Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pertama Meeting


__ADS_3

Pagi itu Revalina tak sempat meluangkan waktu untuk berbincang dengan Sarah meski mulutnya terasa gatal ingin membicarakan keanehan Candini akan tetapi waktu sudah memaksanya untuk segera berangkat ke kantor, terpaksa ia menunda keinginannya.


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor Revalina masih terbayang-bayang salah satu film yang menceritakan tentang jin yang menyerupai salah seorang keluarga sedangkan yang asli masih tersesat di dalam hutan.


'Jangan-jangan yang di rumah itu bukan Mama, tapi jin,' duga Revalina dalam hati.


Seketika keningnya mengerut ketakutan, tak dapat ia bayangkan bagaimana rasanya jadi Sarah sekarang yang kini hanya berdua dengan Candini entah Candini asli atau bukan.


Namun sekejap bayang-bayang itu terpatahkan dengan realita, mustahil cerita film itu terjadi di kehidupan nyata adanya.


Tak lama akhirnya mereka tiba di kantor, lagi-lagi saat Revalina dan Rival masuk ke ruang kerja sudah melihat tumpukan berkas yang entah kapan Joseph letakkan di sana.


"Pagi juga Pak Joseph datangnya, sudah berkali-kali loh," ucap Revalina mulai membuka berkas itu satu-persatu.


"Rajin ya dia, sudah rajin tampan pula," sahut Rival sembari tersenyum tipis.


Mendengar sahutan Rival perasaan Revalina mendadak tak enak, dengan cepat bola matanya memutar beralih ke arah Rival.


"Masih tampan kamu Mas," puji Revalina tersenyum malu-malu mengatakan ini.


"Ah bodoh," tolak Rival tak percaya dengan pujian Revalina.


"Sumpah, kalau jelek nggak mungkin aku mau kamu nikahi," ujar Revalina dengan nada serius.


"Hihihihi, dasar suka bodyshaming," ledek Rival sembari terkekeh.


Tok tok tok tok tok.


Suara ketukan tiba-tiba menghentikan candaan Revalina dan Rival, sontak kedua pasang mata tertuju ke arah pintu ruangan.


"Masuk!" seru Revalina.


Seseorang dari luar pintu itu perlahan masuk ke dalam yang ternyata Rafa, dia berjalan santai menghampiri Revalina yang masih berdiri di pinggir meja kerja.


"Hey, Rival," sapa Rafa sembari melempar senyum ke arah Rival.


"Hey Kak," sahut Rival membalas senyumannya.


"Kalau bosan di sini kau bisa ke ruangan ku, di sana kau bisa bebas nggak seperti di sini pasti kau disuruh-suruh Reva buat kerjain berkas-berkas ini," ucap Rafa dengan nada meledek.


"Enggak Kak, nggak pernah aku di suruh-suruh," sahut Rival dengan lembut.


"Enak saja main tuduh-tuduh orang, aku nggak nyuruh, cuma Mas Rival saja suka inisiatif sendiri," gerutu Revalina kesal.


Tiba-tiba ekspresi wajah Rafa berubah menjadi begitu menyebalkan, seketika membuat Revalina sadar akan bibirnya yang terlanjur keceplosan.


"Nah kan ketahuan sekarang, memang tak berubah kau dari dulu suka merepotkan Rival," ucap Rafa sembari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ih kenapa jadi bahas ini, langsung saja Kakak kesini mau apa?" tanya Revalina cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.


Rafa masih menggeleng sambil tersenyum meledek, agaknya tahu saat ini Revalina tengah mencoba mengalihkan pembicara.


"Aku kesini mau kasih tahu kalau jam 10 nanti ada meeting penting, kau harus datang jangan absen seperti kemarin-kemarin," ujar Rafa berujung teguran.


"Iya-iya," sahut Revalina sedikit kesal Rafa mengungkit ketidakhadirannya di meeting pertamanya waktu lalu.


Setelah memberi tahukan agenda meeting siang ini, Rafa langsung pergi dari ruangan Revalina.


Sebagai seorang ajudan baru dari seorang CEO, Revalina masih berusaha untuk memahami agenda kantor terlebih perihal pengaturan jadwal Joseph.


'Setelah ini aku nggak boleh merepotkan Pak Joseph, aku harus bisa ambil kendali untuk hanya urusan jadwal,' ucap Revalina dalam hati.


Tiba pada jam 10 dengan berat hati Revalina meninggalkan Rival seorang diri di dalam ruangan kerjanya, ia harus pergi ke ruangan meeting saat ini juga.


"Mas, aku tinggal ya," pamit Revalina pada Rival yang tengah sibuk meneruskan pekerjaannya


"Iya, semangat ya," sahut Rival melempar senyum termanisnya.


Benar saja senyum itu seketika membuat semangatnya bertambah, kini kedua langkah kaki mulai ia percepat menuju ke ruangan meeting.


Setibanya di sana semua orang sudah terduduk manis dengan raut wajah tegang seperti orang-orang yang tengah melaksanakan meeting pada umumnya.


Karena beri pertama kali mengikuti meeting, Revalina kebingungan mencari tempat duduknya berada di sebelah mana. Beruntung kode mata Rafa bermain di sana, menunjukkan kursi milik Revalina yang ada di samping Joseph.


Merasa malu dengan kebingungannya mencari kursi tadi, Revalina berusaha menutupi rasa malu itu dengan terus tersenyum seolah tak pernah terjadi apa-apa.


"Bisa-bisanya," gerutu Rafa lirih.


"Hihihi," Joseph melepaskan terkekeh.


Tak disangka sejak tadi Joseph sedang berusaha menutupi kekehannya yang berarti menertawakan kehidupannya.


'Hih, Pak Joseph diam-diam satu frekuensi sama Kak Rafa,' gerutu 


Tak lama Joseph mulai beranjak dari duduknya, mulai mempresentasikan materi meeting siang ini. Perbincangan semakin serius, Revalina harus menaikkan atensinya serta memaksa otaknya berputar lebih cepat mengimbangi pemikiran Joseph yang jauh lebih-lebih pintar darinya.


Karena ia menggunakan otaknya begitu keras serta atensi penuh akhirnya membuat pasokan energinya berkurang.


Krukk krukkkk.


Suara demo pada cacing di perut Revalina keluar pada saat ruangan meeting sedang hening-heningnya, seketika ia langsung menutup mata merasa malu dengan suara perutnya sendiri.


Dapat ia bayangkan bagaimana seluruh pasang mata menyorot ke arahnya dengan tawa yang berusaha tertahan, sungguh ia merasa tak ada wibawanya sebagai ajudan CEO di sini.


'Bisa-bisanya perut ku bunyi sekeras ini, malu,' ucap Revalina dalam hati.

__ADS_1


"Baik, meeting siang hari ini kita sudahi. Masing-masing sudah tahu tugasnya ya untuk persiapan sebelum keberangkatan saya dengan Revalina keluar kota," ucap Joseph pada semua.


"Terimakasih," ucap Joseph menutup meeting siang ini.


Dari laptop Joseph terlihat masih ada beberapa slide lagi namun CEO muda itu memilih untuk segera mengakhiri meeting.


Semua bergegas keluar dari ruangan meeting, tersisa Revalina, Rafa dan Joseph yang masih berada di ruangan meeting itu.


"Hih, bisa-bisanya ya parut bunyi seperti tak makan sepuluh bulan," gerutu Rafa dengan nada kesal.


"Kak, kalau nggak makan sepuluh bulan yang ada perut nggak bisa bunyi lagi soalnya sudah mati," sahut Revalina lebih kesal lagi.


"Sudah-sudah jangan berantem, ini memang sudah waktunya jam istirahat," ucap Joseph cepat-cepat melerai keduanya.


Joseph kini tengah sibuk mengurus laptop dan proyektor itu sedangkan Revalina hanya menunggu Joseph selesai dengan urusannya sebelum meninggalkannya.


"Tapi tadi masih ada beberapa slide lagi, harusnya Pak Joseph lanjutkan saja takut penting," ucap Revalina tak enak dengan Joseph yang sudah mempersiapkan meeting dengan matang namun berantakan hanya karena suara perutnya yang tak bisa di kondisikan.


"Nggak papa yang terakhir itu cuma kesimpulan saja, nggak terlalu penting jadi kalau nggak di sampaikan juga nggak papa," sahut Joseph dengan santainya.


"Sudah, kau istirahat saja dulu Rev. Jangan sampai gara-gara aku ajak meeting kamu jadi pingsan kelaparan," tegur Joseph sembari menatap Revalina.


"Berlebihan, nggak begitu juga Pak," sahut Revalina.


*****


Beberapa hari berlalu kondisi Candini semakin membaik, namun Rival belum berani memutuskan untuk tak lagi merepotkan Sarah. Sedangkan Revalina sebagai seorang menantu melihat Candini sudah sangat baik tak perlu untuk ditemani seperti kemarin-kemarin. 


Dari ruang tengah Revalina dan Rival tengah duduk santai menonton televisi sembari memangku laptop di pahanya menunggu email masuk dari Joseph.


"Jadi fisioterapi Rival masih di rumah sakit yang sama, Rev?" tanya Sarah tiba-tiba datang menanyakan hal itu.


Dengan berat hati Revalina menjawab "masih."


"Yakin?" tanya Sarah sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa memangnya dengan rumah sakit itu?" tanya Rival, bertanya balik pada Sarah.


Bibir Sarah mendadak kaku, berkedut tak mampu langsung menjawab pertanyaan Rival yang disertai sorotan mata yang sungguh menakutkan.


"Takutnya ada malpraktek, lebih tepatnya sekarang ini bisa dibilang kesalahan diagnosis saja sekarang kan marak begitu," jawab Sarah dengan sangat hati-hati.


"Mustahil rumah sakit terbagus di kota ini melakukan malpraktek apalagi salah diagnosis, its impossible," jelas Rival.


Seketika bibir Sarah membisu entah mengaku kalah telak dengan penjelasan Rival atau malas berdebat dengannya.


"Bukan berarti rumah sakit bagus, eksekusinya juga bagus," ucap seseorang dari arah ruang tamu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2