Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Terjepit


__ADS_3

"Aku pikir kamu masih punya hati untuk memikirkan keluargaku, Mas. Dan kamu menikah denganku karena alasan kemanusiaan. Tapi nyatanya dugaanku salah. Sisi kemanusiaanmu hilang karena wanita ini," ucap Chesy, kali ini dengan suara bergetar hebat. Tangisnya hendak pecah. Tapi ia memohon supaya tidak menangis. Jangan sampai menangis.


"Senja tidak salah. Jangan kau hujat dia," tegas Cazim.


Bahkan lelaki itu membela wanita lain. Mengagungkan dan memuliakan sosok Senja.


"Andai saja Senja tidak muncul, mungkin aku juga tidak akan begini. Tapi aku merasa sudah terpaut dan tidak bisa menghentikan ini sejak Senja datang padaku dan aku tidak mau menyia nyiakan kesempatan untuk kedua kalinya!" kesal Cazim. "Kau tidak akan pernah mengerti, Chesy. Sebab kau tidak punya rasa cinta, kau tidak mengerti arti cinta."


"Sudah, cukup!" seru Chesy. "Jika kamu nggak bisa mengatur perasaanmu, minimal kamu hargai aku sebagai istrimu."


"Apa pedulimu atas hubunganku dengan Senja? Kau tidak pernah peduli padaku. Lalu kenapa kau mempedulikan ini?"


"Aku hanya minta kamu menghargaiku!"


"Omong kosong!"


"Sekali lagi kubilang, kamu boleh bunuh aku dulu kalau mau menjalin hubungan dengan wanita lain. Aku dan abi nggak akan menanggung apa pun saat aku mati. Kamu bisa putuskan untuk langsung menikahi Senja setelah aku mati. Nggak ada masalah apa pun yang perlu ditakuti saat aku mati."

__ADS_1


"Diam!" hardik Cazim sambil mengusap wajah kasar.


Sesaat mobil meliuk tak menentu ketika ban menerjang batu besar di sisi jalan. Hujan deras di luar membuat pandangan tak begitu jelas. Ditambah suasana hati Cazim sedang kacau hingga ia tidak konsentrasi menyetir mobil. Mobil banting setir ke kiri saat berpapasan dengan mobil besar dari arah lawan.


Rem mobil yang tak begitu baik membuat Cazim kesulitan mengendalikan mobil yang liar dan menerjang semak belukar hingga puluhan meter.


Brak!


Seketika mobil berhenti dalam keadaan miring. Bergerak- gerak seperti hendak jatuh entah kemana.


Chesy menatap ke luar jendela, terkejut melihat mobil ternyata berada di sisi jurang. Sebagian moncong mobil sudah menggantung di bibir jurang, sebagian lainnya masih di daratan. Mobil tersangkut di pohon yang baru saja tumbang sesaat terkena terjangan mobil.


Jika saja batang pohon patah, maka mobil pasti terjun bebas ke jurang yang kedalamannya mengerikan sekali.


"Aaarrrggkh...." Cazim mengerang. Kakinya terjepit akibat area bagian depan yang menyempit setelah bagian depan ringsek. Keningnya berdarah. Pelipisnya pun dialiri darah segar. Pria itu meringis menahan sakit.


Senja menangis histeris. Ia kesakitan. Lengannya berdarah terkena serpihan kaca. Pelipisnya pun berdarah.

__ADS_1


Sedangkan Chesy di belakang baik- baik saja. Area duduknya aman. Badannya tidak terjepit. Hanya sedikit ngilu di pundak akibat terantuk namun ia berhasil menahan diri.


"Cazim, kita berada di bibir jurang. Kita akan mati. Kakiku sakit sekali." Senja merintih.


Chesy membuka pintu di sisinya. Ia bisa saja melangkah keluar dari mobil untuk menyelamatkan diri. Namun itu tidak dia lakukan.


Krak.


Batang pohon kembali berderak. Senja menjerit hebat.


"Kita akan mati. Kita akan mati. Bagaimana ini? Kakiku terjepit." Senja ketakutan. Ia menangis hebat. "Ya Tuhan, bagaimana ini? Help me! Lakukan sesuatu, Tuhan!"


"Mas, apa kamu bisa keluar?" tanya Chesy.


Namun Cazim tidak menjawab, tubuh pria itu bergetar hebat merasakan sakit di kakinya. Ia berusaha menarik keluar kakinya dari jepitan, namun tidak berhasil. Justru rasanya sakit sekali.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2