Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sepi


__ADS_3

Cazim meletakkan tubuh Chesy di pinggir jalan.


"Kau tunggu di sini dulu, aku akan cari kendaraan untuk membawamu ke rumah sakit. Sabar. Tunggu. Jangan kenapa- napa. Aku mohon!" Cazim berbisik sambil menatap wajah pucat Chesy.


Terpaksa Cazim menggeletakkan tubuh itu begitu saja di atas tanah dan terguyur hujan.


Cazim berjalan tertatih ke jalan, menoleh ke kiri kanan menunggu kendaraan melintas. Tapi sialnya sepi sekali.


Beberapa menit lamanya Cazim menunggu di tepi jalan, tak ada kendaraan umum yang melintas.


Jalan itu memang merupakan jalan yang jarang dilalui. Sengaja Cazim melintasi jalan sepi karena menghindari lalu lintas yang dijaga polisi.


Senja berdiri termenung di sisi jalan sambil menangis sesenggukan.


Wajah Cazim sudah sangat frustasi karena tak mendapati satu pun kendaraan yang lewat. Ia bahkan berjalan ke sana sini saking tak sabar menunggu apa saja. Padahal kakinya sedang sakit, namun ia seperti tidak merasakan sakit itu.


"Shitt! Sial! Sial! Ya ampun, dimana para kendaraan itu. Apakah sesepi ini jalanan ini? Benar- benar seperti kuburan!" Cazim mengumpat panik. Ia bahkan berteriak sambil menendang udara.


"Tuhan, apa yang kau lakukan padaku? Chesy sedang butuh bantuan. Dia bisa mati jika begini. Ayolah!" Cazim bicara sendiri. Panik.

__ADS_1


Melihat kepanikan Cazim, Senja hanya bisa terdiam dengan tangisnya.


Cazim sadar sepenuhnya bahwa ia mengakui tidak mencintai Chesy, tapi kenapa ia secemas ini saat Chesy ada dalam bahaya? Ia takut terjadi apa- apa pada istrinya itu.


Melihat sorot lampu mobil dari kejauhan, Cazim pun berdiri di tengah jalan sambil melambaikan tangan, menghentikan mobil merk pajero sport yang makin mendekat. Ia kemudian menghampiri supir yang membuka jendela mobil.


"Tolong bantu bawa istriku ke rumah sakit. Kami baru saja mengalami kecelakaan," pinta Cazim.


Pria di kemudi itu menoleh pada istri di sebelahnya.


Cazim menatap ke kursi belakang yang dipenuhi oleh tiga orang bocah, dan bagian kursi ketiga dipenuhi barang.


Cazim membiarkan mobil pergi dengan ekspresi makin frustasi.


Cazim kembali menghentikan mobil merah yang melintas dengan cara yang sama seperti tadi.


"Woi, minggir! Mau cari mati lo?" seru pemilik mobil yang menyembulkan kepalanya ke jendela mobil, wanita itu seperti setengah mabuk.


Cazim menghampiri ke sisi si pengemudi. "Bantu aku, istriku harus segera dibawa ke rumah sakit!" Ia menunjuk Chesy yang tergeletak di atas tanah tersiram guyuran hujan deras. Ia tak mempedulikan makian gadis itu tadi. Andai saja di situasi yang tidak semendesak ini, pasti ia sudah mengolesi mulut wanita itu dengan bon cabe.

__ADS_1


"Bodo amat! Bukan urusanku." Gadis itu menginjak gas dan meninggalkan Cazim.


"Brengsek!" umpat Cazim yang hanya bisa menatap putaran ban mobil.


"Cazim, bisakah kamu lebih tenang sedikit?" ucap Senja.


Tatapan Cazim kemudian tertuju ke arah Senja.


"Ayolah lakukan sesuatu, jangan bisanya hanya mengeluh dan mengatakan hal yang tidak berguna!" hardik Cazim.


Senja terkejut. Cazim baru saja membentaknya.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?" Senja sesenggukan.


"Kau bantu memangku kepala Chesy, atau apa saja. Atau jika kau anggap caraku menghentikan mobil terlalu ekstrim dan tidak tenang, kau bisa bantu menghentikan mobil dan bicara dengan supir dengan caramu. Jangan bisanya hanya bicara tak berguna!"


Senja tertunduk. Baru saja Cazim mengakui rasa cintanya pada Senja, namun kini malah marah- marah begitu. Muka Senja makin sedih.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2