Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Urusan Mama


__ADS_3

Ucapan Sarah membuat Revalina kepikiran sampai tak bisa tidur semalaman dan lagi-lagi ia bisa tertidur ketika sudah mendekati waktu subuh.


Pagi-pagi sekali Candini pulang membawa satu paper bag berisi banyak makanan, dia meminta Sarah untuk tak memasak pagi ini.


Revalina yang berada di dapur tengah menyiapkan teh hangat untuk Rival hanya terdiam melihat mertuanya sudah kembali pulang sembari terus memikirkan ucapan Sarah semalam.


"Banyak sekali Ma," tegur Sarah sembari tersenyum.


"Iya, semalam banyak makanan di rumah saudara Mama masih sisa sampai pagi pun tetap sisa ya sudah sebagian Mama bawa pulang," sahut Candini.


"Oh kirain Mama beli pagi-pagi," ucap Sarah sembari mengeluarkan satu persatu makanan dari paper bag itu.


"Mana ada resto buka sepagi ini, suka bercanda kamu itu," sahut Candini terus tersenyum.


Tak perlu melihatnya dari dekat, Revalina bisa melihat makanan itu masakan kemarin atau masakan baru. Terbukti pada saat semua berkumpul untuk menyantap sarapan pagi, dugaan yang ada di kepalanya sejak tadi langsung tervalidasi.


'Ini makanan masakan baru, bukan masakan kemarin,' gumam Revalina dalam hati.


'Tidak mungkin makanan ini tak dipanaskan lebih dulu, bisa basi. Tapi sungguh ini masakan baru bukan masakan semalam,' ucap Revalina kembali dalam hatinya.


"Tadi malam Mama jalan-jalan kemana saja Ma?" tanya Rival sembari asik menyantap sarapannya.


Dengan cepat Revalina menaikkan atensinya, merasa sedikit lega akhirnya ada yang mau menyinggung tentang Candini semalam.


"Mama nggak jalan-jalan cuma keluar pergi beli makanan saja habis itu langsung pulang ke rumah saudara Mama itu," jawab Candini dengan santainya.


"Cari makan di mana Ma?" tanya Rival mulai mencecar Candini dengan berbagai pertanyaan darinya.


"Ya di sekitar rumah situ saja, kan ditengah kota jadi tinggal keluar komplek saja tinggal pilih mau masuk resto mana," jawab Candini menatap Rival sembari mengerutkan keningnya.


Seketika Revalina langsung melirik Sarah, begitu pun juga Sarah. Mereka kembali menemukan kejanggalan di sini.


"Cuma beli disekitar situ saja Ma, nggak pindah ke tempat lain?" tanya Rival kembali.


"Enggak, cuma di sekitar situ saja," jawab Candini dengan jelas.


"Nggak sampai ke pinggir kota?" tanya Rival langsung menembak Candini dengan pertanyaan pamungkasnya.


"Enggak Rival, kenapa juga Mama ke pinggir kota. Mau beli apa di sana nggak ada apa-apa," jawab Candini semakin jelas.


Terkejut, Revalina benar-benar terkejut mendengar jawaban Candini. Sekarany terbukti memang ada sesuatu yang tengah Candini sembunyikan dari semua orang di rumah ini. 


Beruntung dirinya bukan orang bodoh yang tak merasakan kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi beberapa hari terakhir ini, meski tak juga mengetahui apa yang tengah Candini sembunyikan akan tetapi setidaknya dirinya tak pernah tertipu dengan segala macam alasan Candini sejak awal.


Pagi itu di kantor ketika mereka telah masuk ke dalam ruangan kerja, biasanya Rival langsung menuju ke sudut meja kerjanya namun kali ini dia justru mengajaknya duduk di sofa dengan posisi Rival tetap bstaday di atas kursi.


"Reva, kamu merasa ada yang aneh nggak?" tanya Rival dengan kedua matanya yang memicing.

__ADS_1


"Sama Mama?" tanya Revalina sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Sama Kak Rafa," jawab Rival.


Sontak Revalina terkejut mendengar jawaban Rival yang tak masuk di akal, ia benar-benar tak paham apa yang di maksud Rival sekarang.


"Kenapa jadi Kak Rafa, memangnya dia aneh kenapa?" tanya Revalina kebingungan.


"Ya, aneh saja. Coba kau perhatikan Mama bilang kalau dia nggak ke pinggir kota sama sekali tapi Kak Rafa bilang Mama ke pinggir kota," jawab Rival dengan jelas menyuarakan rasa bingungnya.


Kini giliran Revalina yang memicingkan kedua matanya, tak habis pikir dengan pemikiran Rival yang hanya sejengkal jika sudah urusan dengan Mamanya.


"Jadi maksud mu Kakak ku bohong?" tanya Revalina menaikkan nada bicaranya.


Kesal mendengar Kakaknya disalahkan, Revalina langsung beranjak dari duduknya di sofa itu melenggang pergi menuju ke meja kerjanya tak peduli perbincangannya mereka yang belum selesai.


"Aku nggak bilang begitu Reva, aku cuma bilang ada yang aneh," jelas Rival panik melihat Revalina marah.


"Nggak memang kamu nggak bilang langsung Kakakku itu bohong, tapi secara nggak langsung kamu sudah menuduh Kakakku berbohong dan aku nggak suka itu," ucap Revalina semakin kesal.


"Kenapa kamu jadi marah begini, aku cuma ingin mengajakmu berdiskusi bukan mencari siapa yang benar dan siapa yang bohong," ucap Rival menatap bingung.


"Diskusi katamu, asal kamu tahu ya Mas aku kenal Kak Rafa dari lahir aku tahu sifat dia seperti apa. Dia nggak mungkin berbohong," jelas Revalina dengan tegas.


"Aku juga kenal Mamaku dari lahir, aku juga tahu sifatnya dan aku percaya dia nggak bohong," sahut Rival mulai menunjukkan taringnya.


Kini ia berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya, pagi itu ia sama sekali tak menegur Rival sama sekali apalagi ngobrol. Revalina berusaha mengerjakan pekerjaannya sendiri tanpa bantuan dari Rival.


'Aku tak terima Kakakku dituduh berbohong, aku pikir tadi dia di rumah diam setelah dengar jawaban Mama karena merasa curiga sama Mama eh tahunya malah sama Kakakku. Sudah gila apa gimana,' gerutu Revalina dalam hati.


Tok tok tok tok.


Suara ketukan pintu terdengar dari arah pintu ruangan kerjanya.


"Masuk!" seru Revalina.


Sosok dari balik pintu itu perlahan masuk ke dalam ruangan, dia adalah CEO di perusahaan ini tengah membawa satu map besar berisi berkas.


"Pak Joseph, ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Revalina segera beranjak dari duduknya.


"Ini saya mau numpang fotokopi di ruanganmu, tiba-tiba printer ku tak bisa buat footokopi menyebalkan," jawab Joseph.


"Silahkan Pak, pakai saja," sahut Revalina sembari tersenyum.


Kini Joseph mulai membuka map birunya, mengambil satu persatu file yang harus di fotokopi. Melihat atasanya kesulitan dengan sigap Revalina membantu Joseph memfotokopi satu persatu semua file yang ada di map tersebut.


"Ini semua yang harus di footokopi Pak?" tanya Revalina.

__ADS_1


"Iya," jawab Joseph sembari menganggukkan kepalanya.


Mendengar jawaban Joseph, Revalina semakin sigap memberinya file asli yang baru lalu menata ulang file yang sudah difotokopi.


Tak lama Revalina teringat dengan dua mesin fotokopi yang ada di lantai tiga, terlihat lebih praktis ketimbang printer kecil yang ia punya.


'Ah lebih baik jangan banyak tanya, kalau Pak Joseph nggak mau jalan jauh ya sudah dari pada nanti aku yang kena suruh buat fotokopi di lantai tiga,' ucap Revalina dalam hati.


"Belum kelar pekerjaanmu Reva?" tanya Joseph sembari melirik layar laptop Revalina.


"Hihi, belum Pak," jawab Revalina terkikih malu.


"Ya sudah selesaikan dulu, ini biar aku yang urus," ucap Joseph.


"Nggak papa Pak?" tanya Revalina dengan rasa tak enak hati.


"Nggak papa," jawab Joseph tersenyum lebar.


Meski tak enak hati membiatkan Joseph ribet dengan tumpukan file yang harus di footokopi satu persatu, Revalina tetap kembali duduk melanjutkan pekerjaannya sebab akan lebih tak enak lagi jika pekerjaan ini tak selesai tepat waktu.


"Rival, kapan-kapan kita main catur yuk aku baru beli kemarin tapi nggak ada yang diajak main," ajak Joseph dengan senyum semangat.


"Boleh, atur saja waktunya," sahut Rival.


"Siap aku akan atur waktu buat kita main," ucap Joseph semakin bersemangat.


Sementara itu Revalina yang tengah fokus mengerjakan tugasnya kini mendadak terhenti ketika ada satu bagian yang ia tak paham, ingin bertanya pada Rival enggan tapi bertanya pada Joseph tak enak takut membuatnya kesal karena terlalu banyak ketidakbisaannya.


"Reva, ada kendala?" tanya Joseph melirik Revalina yang ada di sampingnya dengan menaikkan sebelah alis.


"Emmm," gumam Revalina takut mengatakan yang sebenarnya.


"Ah kamu suka nggak mau bilang kalau ada kendala, jangan sungkan Reva. Sini coba aku lihat," ucap Joseph mulai mendekati layar laptop milik Revalina.


Tubuh Joseph mencondongkan ke arahnya dengan maksud agar dapat melihat layar lebih dekat, sangking dekatnya ia bisa merasakan hembusan nafas itu menembus pipi ranumnya.


Revalina tak berkutik hingga menahan nafas panjang agar tak saling bersenggolan, jika meleng sedikit saja mungkin bisa saja bibir Joseph menabrak pipinya.


"Ini kamu sudah salah di bagian sini jadi endingnya nggak balance, setiap mengerjakan harus teliti Reva biar nggak pusing di akhir," ujar Joseph menujukkan kesalahan Revalina.


"Iya Pak, nanti saya benahi," sahut Revalina dengan nafas yang tertahan.


"Tapi kamu paham kan?" tanya Joseph mendadak menatap Revalina.


Sontak Revalina terkejut sebab kini wajah Josep berada di depannya begitu dekat hampir tak ada jarak. Mendadak degup jantungnya terpacu kencang hingga membuat nafasnya kini seperti terengah-engah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2