
Beberapa tahun telah berlalu. Chesy yang selama ini tidak memiliki kesempatan waktu untuk membesuk Cazim, memilih untuk mengalah oleh waktu. Tak mungkin ia kembali pada Yunus, mengaku bahwa suaminya masuk tahanan, itu hanya akan menambah masalah baru. Sebisa mungkin ia menutupi kenyataan itu.
Biarlah ayahnya beranggapan bahwa ia memilih hidup jauh dari orang tua dan membina rumah tangga bersama Cazim, tanpa perlu abinya tahu bahwa Cazim berada di tahanan atas kasusnya. Sebab saat hal itu terjadi, maka akan sulit bagi Cazim diakui sebagai menantu. Biarlah, sepengetahuan Yunus, Chesy memilih pergi bersama suaminya, ketimbang Yunus tahu akan nasib Cazim saat ini.
Chesy pernah mendatangi rutan, namun tidak bertemu Cazim karena Cazim sudah dipindahkan ke tahanan lain. Waktu Chesy benar-benar tersita mengurus restoran dan ketiga bayinya. Ia pernah menyewa baby sitter, tapi Revalina yang masih bayi malah terjatuh saat di tangan baby sitter. Mungkin itulah sebabnya otak Revalina yang kecil itu sering lengser dan kebanyakan ngamuk. Hi hiii….
Bahkan baby sitter yang tidak sabaran itu malah memukul Revalina yang rewel, dan perilaku itu dipergoki oleh Chesy. Saat itulah Chesy baru menyadari bahwa kepala Revalina yang memar adalah bekas terjatuh, atau mungkin malah dibenturkan. Sebab baby sitter tidak pernah jujur akan kondisi Revalina yang ternyata kepalanya memar.
Semenjak kejadian itu, Chesy trauma menyewa orang lain untuk mengurus anaknya. Ia lebih memilih untuk merawat anaknya sendirian saja, meski lelah fisik dan batin, namun ia puas atas kerja kerasnya sendiri.
Chesy pun tidak akan pernah membawa anak- anaknya ke tahanan, ia berpikiran bahwa itu akan memberikan mental yang kurang baik. Penjara bukanlah tempat yang baik untuk pendidikan mentalnya. Terlebih kasus yang menimpa Cazim bukan karena salah paham atau kasus ringan, melainkan kasus besar. Lebih baik anak- anaknya tidak mengetahui hal itu. Sama sekali tidak.
Setelah Cazim bebas, Chesy memang memilih untuk tidak menemui Cazim. Ya, memang lebih baik tidak. Ia ingin menjadi ibu dan ayah untuk anak- anaknya, tidak perlu Cazim masuk di kehidupannya lagi. Ia ingin bebas dari segala masalah.
Apakah artinya Cazim membawa masalah? Bukan itu maksudnya, tapi Chesy ingin hidup sendiri saja. Ingin tenang. Ia sudah memilih jalan ini jauh sebelum Cazim bebas. Hidup sendiri tidak buruk. Dia sudah berpengalaman hidup tanpa suami.
Sampai akhirnya kini Tuhan malah mempertemukannya kembali dengan Cazim. Tujuh tahun semuanya berlalu, Chesy berusaha move on, meninggalkan bayang- bayang masa lalu, tapi Tuhan berkehendak lain.
“Umi, kenapa lama banget sih?” Revalina menyusul ke dapur. Langkahnya terseok, mengantuk. Menabrak- nabrak meja.
“Maaf.” Chesy cepat- cepat menyerahkan gelas.
“Kalau gini mah, sama aja Revalina yang jalan ke dapur sendrian.” Bocah itu menyambar gelas dan meneguk minum.
Tangan Chesy menrai gelas dan menjauhkannya dari bibir Revalina, membuat bibir bocah yang sudah manyun itu pun kembali datar.
“Baca bismillah dulu!” tegur Chesy.
__ADS_1
Revalina mengangguk. Membaca basmallah kemudian meneguk minum sampai habis.
“Antar Revalina ke kamar ya, Umi!” pinta bocah itu.
“Iya.” Chesy menggandeng Revalina meninggalkan dapur. Ia harus melewati ruang tamu untuk sampai ke kamar anak itu.
Tepat saat melintas di raung tamu, ia melihat Cazim berdiri di tengah- tengah ruangan.
“Umi kenapa pakai cadar? Biasanya enggak,” ucap Revalina merasa heran melihat cadar di wajah uminya.
Chesy hanya diam sambil terus berjalan.
“Umi, ada pak polisi. Mereka mau ngapain?” tanya Revalina.
Chesy berhenti. Ia menunjuk Revalina dan berkata, “Ini Revalina. Silakan jika ingin bertanya kepadanya. Tolong jangan lama.”
“Rajani. Bukannya namamu Rajani?” tanya CAzim.
“Bukan. Itu nama kembaran Revalina,” jawab Revalina polos.
Cazim menatap barisan putih gigi bocah itu. ah, iya. Giginya bersih. Sedangkan bocah yang memperkenalkan namanya sebagai Rajani itu giginya hitam. Mereka dua raga yang berbeda, namun wajahnya angat mirip sekali. Hanya gigi hitam yang membedakan. Kali ini Revalina tidak mengenakan hijab karena baru saja bangun tidur. Namun Cazim masih dapat mengenal wajah itu dengan jelas.
Chesy melihat wajah Cazim berbeda dari yang tadi. Kini wajah itu tampak tidak tenang.
“Aku akan tanyai Revalina sekarang, bisa?” tanya Cazim dengan nada bicara yang berubah. Tadi dia kelihatan biasa saja, tapi kini ekspresi dan nada bicaranya berubah.
Chesy mengangguk.
__ADS_1
“Revalina, saya minta waktunya sebentar. Bisa?” tanya Cazim menatap Revalina yang menatapnya polos.
Revalina mengangguk.
“Beberapa waktu lalu, di sekolah kamu sempat melihat Pak Guru memukuli tukang kebun, benar kan?” tanya Cazim lembut.
“Iya.”
“Baiklah, kejadiannya bagaimana? Apa yang kamu lihat di sana?”
“Revalina sedang petak umpet sama teman saat jam istirahat. Lalu Revalina melihat bapak tukang kebun masuk ke ruangan gudang. Terus menyusul Pak guru yang masuk dan langsung pukulin tukang kebun sampai jatuh di lantai.”
“Oh, jadi tidak ada pemukulan awal dari tukang kebun ke pak guru ya? Berarti yang memulai pukulan adalah pak guru?”
“Benar. Setelah itu Revalina ngapain?”
“Revalina masih sembunyi saat pak guru pergi. Bapak tukang kebun pingsan. Terus Revalina minta bantuan guru lain. Begitu.”
Anak pintar! Dia bercerita dengan lancar sesuai dengan apa yang dia saksikan. Guru itu mengaku mendapat pukulan lebih dulu hingga membuatnya merasa naik pitam dan membela diri. Ada luka di caruk leher yang dia jadikan alibi. Tapi semua itu bohong. Cazim sudah mendapatkan pengakuan jelas dari Revalina.
“Baik. Terima kasih atas penjelasannya. Sekarang kamu boleh tidur,” sambung CAzim.
“Makasih, Om.” Revalina menghambur masuk ke kamar.
Tatapan Cazim kini tertuju ke mata Chesy. “Chesy Caliana!”
Chesy terkejut mendengar Cazim menyebut nama lengkapnya. Dari mana pria itu tahu?
__ADS_1
Bersambung