
Seketika tubuh Revalina seperti nge lag, tak bisa berbuat apa-apa sangking shocknya mendapat pertanyaan semacam itu dari Dokter. Bingung bukan kepalang dengan jawaban yang harus ia katakan pada Dokter, ia pun takut masuk penjara jika menjawab pertanyaan itu dengan jujur.
"Dia mengalami kecelakaan Dok," jawab Revalina dengan rasa takut.
Kening Dokter itu langsung mengerut tajam, perlahan menggeser dan membenarkan posisi duduknya yang nampak tak nyaman.
"Kecelakaan macam apa sampai bisa menorehkan luka lebam tak beraturan, kalau saya lihat dari bekas lukanya dia seperti korban pengeroyokan," ucap Dokter dengan sedikit menekan.
Reflek Revalina memejamkan kedua matanya, dugaan Dokter paruh baya ini tepat sekali namun bibir ini terasa kaku untuk mengungkap fakta sebenarnya.
"Saya minta kamu jujur, atau saya tidak akan berurusan dengan anda," pinta Dokter dengan menyisipkan ancaman.
Revalina paham maksud Dokter bertanya sepeti itu. Meskipun ia adalah anggota keluarga Rival bahkan istri sekali pun tak akan jadi pilihan Dokter untuk membahas kondisi pasien jika orang tersebut ada konflik mengingat dari luka yang teramat banyak bisa dibilang ada di sekujur tubuhnya dan sependek pengetahuannya ketika seseorang yang mengantar pasien ke rumah sakit lalu mengaku apa yang sudah terjadi adalah perbuatannya pasti tak lama polisi datang langsung meringkus. Revalina tak mau hak itu terjadi padanya.
"Saya minta Dokter langsung bacakan hasil rontgennya, jangan khawatir saya Istrinya tidak mungkin wanita lemah seperti saya bisa menghajar laki-laki bertubuh sixpack itu, jangan kira itu KDRT karena kita baru saja menikah kemarin dan untuk apa yang terjadi sungguh Sebenarnya saya juga nggak tahu, saya menemukan dia sudah tergeletak di jalan jadi saya pikir baru saja tertabrak," jelas Revalina dengan sejelas-jelasnya.
Mendengar hal itu lantas membuat Dokter terdiam sejenak memikirkan penjelasan Revalina barusan, namun tak lama tangan kanannya kembali bergerak menarik foto hasil rontgen secara keseluruhan. Dia pun kembali mengamati, membaca Rontgen itu.
"Baiklah saya harap saya sedang berhadapan dengan orang yang tepat, mungkin jika kamu ditangani Dokter lain tak akan seribet dengan saya. Saya orangnya harus tahu dengan jelas demi keamanan pasien," ucap Dokter, cepat-cepat mengeluarkan semua hasil labnya.
"Dari hasil Rontgen di temukan retakan di tulang kaki Pak Rival, juga para tes lab diketahui bahwa sistem syaraf kakinya banyak yang mati sehingga dapat disimpulkan kalau Pak Rival kini mengalami kelumpuhan," ujar Dokter membacakan hasil dari kedua tes.
Seketika tubuh Revalina gemetar, ia shock refleks menutup mulutnya dengan satu tangan memundurkan kursi sedikit menjauh dari meja Dokter. Tak terasa air mata mulai mengucur deras membasahi pipi.
Setelah dari ruangan Dokter, dalam keadaan hancur sehancur-hancurnya Revalina memberanikan diri menghubungi Uminya. Saat itu ia hanya mengatakan jika dirinya dan Rival tengah berada di rumah sakit, setelah selesai ia langsung menjemput Rival di ruang IGD.
"Sus, gimana Pak Rival sudah dipindahkan ke kamar rawat inap atau belum?" tanya Revalina pada Suster yang severa kebetulan baru saja keluar dari ruang IGD.
"Belum, Pak Rival baru saja siuman," jawab Suster.
Mendengar hal itu antara senang dan sedih Revalina bergegas masuk ke dalam ruang IGD, melintasi gorden-gorden pembatas antar pasien. Tibalah dirinya di ranjang yang ditempati Rival langkahnya terhenti terpaku kaku melihat tatapan mata kosong Rival dengan lebah di sekujur tubuhnya. Perlahan langkahnya diiringi rasa penyesalan yang tak bisa digambarkan mulai mendekati Rival, sedang air mata tak berhenti mengucur.
"Mas," panggil Revalina lirih, terisak tangis.
Mengetahui keberadaan Revalina, Rival dengan wajah kakunya langsung memalingkan muka membuat Revalina semakin sedih. Tapi ia tak menyalahkan Rival sama sekali, setelah terjadi hal luar biasa tadi manusia mana yang mau mengampuni. Ia pun sadar diri jika perbuatannya sudah sangat keterlaluan, biadab dan juga bodoh karena tanpa bukti yang jelas menghajar orang yang tak bersalah sama sekali.
"Mas, aku minta maaf. Aku sekarang sudah sadar kalau ternyata pelaku itu bukan kamu," ucap Revalina bersimpuh di hadapan Rival, memegang lembut punggung tangannya.
Tapi Rival tetap enggan meliriknya atau bahkan menyahut ucapannya, dia begitu dingin. Rasanya ia Hori tak sanggup berada di situasi ini namun mau bagaimanapun lagi semua sudah terlanjur dan dirinya memang sepantasnya diperlakukan seperti ini.
"Aku menyesal Mas, aku menyesal," ucap Revalina dengan derai air mata.
"Aku tak marah melihat sikap dinginmu Mas, memang aku pantas mendapatkan ini. Aku hanya ingin kau terima permintaan maafku," ucap Revalina kembali.
Rival tetap pada posisinya, agaknya sampai mulut berbusa pun tetap tak mampu menembus hati Rival yang sudah terlanjur beku.
Tak lama datang beberapa Suster disusul Dokter dadi belakang membawa kursi roda ke hadapan Rival.
"Bu, berhubung Pak Rival sudah siuman kita langsung pindah ke kamar rawat inap ya dan untuk biaya administrasi tolong segera di urus," ucap Suster.
"Baik Sus," sahut Revalina sambil mengusap seluruh air matanya.
__ADS_1
Perlahan Suster mulai membantu Rival untuk beranjak saat itu Revalina masih takut menyentuh tubuh Rival, namun makin lama melihat dua Suster itu kewalahan mengangkat tubuh dengan kaki mengambang tak mampu menyentuh lantai rumah sakit sehingga membuatnya sedikit oleng refleks ia pun menangkap lengan tangan Rival.
Tiba-tiba tangannya di tepis dengan kasar, hal ini di saksikan dua Suster dan satu Dokter yang tadi menangani Rival.
Sungguh tak ada rasa hancur mengalahkan ini, ia merasakan double kehancuran yang pertama adalah karena sikap dinginnya dan yang kedua kini melihatnya duduk di kursi roda dengan dua kaki tak berdaya. Harus diakui ia hancur sehancur-hancurnya.
Tak peduli dengan apa anggapan Dokter dan para Suster setelah melihat sikap dingin Rival padanya sungguh ia tak peduli, mengabaikan semua pasang mata yang mengiringinya keluar dari ruang IGD menuju ke kamar rawat inap.
Ia sudah memilih kamar rawat inap VVIP, memberikan kenyamanan yang tak bisa ditukar dengan rasa sakit yang Rival rasakan.
Setelah semua tenaga medis pergi meninggalkan kamar rawat inap, saat itu juga keheningan terasa dalam ruangan tersebut. Rival enggan menggeluarkan sepatah katapun untuk Revalina meski kalimat makian pun enggan, sungguh rasa kecewa dan kemarahannya sudah berada di level tertinggi yang sepertinya sulit untuk diredakan dengan apapun.
"Hiks hiks," Isak tangis Revalina tak tertahankan.
"Aku lebih baik kau marahi, kau maki-maki dari pada kau diamkan begini aku nggak sanggup Rival. Aku mohon bicaralah maki aku, aku pantas mendapatkan itu," ucap Revalina lirih sedih.
Tapi bibir Rival tetap terkunci, hatinya benar-benar membeku tak menggubris segala macam ucapannya bahkan meliriknya pun tak mau.
Beberapa lama kemudian dua keluarga besar datang menjenguk, sangking paniknya Candini masuk dengan tergesa-gesa sampai lupa mengucapkan salam.
"Anakku, ada apa dengan anakku?" tanya Candini panik setengah mati.
Dia langsung menghampirinya putranya melihat seluruh luka di sekujur tubuh Rival, sontak ia menangis histeris apalagi melihat kursi roda di ujung ruangan menambah kehisterisannya saat itu semua ikut menangis namun Yakub dengan kebesaran dan kekuatan hati yang kuat biasa menarik mundur Candini dari hadapan Rival.
"Ma, jangan berteriak seperti itu Rival juga butuh ketenangan kasihan dia," ucap Yakub tak kuasa melihat kekosongan di mata Rival.
"Apa yang sudah terjadi Reva, bicara sama Mama apa yang terjadi?" tanya Candini pada Revalina dengan emosi yang meluap-luap.
Dengan rasa takut perlahan Revalina menganggukkan kepalanya. "Iya Ma, Mas Rival nggak bisa jalan lagi. Mas Rival lumpuh."
Kemarahan Candini membuat Revalina tak mampu menatap matanya, kini dihadapan Candini ia hanya bisa menunduk menangisi penyesalannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan ke anakku?" tanya Candini berteriak semakin histeris.
'Ya Tuhan aku harus jawab apa, aku takut sungguh aku takut,' ucap Revalina dalam hati kebingungan.
Tak lama rangkulan hangat dari Chesy mulai memberinya semangat untuk membuka mulut, menjawab pertanyaan Candini.
"Jawab Reva, jangan berlagak jadi bisu begini," bentak Candini makin menaikkan nada bicaranya.
"Ma, jangan bentak Reva seperti ini kasihan dia. Bertanyalah baik-baik," tegur Yakub tak tega melihat Revalina disudutkan Mamanya.
"Rev, jawab," pinta Rafa yang lebih tak tega lagi melihat Revalina mendapat hentakan dari sang mertua.
"Kau yang bawa mobil jadi harusnya kau tahu apa yang terjadi, bilang saja kecelakaan kau tak becus bawa mobil atau kau yang sengaja menabrakkan mobil biar anakku mati," geram Candini pada Revalina sampai mulai menuduh dengan angan-angan dan perkiraannya setelah melihat kondisi Rival dan mobilnya.
Revalina menggeleng cepat, tidak membenarkan angan-angan Candini.
"Bukan seperti itu kejadiannya Ma," jawab Revalina dengan bibir gemetar ketakutan.
"Terus apa, apa Reva katakan?" tanya Candini makin tak sabar lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi Revalina menundukkan kepalanya, ia merasa malu dan sangat ketakutan harus mengakui semuanya di depan keluarga Rival dan keluarganya sendiri. Tapi tak mungkin ia tutup-tutupi lagi entah apa yang terjadi kedepannya kali ini ia siap bertanggung jawab sebagai bentuk penebus dosa yang sudah ia lakukan pada Rival.
"Rival seperti ini karena Reva dan Akram, kita menghajar dia di gedung tua tempat Rajani meregang nyawa terbunuh oleh empat pelaku yang didalangi Dalsa, salah satu pelaku itu Reva kira Rival sebab mengetahui tato di punggungnya dan baru saja tadi Reva tahu kalau sebenarnya Akram juga memiliki tato yang sama. Akram sudah mengakui jika memang dirinya lah pelaku itu bukan Rival," jelas Revalina panjang lebar.
"Biadab," teriak Candini hampir memukul Revalina namun dengan sigap Yakub menahan kedua tangan Candini cepat-cepat menarinya ke belakang.
Tangis histeris berpadu jadi satu, rangkulan hangat dari Chesy pun sudah tak lagi terasa semua menyudutkan Revalina dengan sorot mata kekecewaan.
"Tunggu-tunggu, tadi kau bilang Dalsa yang menjadi dalang dari kematian saudara kembar mu?" tanya Yakub salah fokus dengan kalimat Revalina.
"Iya, dan aku ada buktinya," jawab Revalina cepat-cepat mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Dia pun langsung memberikan sekumpulan bukti yang ia bungkus dalam satu folder ke tangan Yakub, saat itu juga Yakub dan Sarah mulai melihat satu persatu bukti yang Revalina punya termasuk rekaman video di hotel pernikahan kemarin.
Ekspresi wajah Sarah tak bisa dibohongi, dia nampak terkejut dan kesal melihat bukti-bukti kebiadaban Dalsa sedangkan Yakub lebih bisa mengontrol reaksinya.
Masih melihat setengah dari bukti yang Revalina punya Yakub sudah memberikan ponsel itu kembali ke tangan Revalina.
Plakkkkk.
Yakub menampar adik bungsunya dengan kegeraman yang tak mampu ia tahan.
"Yakub, apa kamu sudah gila?" tanya Candini berteriak membentak Yakub.
Sesaat setelah tamparan itu mendarat di pipi Dalsa, Candini langsung memeluk erat putrinya sedangkan Dalsa langsung menenggelamkan mukanya di bahu sang Mama.
"Apa Mama nggak dengar tadi suara Dalsa di video itu, dia sudah membunuh anak orang. Sekarang gimana Revalina nggak dendam Ma, anak Mama saja seperti itu kelakuannya," sahut Yakub dengan nada tinggi tak peduli siapa orang yang tengah berdebat dengannya, dia sungguh sangat kalap hari ini.
"Mas, sudahlah jangan bentak Mama mu," tegur Sarah lirih.
"Mama harus tahu Sarah, kalau anak kesayangannya itu punya kelakuan buruk paling buruk bahkan. Jujur aku sebagai Abang malu punya adik seperti mu, wajahku seperti disobek hari ini di hadapan keluarga Revalina dan kau yang membuat semua jadi begini," ucap Yakub terus menyalahkan Dalsa tanpa ampun.
"Yakub, kau juga bodoh. Nggak mungkin Dalsa melakukan itu tanpa sebab, jelas ada sebabnya dan Mama yakin Rajani sendiri yang memulai semua," jelas Candini, membela putri bungsunya mati-matian.
"Apapun Ma, apapun itu kenapa harus membalas dengan cara sekeji ini. Sebenarnya yang biadab itu anak Mama sendiri dan seharusnya dia sudah berada di dalam penjara dari kemarin-kemarin," sahut Yakub menentang ucapan Candini.
"Jangan gila kamu, kalaupun Dalsa masuk penjara Mama minta Revalina juga masuk penjara," tegas Candini sambil menunjuk muka Revalina dengan jari telunjuknya.
Pelukan Chesy makin erat tak lama ditambah pelukan dari Rafa, mereka seperti memberi isyarat untuk terus berdiri kuat ditengah masalah ini. Meski keduanya kecewa parah atas apa yang sudah Revalina lakukan hari ini, akan tetapi rasa puas saat ini lebih besar, sebab pada akhirnya mengetahui kenyataan baru, bahwa ternyata Rajani tidak meninggal dengan normal, mereka bahkan tahu siapa pelaku pembunuh Rajani.
"Hanya karena tato kamu langsung menuduh anakku sebagai pelakunya, segitu pendek kah otak mu wahai sarjana baru?" tanya Candini dengan nada kesal.
"Aku minta maaf Ma, aku bodoh nggak mencari bukti lebih banyak lagi. Aku minta maaf," ucap Revalina dengan derai air mata. "Tapi saat aku melihat Rival memiliki tato yang sama dengan pelaku, tentu bukti itu langsung mengarahkan aku pada pikiran negatif."
"Tetap saja kamu itu gegabah. Biadab kamu Reva," tangis histeris Candini lemas setelah mendengar penuturan Revalina, bahkan hampir tak sadarkan diri.
saat itu Rafa dengan cepat membantu Yakub menggiring Candini dan meletakkannya di atas sofa panjang yang berada tepat di samping ranjang Rival.
"Kenapa harus seperti ini Reva? Umi nggak nyangka selama ini kamu menaruh dendam atas kematian Rajani tapi kenapa cara mu harus seperti ini? kasihan Rajani di atas sana dia pasti sedih melihat mu begini. Umi benar-benar kecewa, tak pernah sedikitpun Umi mengajarkan kekerasan padamu tapi kenapa sekarang kau jadi orang paling sadis," ucap Chesy memarahi Revalina habis-habisan.
"Maaf Umi, maaf," sahut Revalina, hanya itu yang bisa ia ucapakan atas kemarahan Chesy padanya.
__ADS_1
Bersambung