
Dengan langkah tertatih menyeret dua kaki yang kini tiba-tiba berat, Revalina segera menuju ke mobil. Hanya meneteng tas dengan isi seperlunya saja ia mulai masuk ke dalam mobil, terduduk diam di belakang sementara Chesy duduk di depan menemani Rafa yang bertugas menyetir.
"Rafa, jangan ngebut ya. Nggak papa terlambat, lebih baik terlambat dari pada kenapa-kenapa di jalan," tegur Chesy sambil mengenakan sealt belt.
"Siap Mi," sahut Rafa.
Perlahan mobil mulai bergerak maju, dengan kecepatan lirih mulai keluar dari kawasan rumah.
Sepanjang perjalanan Revalina hanya mampu menangis mengingat kembali betapa jahatnya ia sebagai makhluk Tuhan yang coba mempermainkan janji suci hanya untuk melancarkan balas dendam padahal sampai sekarang dugaan itu masih di atas awang-awang. Di dalam perjalanan menuju gedung hotel Revalina tak hanya kepikiran dengan hal itu saja akan tetapi juga kepikiran dengan Almarhum Abi di surga sana.
"Mi," panggil Revalina dengan raut wajah gelisah.
"Iya Nak," sahut Chesy sedikit menengok ke arah Revalina.
"Jangan tinggalin Aku Mi, aku nggak mau kamar kita pisah, aku nggak mau di rias sendiri di kamar tanpa Umi," rengek Revalina tiba-tiba kembali seperti bocah ingusan.
"Hihihi," Chesy langsung terkekeh mendengar rengekan Revalina, terus terkekeh sambil milirik Rafa.
Entah apa yang sedang ditertawakan yang jelas keduanya kini mulai tertawa bersama hingga tak mempedulikan adanya Revalina di sana.
"Gimana itu adek kamu Raf, sudah mau menikah tapi nggak bisa jauh dari Umi?" Chesy bertanya pada Rafa sambil teys terkikih.
"Ya gimana Mi, anak Umi yang satu itu kan memang manja. Sepatunya kalau setelah ini kalau nggak.tinggal sama Umi, dia nggak akan hidup," jawab Rafa menimpalinya dengan ledekan.
Dari belakang hati gondok Revalina semakin membesar menatap keduanya yang tak berhenti mengejeknya.
"Kalau nikahnya sama Rival sih Umi yakin bisa, karena dia bisa bimbing Revalina," jelas Chesy pada putranya.
Tiba di gedung hotel, Revalina digiring cepat ke salah satu kamar yang sudah di booking lengkap dengan Mak up artis yang sudah stand by sejak tadi. Revalina sedikit terkejut semua di persiapkan begitu matang, tak ada drama make up artis masih di jalan tapi kini terpampang nyata justru tengah menunggunya. Namun sayang tak sesuai dengan keinginan, ia tetap di rias di kamar itu seorang diri sementara Chesy dan Rafa di rias di kamarnya masing-masing.
__ADS_1
Dalan proses periasan yang sangat panjang, Revalina mampu tidur, bangun dan tidur lagi sebanyak tiga kali dengan riasan yang tak kunjung selesai.
"Ya Tuhan, tak ada yang melelahkan di dunia ini kecuali di dandani," gerutu Revalina lirih dengan mata malasnya.
"Aduh, ini manten agak lain ya. Kurang bersemangat sekali," gumam perias sambil menggeser sedikit kepala Revalina agar sejajar.
"Tok tok tok tok tok," suara ketukan tiba-tiba membuyarkan mata ngantuk Revalina.
"Siapa itu yang berani memgangguku," gerutu perias dengan cepat membuka pintu.
Namum setelah di buka ia tak mendapati ada orang di sana, menengok sepanjang lorong kiri dan kanan tak ada satu pun orang melintas di sana.
"Kurang asem, setan mana yang coba menganggu ku," gerutu perias langsung membanting pintu.
Jdakkk.
"Kenapa Kak?" tanya Revalina kebingungan melihat periasnya langsung menutup pintu.
"Huh," refelek Revalina menghembuskan nafas beratnya, padahal ketukan tadi yang ia harapkan adalah kedatangan Uminya atau Kakaknya sekalipun tapi ternyata tidak.
Tepatfi jam 8, akhirnya Revalina selesai berdandan. Di jam segitu masih tak ada keluarga yang menjenguknya, ia benar-benar seperti orang tanpa arah di kamar itu bersama perias-perias yang hanya berbicara seperlunya.
Di liriknya benda pipih yang terus berada di genggaman tangannya, ia tak mendapati pesan baru masuk di notifikasinya.
"Akram juga mana ya, aku sudah bilang sama dia kalau aku butuh teman jadi jangan datang pas tepat di jam akad tapi di.saat aku masih di rias. Terbukti sekarang aku benar-benar kesepian," gerutu Revalina lirih kesal.
"Kak Rafa juga, dia kan nggak seribet perempuan make up nya tapi kenapa nggak kunjung ke sini sih," gerutu Revalina kembali.
"Tok tok tok tok tok," ketukan pintu kedua.
__ADS_1
Sontak Revalina beranjak dari duduknya, dengan sangat bersemangat ingin membuka pintu kamar.
"Eh eh biar aku yang buka, calon pengantin duduk manis saja," perias langsung kalang kabut melarang Revalina bergerak, ia melompat dari sofa satu ke.sofa lain untuk mempersingkat jarak.
Klekkk.
Kriettttt.
"Eh Tante, silahkan masuk," ucap perias mulai mempersilahkan Chesy masuk ke dalam kamar.
Satu hal yang yang dilakukan keduanya saat bertemu setelah di rias adalah ternganga, sama-sama kagum akan kecantikan satu sama lain. Chesy sampai lemas menitihkan air mata melihat putrinya mengenakan pakaian adat namun tetap elegan dengan hijabnya.
"Cantik sekali anak Umi, andai Abi mu masih ada pasti dia akan bilang kalau kamu cantik melebihi Umi waktu muda," ucap Chesy sambil mengusap lembut tangan Revalina.
"Ah Umi bisa saja, tapi sayang aku nggak percaya. Jelas masih cantikan Umi kemana-mana lah," sahut Revalina berusaha membawa pembicaraan ini ke arah yang menyenangkan ketika kini dada bergitu sesak dan dapat memicu keras dua mata menitihkan bulir-bulir air mata.
"Enggak lah, cantikkan kamu," kekeh Chesy dengan kedua tangan yang menekan tangan Revalina.
Tatapan mata masih beradu, lama-lama Revalina meladeni tatapan mata itu tatapan kebingungan. Ia tak mengerti kenapa Uminya menatap matanya selama itu.
"Kenapa Umi, apa softlens yang aku pakai nggak cocok?" tanya Revalina pada Chesy, coba menebak.arti tatapannya.
Chesy langsung menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Bagus sekali softlens mu, Umi tidak sedang menatap softlens mu. Tapi Umi sedang menatap anak kebanggaan Umi yang dengan hebatnya bisa lulus tepat waktu, kasih nilai terbaik dan mau menerima perjodohan ini dengan penuh suka cita bahagia," ucap Chesy makin dalam menatap Revalina.
Mendengar hal itu dada serasa ditekan oleh beban puluhan ton, sesak sekali. Sebutan anak kebanggaan itu membuatnya jadi berat untuk melangkah bebas dan tak tahu saja apa yang ia lalui dibalik nilai bagusnya pada ujian akhir kemarin. Segalanya tak nampak jelas, namun sebutan anak kebanggan telah membuat rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi.
"Sekali lagi terimakasih Nak, kamu sudah mau di jodohkan sama Rival. Kamu sudah paham jika Umi hanya ingin yang terbaik untuk mu dan kamu langsung mengiyakan tanpa basa-basi, Umi sangat bangga padamu," ucap Chesy kembali mengungkapkan kebanggaannya.
__ADS_1
Revalina terus terdiam, terhanyut dalam setiap kata yang terucap pada mulut Uminya.
Bersambung