Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Menyimpan Rahasia


__ADS_3

Meski dengan perasaan kesal bercampur marah, Chesy menjalankan perintah Cazim, mencuci piring. Suara ribut antara satu piring beradu dengan piring lain memecah keheningan.


"Kau tidak perlu mencuci piring, biar aku saja yang melakukannya," ucap Alando yang mendadak muncul dari arah belakang.


"Bosmu memerintah supaya aku saja yang mencuci piring," ketus Chesy.


"Maaf, kalau aku sudah berbuat salah padamu. Aku benar- benar menyesal. Aku malu jika bertemu denganmu. Seharusnya aku tidak menyusup masuk ke rumahmu waktu itu. Betapa bodohnya aku."


"Well, baguslah kalau kamu sadar diri." Chesy balik badan, menatap Alando. Ia sudah selesai mencuci piring. "Sayangnya rasa simpatiku ke kamu nol besar. Dan aku nggak akan pernah mau memaafkan kesalahanmu. Bagiku kesalahanmu itu saja saja dengan merusak kehormatan dan kesucian wanita."


Alando mengernyit. Heran atas ucapan Chesy, dalam sekali pernyataan itu.


"Tapi... Okelah aku bisa memaafkan mu tapi dengan satu syarat."


"Apa?"


Chesy mengulum senyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alando, membuat lelaki itu langsung panas dingin. Apa lagi Alando melihat bibir merah Chesy yang alami itu nyaris seperti tomat, segar sekali. Tubuhnya seperti mendidih dibuatnya. Penyakit lamanya kambuh lagi setiap kali melihat wanita cantik. Mendadak ia menegang dan panas dingin. Sesuatu terjadi pada tubuhnya.


"Mau bantuin aku kan?" Bisik Chesy.

__ADS_1


"A apa?" Alando gemetaran.


"Bantu aku kasih tahu sesuatu tentang bosmu itu. Tentang siapa dia, kenapa dia bisa ada di komplek ini, alasannya menjadi ustad palsu, dan semuanya tentang Cazim. Mau?"


Mendengar bisikan dari bibir indah yang ranum itu, Alando seketika mengangguk.


"Good. Kalau begitu kamu bisa katakan padaku tentang dia kapan pun kamu mau. Nggak sekarang, soalnya bahaya kalau dia dengar." Chesy lalu menyebutkan nomer hape nya, nomer unik yang mudah sekali untuk diingat.


"Telepon aku saat kamu punya waktu untuk mengobrol sama aku. Oke?" Chesy kemudian melangkah pergi.


Kulit Alando meremang. Ia tidak berani menoleh pada punggung Chesy yang melintas di sisinya hingga berlalu pergi.


Chesy perlahan mendorong pintu, membuat pintu itu terbuka sempurna. Tidak ada Cazim di ruangan itu. Chesy menyelinap masuk, ia melihat laptop Cazim menyala. Jarinya dengan cepat membuka file, tak lain ia klik riwayat file yang baru saja dibuka.


Ada beberapa bacaan yang tersimpan di file itu, sepertinya berupa berita kriminal. Chesy tidak punya waktu untuk membaca satu per satu. Ia beralih ke file lain yang menunjukkan transaksi besar- besaran, tak lain transaksi mencapai ratusan milyar.


Brak!


Laptop dilipat, layar monitor laptop pun hilang dari pandangan Chesy. Sebuah tangan kekar melipat

__ADS_1


laptop itu. Chesy mengangkat wajah, menatap pelakunya, Cazim.


"Apa yang kau lakukan?" Cazim menatap tajam. Mata gelap itu tampak sangar sekali.


"Aku hanya ingin mematikan laptopmu. kalau lowbat kan bahaya. aku lihat laptopnya menyala, makanya aku mau matikan," ucap Chesy ngeles.


"Aku tidak memintamu keluyuran di rumahku. Aku larang kau menyelundup masuk ke kamarku, apa pun alasannya. Keluar kau!" Cazim menarik tangan Chesy.


Bruk!


Laptop terjatuh ke lantai sesaat setelah tangan Chesy tanpa sengaja menyenggolnya.


Wajah Cazim sontak memerah melihat laptopnya terbanting di lantai dengan sangat kuat. Ia memungut laptop itu dan kembali membukanya. Laptop tidak menyala lagi saat power ditekan.


"Betapa bobroknya adabmu berada di rumah orang lain. Sembarangan masuk kamar dan bahkan membuat laptopku rusak begini! Wanita sialan!" Cazim kesal sekali. Dia hentakkan laptopnya ke meja dengan keras hingga suara keras hentakannya mengejutkan Chesy.


Apakah begitu besar kepentingan Cazim pada laptopnya itu? apakah ada rahasia besar yang dia simpan di laptop sampai dia semarah ini?


"Keluar kau!" Cazim menyeret lengan Chesy keluar kamar. mnedorong tubuh kecil itu keluar hingga tubuh Chesy kembali terduduk di kursi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2