Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Dihajar Massa


__ADS_3

"Maling maling!" teriak pelayan saling bersahutan, bersamaan dengan orang-orang di sekitar sana yang juga ikutan berteriak.


Mendengar teriakan tersebut, Akram panik. Ia semakin mempercepat laju larinya sembari sesekali melirik ke belakang memastikan sampai mana orang- orang itu mengejarnya.


Terlihat jelas semua orang di belakang masih cukup jauh untuk menjangkaunya, saat itu juga Akram melempar senyum tipis dari balik maskernya merasa ia akan selamat dari kejaran mereka.


"Hemh, payah sudah tahu pada nggak bisa lari pakai mengejarku segala," ledek Akram lirih.


Gubrakkkkkk.


Secara mengejutkan tiba-tiba kakinya terasa seperti ada yang menjegal, sontak membuat ia yang dalam posisi berlari langsung terjatuh di atas paving trotoar.


"Kambing," umpat Akram dengan nada kesal.


Bughh bughhh bughh bughh.


Seketika seluruh kepalan tangan melayangkan pukulan ke tubuh Akram dengan bertubi- tubi. Tubuh Akram meringkuk seperti ulat.


"Arghhh," rintik kesakitan Akram merasakan tubuhnya tak karuan ketika dihajar masa tanpa perlawanan.


Refleks ia pun meringkuk demi melindungi perut ya yang sudah tak sanggup menerima pukulan lagiĀ 


Bughhhh.


"Argghhhhhhhh," rintih Akram cukup panjang.


Kini bukan lagi pukulan yang diterimanya melainkan tendangan yang begitu kuat mengenai kaki kirinya, rintihan kesakitan tak dapat lagi tertahankan.


Cukup lama dirinya di hajar seperti ini hanya demi box nasi yang belum dia makan walau sebiji, hal ini membuat Akram marah namun tak mampu melawan mereka semua dengan tubuh yang sudah babak belur ini.


"Hey, stop!" teriak seorang laki-laki dari arah selatan.


"Aku minta stop," teriaknya kembali.


Seketika mereka semua langsung menghentikan pukulan dan tendangannya masing-masing meski masih ada saja yang sesekali menendang.


Bughh.


"Stop," teriak laki-laki itu lebih keras lagi.


Teriakannya kali ini membuat mereka semua terdiam dan tak lagi memukuli Akram, dalam kesakitannya saat ini Akram masih memiliki sisa sedikit energi untuk membuka mata, melirik siapa laki-laki jantan itu.


Terlihat laki-laki bertubuh gempal tengah memarahi orang-orang yang menghajar paksa Akram, dia begitu bijaksana dia menghadapi permasalahan seperti ini.


"Kalian jangan main hakim sendiri, biar bagaimanapun kasihan kita nggak tahu apa yang membuat dia mencuri. Sekarang bisa saja dia menuntut Kalian semua karena sudah memukuli orang lain," ujar laki-laki itu.


"Tapi masalahnya dia itu mencuri, ada rumah makan yang merugi akibat ulahnya," sahut yang lain begitu keras menentang.


"Lihatlah dia cuma ingin makan, kasian dia sangat kelaparan. Mungkin dia tidak punya uang untuk membayarnya. Sisihkanlah sedikit nurani kemanusiaan kalian, jangan main hakim sendiri. Sekarang katakan, berapa biaya makanan yang sudah dicuri anak muda ini biar saya hang bayar," ucap laki-laki itu.


Bak memiliki hati seperti malaikat tanpa lagi banyak bicara laki-laki itu langsung mengeluarkan sejumlah uang untuk mengganti makanan yang sudah hancur berantakan itu kepada pemilik rumah makan yang ternyata ikut menggebuki.


Setelah Itu, laki-laki itu menepikan Akram di pinggir jalan, menawarkan bantuan ke rumah sakit akan tetapi Akram menolak, kaena jika hal itu sampai terjadi, maka akan berpotensi mengundang penciuman polisi terhadapnya.


Alhasil laki-laki itu memberikan kotak P3k miliknya, memberikan roti dan air mineral, lalu dia bergegas pergi mengendarai mobil melanjutkan perjalanannya.


Saat seperti itu, Akram hanya bisa mengucapkan terimakasih yang berulang-ulang pada laki-laki yang tak ia ketahui namanya tersebut.


"Ssshhh," desis Akram merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya termasuk kaki kiri.

__ADS_1


"Begini amat hidup jadi gelandangan, mau makan saja harus kena gebuk dulu, gumam Akram dengan nada kesal.


Di pinggir jalan di saksikan banyak orang yang tadinya memukulinya, kini beralih mencibirnya.


Akram tetap tak peduli kini ia hanya memikirkan diri sendiri dengan mulai menyeka luka memar di seluruh tubuhnya.


*****


POV Revalina.


Pagi harinya ketika Revalina baru saja duduk di kursi kerjanya ia sudah disodorkan selembar ketas oleh Rafa yang seperti biasa langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Apa ini Kak?" tanya Revalina kebingungan.


Belum saja ia membaca surat tersebut, ia sudah langsung bertanya pada Rafa, kini tatapan matanya hanya tertuju pada Rafa sementara jari tangannya mulai menarik surat tersebut.


"Itu surat dispensasi untukmu besok, karena besok kan jam 9 kota sudah mulai sidang," jawab Rafa dengan santainya.


Tiba-tiba jantung Revalina terasa berdegup kencang, menatap surat dispensasi itu dengan tangan gemetar. Entah kenapa ketika sudah berada di ujung tombak ia malah takut menghadapi ini semua.


"Kenapa Reva?" tanya Rafa mulai duduk di kursi yang ada di hadapan Revalina.


"Kak, aku takut," jawab Revalina dengan kening mengerut tajam.


"Takut kenapa?" Tanya Rafa kembali, kebingungan dengan jawaban Revalina.


"Aku takut, pasti di sidang pertama besok akan berdebat hebat. Aku takut kita akan kalah," jawab Revalina.


Sesaat setelah mendengar jawaban Revalina, atensi penuh yang dimiliki Rafa tiba-tiba memudar. Rafa langsung menarik tubuhnya menyandarkan pada sandaran kursi sembari menghembuskan nafas beratnya berulang kali.


"Huh, apa yang kamu takutkan Reva kita punya Levin. Dia dan tim lawyer nya bisa tuntaskan permasalahan ini, lagi pun mana ada keluarga korban kalah sama pelaku," sahut Rafa dengan nada malas.


"Besok, kita di kasih izin sampai persidangan selesai habis itu kita tetap balik ke kantor karena tugas kita nggak ada yang bisa handle, kalau kamu jelas Joseph bisa handle tapi itu pun kalau kau enak hati," ujar Rafa.


Revalina terdiam, ia masih mencerna semuanya dengan baik. Tak lama ia menemukan salah satu hal yang membuatnya merasa ada yang salah.


"Waktu itu sidang di jadwalkan mundur sembari menunggu Akram ditangkap, tapi sekarang sidang malah dimajukan padahal Akram belum tertangkap," ujar kebingungan Revalina.


Terlihat perubahan reaksi pada wajah Rafa yang nampak begitu signifikan setelah Revalina berucap membuatnya semakin curiga akan semua ini.


"Sepetinya karena mereka sudah kewalahan mencari Akram apalagi dia kabur ke luar negri jadinya mereka mengurus hukum buat Dalsa dulu setelah itu mungkin Akram kalaupun dia tertangkap," sahut Rafa berdasarkan pemikirannya sendiri.


Mendengar hal itu justru membuat Revalina semakin pusing, ia yang masih buta hukum, tak mengerti dengan semua yang dijelaskan Rafa.


"Memangnya kalau kabur ke luar negri kenapa Kak, tinggal datangi saja langsung tangkap kan beres?" tanya Revalina dengan raut kebingungan.


"Mudah sekali bicara mu, mana mungkin bisa begitu. Aturan menangkap seseorang di negara orang itu ada aturannya harus izin dulu, nah sebelum itu kan harus cross check apa Akram di sana klaim visa khusus di sana kalau iya sudah fix dia nggak akan bisa tertangkap," jelas Rafa panjang lebar.


Sontak kedua mata Revalina mendelik mendengar penjelasan Rafa, ia tak menyangka segitu ribetnya untuk proses penangkapan Akram. Mendengar hal ini ia keyakinannya bahwa Akram akan tertangkap jadi tipis, saat ini yang paling benar adalah pasrah pada Tuhan.


"Kenapa jadi seribet ini Kak, kasihan Rajani kalau Akram nggak dapat balasannya. Enak saja dia bisa hidup bahagia tertawa lepas sementara Rajani tersiksa karenanya," ucap Revalina dengan nada kesal.


"Percayalah karma itu ada," sahut Rafa singkat.


Beberapa jam berlalu, hari ini Revalina lebih cekatan dan menaikkan ketepatan pada setiap pekerjaannya. Ia ingin cepat-cepat pulang, sebab seharian ini Rival tak membalas pesan darinya. Tapi sayangnya tetap saja ia pulang di jam biasanya, yaitu jam 4.


Dengan tergesa-gesa Revalina berjalan cepat keluar dari kantor menyalip segerombolan karyawan yang juga hendak pulang.


Di jalanan ia masih terkena macet, rasanya saat itu ingin mengumpat saja. Kemacetan kali ini sangat parah hingga membuat mobilnya tak bergerak selama kurang dari setengah jam.

__ADS_1


"Ini harusnya aku sudah sampai rumah," gerutu Revalina sembari memandangi kemacetan parah ini.


Beberapa jam kemudian dengan laju mobil yang seperti siput akhirnya Revalina bisa keluar dari kemacetan kota, ia pun sampai di rumah tepat ketika adzan Magrib berkumandang.


"Assalamualaikum," ucap salam Revalina.


"Waalaikumsalam," jawab salam Sarah menyambut kepulangan Revalina.


Melihat hanya ada Sarah di hadapannya, seketika Revalina langsung celingukan kesana kemari mencari Rival dan Yakub yang tak terlihat batang hidungnya.


"Mas Rival sama Kak Yakub ada di mana Mbak?" tanya Revalina dengan tatapan cemas.


"Baru berangkat ke Masjid tadi," jawab Sarah.


"Oh," gumam Revalina mengangguk tipis sembari menghembuskan nafas leganya.


Setelah berbincang sebentar kemudian Revalina bergegas membersihkan diri lalu sholat di rumah, sampai pada akhirnya dirinya selesai sholat Rival dan Yakub tak kunjung pulang juga.


Hal ini jadi memantik kekhawatiran Revalina, mengingat jarak rumah dan Masjid yang dekat akan tetapi mendekat tak kunjung sampai di rumah.


"Mbak," panggil Revalina keluar dari kamarnya dengan wajah panik.


"Ada apa Reva?" tanya Sarah ikut panik, dari arah kamarnya juga langsung keluar.


Dengan cepat Sarah menghampiri Revalina, nampak Kakak iparnya ini begitu panik dan cemas kerasa dari genggaman tangannya pada Revalina sekarang.


"Mas Rival sama Kak Yakub belum pulang juga, harusnya mereka dari tadi kan sudah pulang Mbak," ujar kepanikan Revalina.


Akan tetapi respon tak terduga kini mulai ditunjukkan pada Sarah, sesaat setelah Revalina berucap Sarah langsung menghembuskan nafas beratnya sembari melepaskan genggaman tangannya sendiri.


"Jelas saja mereka belum pulang juga," sahut Sarah sembari terus menghembuskan nafas beratnya secara berulang kali.


Mendengar hal itu kepanikan Revalina seketika berubah menjadi kebingungan, ia bingung dengan ucapan Sarah yang membuatnya harus berpikir keras mencerna semua kalimatnya.


"Maksud Mbak apa?" tanya Revalina dengan kening yang mulai mengerut tajam.


"Gimana mereka mau cepat sampai orang mereka saja ke Masjid jalan kaki," jawab Sarah.


Seketika tubuh Revalina langsung melemas, ia tak menyangka jika suami dan Kakak iparnya akan memilih berjalan kaki.


"Hah, tumben mereka jalan kaki. Pantas saja memakan waktu," ucap Revalina terkejut.


"Nggak tahu tuh, mungkin mau nostalgia atau gimana aku nggak mengerti. Aku suruh pakai motor juga pada nggak mau," sahut Sarah.


"Assalamualaikum," ucap salam Rival dan Yakub dari arah depan.


Panjang umur, akhirnya yang dibicarakan pulang juga.


"Waalaikumsalam," jawab Revalina dan Sarah secara bersamaan.


"Sarah, buatkan aku kopi ya," pinta Yakub.


"Siap," sahut Sarah bergegas ke dapur.


Sementara Rival sepulangnya dari Masjid justru langsung masuk ke kamar tanpa menyapa Revalina bahkan melirik saja enggan.


'Ada apa sama Mas Rival?' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2