
Chesy membuka mata ketika merasakan hawa yang sangat sejuk sekali. Bahkan tubuhnya sampai meringkuk seperti ulat bulu skaing dinginnya.
Kenapa bisa sampai sedingin ini? Seperti di kutub saja? Selimut mana? Chesy meraba- raba mencari selimut di kamar yang remang- remang itu, namun tidak dia temukan.
“Hah?” Ia terkejut melihat rok yang tersingkap sampai ke pangkal paha. Cepat ia menarik rok dan menutup ke bawah. Temperature AC dingin sekali. Badan Chesy sampai meggigil. Kulit tubuhnya sampai menjadi dingin.
Kasur di sebelahnya sudah kosong. Cazim entah kemana.
Ini pasti kerjaan pria aneh itu. sengaja mengubah temperature Ac menjadi sangat dingin sekali. Chesy mencari remot Ac namun tidak menemukannya. Apakah remotnya disembunyikan? Keterlaluan!
Chesy kesal bukan main. Kamar yang tadinya terasa sejuk dan nyaman, kini berubah jadi seperti kulkas.
“Sudah bangun?” Cazim keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililit pinggang, tak peduli tubuh berotot yang menampilkan perut rata dan paduan dada bidang itu terekspos.
Muka Chesy memanas dan segera berpaling saat menyaksikan itu. suasana dalam satu kamar bersama dengan lelaki yang kondisi badannya bertelanjang dada begitu, membuat Chesy jadi salah tingkah. Malah malu sendiri. Ia memutar badan dan membelakangi Cazim.
“Cepat pakai bajumu!” Chesy menutup matanya.
“Aku sedang pakai baju,” jawab Cazim santai.
__ADS_1
“Kenapa Ac nya dibikin dingin banget gini?” gertak Chesy gedeg bukan main.
“Ini sudah beberapa menit sejak adzan subuh berlalu.”
Chesy membelalak. Jadi sudah adzan subuh? Kenapa ia tidak dengar? Ah, Chesy kan memang selalu tidak mendengar suara adzan subuh karena steiap pagi selalu bangun kesiangan.
“Oh, jadi begini caramu membangunkan aku? Sengaja membuatku kedinginan? Selimut disembunyikan, suhu ruangan dibikin dingin, remot Ac pun disembunyikan. Jelaslah aku nggak bisa tidur karena keidnginan.” Chesy menggerutu.
Tit.
Ac dimatikan. Chesy segera menoleh ke belakang, menatap Cazim yang baru saja mengambil remot dari laci dan mematikan Ac.
“Ya, tapi bukan dengan cara ini kamu membangunkan aku. Bisa mati kedinginan aku. Ngerti?” Chesy benar- benar tidak bisa berdamai dengan Cazim, setiap melihat wajah itu, kemarahannya memuncak.
“Tapi cara ini ampuh membuatmu langsung terbangun!”
“Aku nggak suka!” hardik Chesy.
“Justru sesuatu yang tidak kau sukai ini memberikan manfaat yang baik untukmu.”
__ADS_1
Plak!
Chesy memukul pipi Cazim sangat kuat. Lelaki di hadapannya itu malah berkeras, membuat Chesy semakin marah karena perkataannya dibantah terus.
“Kamu bisa dengar aku nggak? Aku nggak suka dengan caramu ini. Aku nggak suka kedinginan!”
“Lebih baik kau kedinginan dari pada aku yang dinilai gagal mengajarimu oleh abi.”
“Lebih penting penilaian abi ketimbang mikirin nasib aku?”
“Justru akus edang memikirkan nasibmu. Sudahlah, jangan banyak bicara! Suka atau tidak suka, ini caraku!” tegas Cazim dengan sorot mata tajam.
“Aku bilang aku nggak suka caramu. Kalau kau mengulangi lagi, maka aku nggak akan memaafkanmu!” Chesy histeris.
Melihat kehisterisan Chesy, Cazim terdiam dan menatap lekat.
Mata Chesy kemudian berembun. “Kamu itu laki- laki. Tapi kenapa nggak mikir. Apa yang disukai perempuan dan apa yang nggak disukainya? Seharusnya kamu mikir, jangan asal berbuat. Aku juga udah bilang nggak suka, tapi kamu ngotot membenarkan argumenmu.”
Cazim menelan, tidak mau membalas perkataan Chesy lagi. Senjata wanita memang selalu dengan air mata.
__ADS_1
Bersambung