Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Dianggap Psikopat


__ADS_3

Revalina sengaja naik taxi agar sewaktu-waktu ada apa-apa dengan Chesy, Rafa tak kerepotan mencari kendaraan. Selama dalam perjalanan Revalina coba menghubungi Sarah bertanya padanya tantang Rival hari ini.


Dan syukurlah dari penuturannya mengatakan bahwa Rival sudah mau makan dan minum obat secara teratur bahkan hari ini dia sudah membersihkan diri dibantu oleh Yakub. Sebuah progres yang luar biasa, Revalina tak bisa berkata-kata selain mengucap syukur pada Tuhan.


Beberapa lama kekuatan akhirnya ia tiba di kediaman Candini, langsung masuk ke pekarangan rumahnya dan ketika kaki mulai menginjak di teras rumah Candini tiba-tiba jantung memompa darah dengan sangat cepat membuat dadanya terasa begitu sesak. Ia takut akan penolakan dan cacian Candini.


'Sudah jauh-jauh ke sini aku nggak mungkin mundur,' ucap Revalina dalam hati.


"Tok tok tok tok," tangan Revalina gemetar mengetuk pintu rumah itu.


"Iya, sebentar," sahut seseorang dari dalam rumah.


Klekkkk.


Perlahan pintu terbuka, terlihat Candini dengan wajah terkejutnya membuka pintu rumah. Tak lama reaksi terkejutnya berubah jadi kesal.


"Assalamualaikum Ma," ucap salam Revalina mencium punggung tangan Candini.


"Waalaikumsalam," jawab salam Candini dengan nada ketus, menerima ciuman tangan Revalina namun acuh.


"Untuk apa kamu kesini, mau bikin anak saya celaka lagi?" tanya Candini mulai meninggikan nada bicaranya.


Revalina menggeleng cepat, karena memang bukan itu niatnya. Pertanyaan Candini sejak awal sudah berusaha membunuh mentalnya, namun itu bukan halangan bagi Revalina untuk mengambil hati Rival beserta keluarganya.


"Enggak Ma, aku kesini mau kasih sarapan buat mas Rival sekalian jenguk," jawab Revalina menepis cepat pertanyaan berbau tuduhan dari Chesy.


"Rival lagi istirahat nggak bisa diganggu, lebih baik kau pulang saja jangan racuni anak saya dengan makanan mu itu," ucap Candini terus bersikap dingin dengan menantunya.


Jika biasanya seseorang akan mengusir orang lain dengan cara halus, berbeda dengan Candini yang mampu mengusir orang dengan cara yang paling kasar.


Mendengar penolakan itu Revalina terdiam sejenak menata hatinya agar tak memasukkan ucapan Candini ke dalam hati, ia harus memaksa harinya untuk kuat.


"Reva mohon Ma, kali ini izinkan Reva jenguk Mas Rival," Revalina memohon-mohon pada Candini.


"Ada apa ini Ma?" tanya Yakub tiba-tiba keluar dari rumah dengan pakaian rapi.


Seketika nafas Revalina berembus lega melihat harapan ada di depan matanya, ia sangat yakin Yakub mau menolongnya, mau memberinya kesempatan untuk menjenguk Rival bahkan memperbaiki keadaan.


"Ini, ipar mu mau jenguk Rival," jawab Candini dengan nada ketus.


"Ya sudah, ajak Reva masuk lah masa berdiri di tengah pintu begitu," ucap Yakub dengan santainya.


Seketika mata Candini menyorot tajam ke arah Yakub, ia pun nampak terkejut dengan entengnya ucapan putra sulungnya.


"Apa kamu bilang, enak saja bawa psikopat masuk ke dalam rumah," gerutu Candini kesal.


Jlebbbbb.


Rasanya seakan pisau menghunus ke dada, sakit bukan main mendengar ucapan Candini kali ini. Ia ingin menyerah saat itu juga, berlari kencang-kencangnya menjauh dari sana.


Namun tiba-tiba Yakub mengedipkan matanya seolah memberi isyarat pada Revalina, sedangkan Revalina sendiri tak langsung bisa memahami arti kedipan Yakub padanya.


"Ya sudah kalau Mama maunya begitu, biar Reva pulang. Sekarang Mama siap-siap kita sudah nggak ada waktu lagi," ucap Yakub dengan nada bicara sangat lembut.


"Ya sudah Mama ke dalam dulu, pastikan dia benar-benar pergi," sahut Candini mulai masuk ke dalam rumah.


"Siap Ma," ucap Yakub dengan cepat.


Melihat Yakub sekarang memihak Candini membuat Revalina bingung, pasalnya baru tadi dia membantunya seolah berada di pihaknya kini tiba-tiba saja beralih kubu. Sekejap ia merasa seperti tak punya harapan lagi, patah dan rapuh kembali.


Saat itu Yakub masih memandangi Candini sampai punggungnya menghilang dari balik pintu kamar, memantau situasi sampai terasa aman barulah netranya kembali menatap Revalina.


"Reva, kau langsung lewat belakang saja. Pintu itu nggak di kunci. Kamar Rival ada di ruang tengah belokan pertama pas, sisi kanan tiang-tiang dapur," bisik Yakub dengan kedua mata mendelik.


Revalina kembali terkejut, sontak netranya jadi berhenti mengedar, terpaku menatap sikap Yakub yang kembali berbalik 180°.


"Aku boleh masuk?" tanya Revalina coba memperjelas maksud bisikan Yakub.


"Iya, cepat," jawab Yakub seperti orang terburu-buru.


"Terimakasih Kak," ucap Revalina cepat-cepat berlari menuju ke arah belakang rumah mertuanya.


"Sama-sama," sahut Yakub lirih.


Revalina kegirangan mendapat bantuan dari Yakub, dan yang paling utama adalah ia bisa menjenguk Rival setelah semalaman tak bertemu.


Tiba di halaman belakang Revalina dengan santainya melenggang menuju pintu itu, ketika berada di tengah pintu, seketika ada sesuatu yang membuatnya terpaksa mundur cepat dan bersembunyi di balik pot besar yang ada di teras belakang rumah itu.


Ia telah melihat Dalsa tengah membuat teh di dapur, beruntung saat itu Dalsa memunggunginya sehingga tak membuatnya ketahuan.


Dari balik pot besar Revalina coba untuk berdiam diri seraya memperbanyak doa agar tak ketahuan, kejadian ingin jadi pengalaman pertamanya menyelinap masuk rumah orang dengan cara seperti ini.


"Menyebalkan sekali kenapa Dalsa ada di situ, untung saja dia tak menghadapku, kalau menghadapku sudah pasti aku akan diadukan Mamanya," gerutu Revalina sangat lirih.


"Kak Sarah, tadi handuk ku Kakak taruh mana?" tanya Dalsa berteriak memanggil Kakak iparnya.


"Ada di jemuran belakang," jawab Sarah membalas teriakan Dalsa.


"Kenapa ditaruh jemuran sih itu kan mau aku pakai mandi," gerutu Dalsa lirih kesal.


Srkk srkk srkk.


Terdengar suara langkah kaki Dalsa menyeret, makin lama makin terdengar jelas. Dari sela-sela pot Revalina coba melirik melihat Dalsa melintas tepat di hadapannya hanya berjarak beberapa meter saja darinya sontak ia langsung menutup mulut rapat-rapat.


'Ya Tuhan selamatkan aku, aku nggak mau ketahuan sekarang,' ucap Revalina dalam harinya.

__ADS_1


Jemuran itu terletak cukup jauh dari teras halaman belakang, terletak di bawah pohon kamboja putih yang indah namun terlihat menyeramkan sama seperti yang punya.


Melihat Dalsa yang berdiri memunggunginya, dengan cepat Revalina melangkah masuk ke dalam rumah dengan sangat amat hati-hati.


"Hih, jadi kering kayak kanebo handuk ku," gerutu Dalsa sambil mengibaskan handuknya.


Ketika kedua kakinya sudah benar-benar masuk ke dalam dapur Revalina langsung berlari menuju ke kamar Rival, ia rasa halangannya untuk bertemu Rival sudah selesai nyatanya masih ada lagi yang membuat langkahnya tiba-tiba terhenti lalu kembali bersembunyi dibalik guci.


"Yakub, ayo cepat. Tadi suruh Mama cepat-cepat sekarang kamu yang lelet sendiri," ajak Candini berujung menggerutu.


"Iya Ma," sahut Yakub dari kejauhan.


Terlihat Candini mengenakan pakaian rapi dengan dandanan sedikit tebal dan tas yang menunjang penampilannya, begitu pun Yakub. Entah apa yang akan mereka hadiri ditengah keadaan Rival yang sekarang, namun anehnya Dalsa dan Sarah tidak berdandan seperti mereka, bahkan Dalsa sendiri belum mandi.


'Memangnya mereka itu mau kemana sih,' ucap Revalina bertanya-tanya dalam hatinya.


'Kenapa aku jadi ingin tahu begini, bukannya aku kesini cuma mau ketemu Rival,' ucap Revalina kembali dal hatinya coba menyadarkannya dirinya bahwa bukan itu tujuannya datang ke rumah ini.


Padahal hanya tinggal selangkah lagi melintasi guci mahal itu Revalina sudah sampai di depan pintu Rival, tapi ia sangat amat takut jika harus bergerak sekarang takut Candini masih ada di sana.


"Hati-hati Ma," ucap Sarah.


Suaranya terdengar jelas sampai ke dalam rumah, mendengar ucapan itu barulah Revalina beranjak dan bergegas masuk ke dalam kamar Rival.


"Ini kalau aku ketuk yang ada Dalsa tahu, ah bodo amat," ucap Revalina kembali bergelut dengan pikirannya.


Klekkkkk.


Revalina langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Rival, sontak membuat si pemilik kamar terkejut hingga sampai berjingkat.


Klekkk.


Tangan Revalina menutup pintu, dengan menguntang-anting rantang perlahan langkahnya mulai mendekat ke arah Rival.


"Dasar tak punya sopan santun masuk kamar orang tanpa mengetuk pintu dulu," gerutu Rival kesal.


"Ya maaf, habisnya tadi Mama nggak izinin aku masuk rumah jadi aku menyelinap masuk lewat belakang saja. Kalau aku ketuk pintu yang ada semua tahu dan aku diusir dari sini," ucap Revalina dengan jelas, sengaja agar Rival tahu jika perjuangan untuk bertemu dengannya saja tak semudah membalikkan telapak tangan.


"Oh ya, bukannya memang sepantasnya itu yang kamu dapatkan?" tanya Rival masih dengan wajah kaku tanpa ekspresi.


Revalina mulai menarik nafasnya dengan dalam mencoba menenangkan hati dan dirinya lewat hembusan nafas perlahan, meski sakit ia harus tahan. Sebagai pengalihan rasa sedih, ia coba tak menggubris apalagi memasukkan haru setiap ucapan yang keluar dari mulut Rival.


"Ya enggak lah Mas, masa aku pantas diusir kan aku kesini bawa sarapan untukmu," sahut Revalina mulai meletakkan tantangnya ke atas meja kecil yang ada di Sling ranjang Rival.


Tatapan Rival masih terus lurus ke depan, enggan melirik makanan yang dibawanya apalagi melihat wajahnya.


"Aku tahu kamu sudah sarapan Mas, tapi makan lagi kan juga nggak masalah justru bagus dan asal kau tahu Mas aku masak sendiri khusus untuk mu," bujuk Revalina, ia sangat menginginkannya Rival mencicipi masakan pertama untuknya setelah menikah.


"Aku nggak mau makanan itu, bawa saja pulang dan tutup kembali pintu kamarku," tegas Rival dengan nada ketus.


"Suka bercanda saja kau ini Mas, bilang saja kalau kau nggak mau makan sendiri ya kan," ledek Revalina justru kini dengan berani membuka rantang bawaannya.


Satu persatu rantang itu mulai ia buka, dari yang paling atas berisi nasi dan paling bawah berisi sup yang masih panas. 


"Apa-apa sih kamu, aku bilang nggak mau ya nggak mau bukan berarti kau mau menyuapi aku," gerutu Rival makin kesal.


"Tok tok tok tok," suara ketukan pintu.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu sontak membuat Revalina terkejut sekaligus ketakutan, ia takut jika orang yang mengetuk pintu itu adalah Dalsa.


'Bodohnya aku, kenapa mengajak Rival berdebat terus jadinya begini kan kedengaran orang dari luar kamar,' ucap Revalina dalam hati mulai menyalahkan dirinya sendiri.


"Masuk!" seru Rival.


Klekkkk.


Gagang pintu mulai turun, perlahan pintu bergerak terbuka. Saat itu juga Revalina serasa tak punya hati, rasanya mati.


"Rival, ada apa?" tanya Sarah berdiri di tengah pintu yang terbuka.


Melihat orang yang masuk ke dalam kamar Rival ternyata Sarah, sontak membuat Revalina terkejut sekaligus lega. 


"Mbak Sarah," panggil Revalina dengan kedua mata terbelalak.


"Revalina," sahut Sarah ikut terbelalak.


Sekejap ingatannya beralih pada adanya Dalsa di rumah ini, tak ingin ketahuan dengan cepat Revalina berlari menarik Sarah masuk ke dalam lalu kembali mengunci pintu itu lagi.


Klekkk klekkk.


"Dah, aman," ucap Revalina sambil menghembuskan nafas beratnya.


Sarah masih tolah-toleh bingung, menatap Revalina tak kalah bingungnya.


"Dari kapan kamu disini Reva, aku kok nggak lihat?" tanya Sarah kebingungan.


"Baru saja Mbak," jawab Revalina.


"Baru saja?" tanya Sarah makin kebingungan, keningnya mengerut tajam menatap Revalina dengan tatapan tak percaya.


"Jadi aku tadi itu nggak boleh masuk sama Mama, jadi aku lari ke belakang itu pun karena kode dari Kak Yakub kalau bukan karena bantuannya mana bisa aku sampai sini," jelas Revalina dengan sejelas-jelasnya.


"Ya ampun Reva, sampai segitunya," ucap Sarah lirih terkejut dengan penjelasan Revalina.


Tak lama netra Revalina berpindah titik arah tak biasa dari kamar Rival, yaitu dengan adanya rantang di atas meja tepat di sebelah kanan ranjang Rival.

__ADS_1


"Kau kesini itu niatnya mau bawakan makanan buat Rival?" tanya Sarah dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Iya Mbak, kan Umi lagi sakit jadi ya sekalian masak buat Umi sama Rival juga," jawab Revalina sambil tersenyum.


Di tengah kesedihan Revalina menghadapi kenyataan jika kedua orang penting dalam hidupnya kini sama-sama sakit terbaring di atas ranjang kamar, namu terlepas dari itu ia tetap jadi orang yang bisa menebar senyum ke banyak orang.


Saat berucap demikian, di sepersekian detik ia melihat Rival curi-curi pandang ke arahnya sepetinya khawatir namun enggan bertanya.


'Bilang saja kalau khawatir sama Umu, nggak usah sok-sok cuek begitu,' gerutu Revalina dalam hati.


"Tadi kata Mbak Sarah, Mas Rival sudah makan jadi kalau aku kasih makanan Kira-kira boleh nggak?"tanya Revalina sambil menatap Sarah.


Tiba-tiba wajah Sarah mendadak kaku, netranya mengedar kesana kemari dan tak lama menatap Rival antara berani dan tak berani.


"Oh itu, aku pikir karena kamu lagi di rumah dan nggak ada niatan ke sini jadi aku mau bikin kamu tenang sambil aku tetap bujuk Rival buat makan," jelas Sarah dengan tubuh sedikit menggeliat.


"Jadi Mas Rival itu tadi sudah sarapan atau belum?" tanya Revalina mulai curiga dengan informasi yang di sampaikan ipar dari Rival itu.


"Jujur mbak, Rival sudah sarapan belum?" tanya Revalina kembali, menatap kecewa Sarah.


Terlihat Sarah mulai ketakutan, takut sekaligus merasa bersalah akan informasi yang sudah dia berikan pada Revalina.


"Jawab aja mbak, aku nggak akan marah justru aku akan marah kalau kau masih saja berbohong padaku," pinta Revalina dengan nada bicara yang lembut. 


Secara tak langsung ia coba membalas sikap baik Sarah selama ini padanya dengan tidak meninggikan nada bicara dalam keadaan apapun meski rasa kecewa sebenarnya ada.


"Maaf Reva, aku cuma nggak mau membuat mu khawatir," jawab Sarah sedih, mengerutkan keningnya cemas.


Tak banyak bicaranya Revalina kembali mengambil nasi dan sup yang sudah ia bawa dari rumah untuk Rival, lalu perlahan duduk di samping Rival tanpa seizin pemilik kamar itu.


"Mbak Sarah salah, justru kebohongan itu membuat ku makin sedih. Padahal aku sangat berharap Mbak bisa memberi informasi yang akurat," ucap kekecewaan Revalina dengan nada bicara yang masih sangat rendah.


"Maaf Reva," ucap permintaan maaf Sarah berulang-ulang kali.


"Sudah Mbak, yang terpenting setelah ini jangan ada kebohongan lagi ya," sahut Revalina tak ingin membuat Sarah terus bersedih dengan kesalahannya.


Ia tahu rasanya ketika berbuat salah tapi tak kunjung mendapatkan maaf itu rasanya sakit sekali, tak ingin orang lain merasakan rasa satu itu cukup dirinya saja yang merasakan.


Kini Revalina kembali fokus pada Rival, perlahan ia mulai menyendokkan nasi dengan takaran yang pas untuk orang sakit macam Rival sekarang.


"Mas, makan ya. Cobain masakan ku," pinta Revalina mulai menyuapi Rival.


"Mbak, aku nggak mau disuapi dia," ucap Rival melirik Sarah yang masih berdiri di arah pintu.


"Sudahlah makan saja, kau belum sarapan," sahut Sarah justru membela Revalina.


"Ahh aku makan sendiri saja, nggak mau aku disuapi begini seperti anak kecil saja," gerutu Rival mengambil alih sendok dari tangan Revalina.


"Lah memang anak kecil kan, buktinya di suruh sarapan dari tadi pagi saja nggak mau apa namanya kalau bukan anak kecil," sahut Revalina sambil tersenyum-senyum meledek.


"Enak saja. Kau ini seperti tak tahu orang belum mood apa gimana ya," gerutu Rival membalas sahutan Revalina.


Di tengah perdebatan mereka tak lama Revalina mulai merasa Rival begitu kesulitan menyantap makanannya, dengan cepat netranya mengedar ke seluruh penjuru ruangan mencari meja kecil yang biasa Rival pakai sewaktu video call dulu.


"Cari apa Rev?" tanya Sarah yang tahu bahwa Mata Revalina tengah mencari-cari sesuatu.


"Cari meja kecil buat dia makan Mbak, kayaknya dia kesusahan kalau makannya nggak pakek meja," jawab Revalina dengan sangat jelas.


"Oh ada, aku lihat semalam Yakub menyembunyikannya di balik rak ini," ucap Sarah bergegas menuju ke salah satu rak putih yang ada di ruang kamar pribadi Rival.


Seketika Rival berhenti menyantap makanan itu, ia mendelik ke arah dua wanita di sampingnya.


"Kalian ini kenapa, orang aku begini nggak papa," ucap Rival dengan santainya.


"Biar kamu nyaman makannya," sahut Revalina tersenyum menatap Rival yang kini mau menyahut ucapannya meski karena ingin berdebat setelah sebelumnya terus membisu tak ada komunikasi sekalipun dengannya.


Rival terdiam tak lagi menanggapi ucapan Revalina, ia kembali menyantap sup itu dengan sedikit demi sedikit.


Tak lama Sarah berhasil mendapatkan meja kecil itu, dia langsung memberikan meja itu kepada Revalina sedangkan Revalina dengan sigap meletakkan meja itu dengan dua kaki yang menyangga tepat di sisi luar kedua paha Rival. 


"Nah sekarang makannya di sini," ucap Revalina perlahan memindahkan dua kotak rantangnya ke atas meja.


"Maaf ya kita pindah dulu," ucap Revalina setelah tantang berhasil mendarat di meja.


"Sementara yang pindah rantang dulu, habis itu kamu," singgung Revalina dengan harapan Rival mau mempertimbangkan hal ini.


Baginya sebagai seorang istri sudah selayaknya meminta hak untuk suami tinggal bersamanya, meski tak pantas jika ia mengatakan hak sebagai seorang istri padahal di satu sisi ia sudah melanggar jauh hak-hak Rival.


"Kalau begitu Mbak tinggal dulu ya, masih ada yang harus aku urus," pamit Sarah cepat-cepat menggenggam gagang pintu.


"Eh mau kemana, di sini saja Mbak," cegah Rival dengan cepat.


"Sebentar saja, nanti kalau sudah selesai Mbak langsung balik. Lagi pula kau kan sudah ditemani istrimu," sahut Sarah sambil tersenyum-senyum.


Dia lantas langsung pergi tak lagi berpamitan pada Revalina dan Rival terlebih pada Rival.


Klekkkk.


Pintu kembali tertutup, saat itu lah di kamar tersebut jadi hanya ada dua orang saja yaitu Revalina dan Rival.


Tak ada yang berubah dari raut wajah Rival, tetap masam seperti itu hanya saja sekarang makin masam ketika Sarah pergi dari kamarnya.


"Sudah cepat makan lagi, habiskan," ucap Revalina dengan tutur kata yang sangat amat lembut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2