harus terus mengejar lelaki yang tidak mencintaimu." Senja menatap iba.


Tangan Chesy mengepal. Hatinya kesal sekali. Kesal pada Cazim, juga pada Senja. "Itu akan menjadi urusanku, urusanmu adalah menjauh dati Cazim."


"Chesy, lebih baik kamu pikirkan lagi apakah harus mempertahankan Cazim atau tidak. Setelah kamu tahu siapa Cazim, pasti kamu tidak akan mau meneruskan rumah tanggamu."


Chesy tersenyum miring. "Memangnya apa yang harus aku takutkan dari semua itu? Aku akan menerima masa lalu Cazim, apa pun itu. Baik buruknya akan menjadi bagian hidupku juga. Semua orang punya masa lalu, entah baik atau buruk."


"Sayang sekali ini bukan masa lalu Cazim, tapi masa lalumu."


Chesy tergugu. Apa maksud Senja?


"Cazim berada di kota kecil ini karena dia bersembunyi dari pengejaran polisi. Dia mencari tempat yang tidak tercium polisi," sambung Senja.


"Tetap saja itu nggak mengubah apa pun. Aku tetap istrinya. Lagi pula, apa yang membuatku harus mempercayaimu?"


"Kamu bisa tanyakan ini pada Hamdan, dia adalah lelaki berseragam yang makan duit Cazim. Uang tutup mulut sehingga Cazim punya pelindung dan aman dari pengejaran polisi."


"Sudahlah, itu urusan suamiku. Kamu nggak perlu ikut campur."


"Setidaknya kamu perlu tahu kasus apa yang menjerat Cazim."


"Nggak perlu," bantah Chesy.


"Dia bandar narkoba, dialah yang membunuh ibumu. Apakah kamu masih mau mempertahankannya?"


Chesy terkejut, mematung seketika.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2