Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pertama Bekerja


__ADS_3

Dengan tatapan bingung perlahan Rival menoleh ke belakang, ke arah Revalina.


"Enggak, orang Kak Rafa kemarin bilang kalau hari ini kamu itu ada ketemu sama CEO," jawab Rival dengan penuh keyakinan.


Ia mulai mengingat-ingat kembali ucapan Rafa saat itu,  tak lama akhirnya tersadarkan dengan fakta yang ada memang Rafa mengatakan hal itu namun sekarang pada kenyataannya dua lantai di kantor ini kosong tak berpenghuni.


Makin lama semakin pusing saja, akhirnya Revalina memutuskan untuk menuju ke ruang kerjanya sembari menghubungi sang Kakak melalui chat.


Setelah beberapa lama menunggu akhirnya dia mengerti kenapa lantai 3 kosong tak berpenghuni, ternyata pagi-pagi tadi sedang ada rapat dengan CEO mengenai kunjungannya di luar kota dan ia sudah terlambat.


"Mas, ternyata tadi itu rapat," ujar Revalina dengan santainya.


Rival yang semula tengah sibuk membaca buku seketika langsung menurunkan buku itu dari hadapannya, menatap Revalina dengan tatapan melongo.


"Tuh kan, apa aku bilang kalau kau merasa di rumah keteteran mending nggak usah dikerjakan biar Mbak Sarah saja. Untuk sekedar sarapan dengan roti dan susu aku bisa siapkan," tegur Rival untuk yang kesekian kali.


"Nggak ada hubungannya Mas, tadi itu memang akunya yang lelet saja, bangun juga kurang pagi," sahut Revalina tak setuju dengan teguran Rival.


Tok tok tok tok tok. 


Terdengar suara ketukan dari luar pintu ruang kerja, sontak membuyarkan pembicaraan Revalina dan Rival sekarang.


"Masuk!" seru Revalina.


Klekkkk.


Perlahan pintu mulai terbuka sedikit demi sedikit memperlihatkan dua pasang kaki berada di luar sana dengan sepasang kaki yang lebih dulu melangkah masuk. Nampak Rafa dengan sosok laki-laki yang tak asing di mata Revalina, keduanya bertemu saling kebingungan.


"Assalamualaikum," ucap salam Rafa.


"Waalaikumsalam," sahut Revalina dan Rival serentak.


"Selamat pagi adik ku, ratu terakhir," ledek Rafa atas keterlambatan Revalina.


Mendengar ledekan itu dibawa oleh Rafa ke kantor seketika membuat bibir Revalina manyun kesal, merasa tak di hargai di depan orang baru yang berdiri bersama Rafa sekarang.


"Okey jadi ini adikku namanya Revalina, dia yang akan jadi asisten pribadi mu. Nah kalau yang satu lagi ini adik ipar ku namanya Rival," ucap Rafa mulai memperkenalkan kedua asiknya di hadapan laki-laki itu.


"Salam kenal semua, nama saya Joseph. Saya CEO di perusahaan ini, mohon untuk kerjasamanya dan aku harap kita saling berbagi pemikiran untuk kemajuan perusahaan," ujar Joseph tak terkecuali menatap Rival pula.


"Baik, Pak Joseph," sahut Revalina mengangguk pelan.


"Oke, sekarang sudah kenal ya. Aku harap kalian bisa langsung klop karena akan ada project besar," ucap Rafa dengan nada serius, berbeda jauh dengan kebiasaanya.


"Aku harap juga, Joseph bisa membimbing Revalina. Karena anak ini perlu dibentuk ulang karakter dan pemikirannya," ujar Rafa pada Joseph.


Joseph langsung mengangguk sembari terus mendengarkan ucapan Rafa dengan seksama.


Dia begitu gagah, tampan tak terlalu menunjukkan gerakan yang berlebihan sehingga terlihat sangat cool, ditambah pakaian yang dia kenakan sangat pas di badan sixpack nya.


'Aku nggak menyangka sebelumnya aku sama dia pernah bertemu di lobi, dia lumayan ramah untuk kapasitas seorang CEO yang tak mengenal aku siapa,' gumam Revalina dalam hati setelah mengingat-ingat terburu-buru keluar dari ruangan Revalina.

__ADS_1


Teganya Rafa meninggalkan Joseph di dalam ruangan Revalina, kini dia langsung terdiam beberapa puluh detik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu sebenarnya sudah pulang kemarin kan?" tanya Rival para Joseph.


Sontak Joseph langsung menaikkan dagunya, menoleh ke arah Rival dengan sedikit terkejut.


"Iya, aku kembali ke kantor sore hari karena ada berkas yang harus aku urus hari itu juga dan waktu itu aku bertemu denganmu. Maaf saat itu aku pikir kau itu seorang tamu dari karyawan di sini, tahu-tahunya menantu yang punya perusahaan," jawab Joseph dengan panjang lebar.


Pengenalan itu berlanjut ketika mereka di hadapkan dengan suatu pekerjaan yang sejatinya harus di selesaikan hari itu juga namun sejak pagi sampai siang menuju jam istirahat Revalina belum juga menyelesaikan pekerjaannya.


Sungguh ia dibuat pusing tujuh keliling dengan pekerjaannya sedangkan Rival tak mengetahui akan karakter dan visi misi perusahaan ini sehingga tak bisa membantunya.


"Aduh, ini gimana cara kerjainnya mana sudah jam segini lagi" gerutu Revalina lirih sembari mengutak-atik komputernya.


"Ada apa Reva?" tanya Rival perlahan mulai mendekati sang istri dengan menggerakkan kedua roda pada kursinya.


"Ini Mas, masih yang tadi aku masih nggak paham," jawab Revalina dengan nada merengek.


Rival langsung mengangkat kedua tangannya, pasrah dengan kebingungan Revalina kali ini.


"Duh, kalau masih yang tadi aku nggak bisa bantu Rev. Karena yang tahu perusahaan ini ya kamu sendiri," sahut Rival dengan berat hati.


"Aku ke ruangan Pak Joseph dulu kalau begitu, dari pada kita nggak bisa istirahat siang ini," ucap Revalina dengan wajah khususnya perlahan beranjak sembari menata berkas-berkas yang seharusnya ia kerjakan sejak tadi.


"Ya sudah, jangan lama-lama ya," ucap Rival.


"Iya," sahut Revalina membalas dengan senyuman manisnya.


Ia pun segera menuju ke ruangan Joseph, sang CEO yang telah memberinya tugas berat yang sampai sekarang belum ia pecahkan.


Tok tok tok tok tok.


"Masuk!" seru Joseph dari dalam ruangan.


Mendengar suara Joseph, Revalina pun bergegas masuk ke dalam melenggang cepat tak peduli apa kata Joseph.


"Permisi Pak," ucap Revalina sembari terus melangkah ke arahnya.


"Reva, kenapa. Ada masalah Kah?" tanya Joseph dengan wajah kebingungan.


Masih dengan wajah kusutnya langsung mengangguk, perlahan Revalina mulai terduduk di kursi yang ada di hadapan Joseph, menyodorkan berkas tadi ke hadapan Joseph.


"Aku nggak paham Pak, pekerjaan ini terlalu sulit buat aku," ucap Revalina setengah merengek.


Tiba-tiba Joseph sepeti tengah menahan senyumannya sambil mengolak-alik bekas di hadapannya.


"Nggak ada yang terlalu sulit di dunia ini Reva, kau orang pintar dan aku tahu itu hanya saja kamu belum memahami perusahaan ini secara utuh," sahut Joseph dengan nada bicaranya yang tenang.


Tak lama Joseph mulai menerangkan tentang semuanya yang ada di perusahaan ini dan apa yang sudah di lalui serta pencapaian-pencapaian, tak lupa Joseph juga menjelaskan tentang program CSR yang sudah perusahaan ini lakukan untuk menunjang presentasi esok untuk menggaet project besar lainnya.


Dia pun juga menerangkan hasil audit selama dua tahun terakhir, memberikan penjelasan dengan sejelas-jelasnya. 

__ADS_1


Mendengar penjelasan serinci ini Revalina langsung mengangguk paham, ia sudah tahu apa yang harus ia kerjakan dalam berkas itu sejak tadi dirinya sudah terbayang akan seluruh hasil pekerjaannya nanti.


Setelah menjelaskan dengan begitu panjang lebat, Joseph langsung menyodorkan laptop miliknya, dan berkas itu kembali ke arah Revalina.


"Kamu kerjakan saja di sini, biar kalau ada yang kurang paham lagi bisa langsung tanya," ujar Joseph.


Seketika kedua tangan Revalina terdiam kaku tak langsung menyahut laptop itu, ia teringat dengan Rival yang berada di ruang kerjanya seorang diri dan sudah berjanji akan cepat kembali. Revalina termenung menunduk memikirkan hal ini.


"Reva, kenapa melamun?" tanya Joseph menatap Revalina dengan tatapan kebingungan.


Sontak pertanyaan CEO ini mengentak lamunannya, membuatnya tersadar dan langsung mengangkat dagunya sejajar.


"Ada masalah?" tanya Joseph kembali.


"Nggak ada Pak," jawab Revalina sembari menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah kalau nggak ada masalah, kerjakan sekarang," jelas Joseph masih dengan wajah kebingungannya.


"Sebentar Pak, ini nggak bisa saya kerjakan di ruangan saya saja. Sepetinya saya sudah paham semua," ujar Revalina memberi usul agar ia tak perlu meninggalkan Rival.


"Bukannya aku nggak percaya, tapi lebih baik kamu di sini dulu kerjakan berkas ini sebelum jam istirahat karena aku juga harus cross check juga kan," jelas Joseph menatap Revalina.


"Baik Pak," sahut Revalina pasrah.


Tak ada pilihan lain, ia terpaksa mengiyakan printa Joseph. Memang perusahaan ini milik keluarganya tapi sepersekian persen juga milik Joseph, bukan berarti membuatnya jadi asisten pembangkang. Ia ingin menikmati setiap prosesnya meski di kandang sendiri.


Dari meja kerja Joseph, perlahan Revalina berpindah ke sofa panjang hitam yang ada ruangan kerja Joseph membawa laptop dan berkas itu.


'Aku harus selesaikan secepatnya,' ucap Revalina dalam hati.


Kini Revalina mulai melahap pelan demi perlahan pekerjaannya, memindahkan segala kalimat yang ada di otaknya sejak tadi. Sebegitu fokusnya Revalina mengerjakan berkas ini sampai pusat perhatiannya hanya tertuju pada layar monitor.


"Hum, banyak juga program CSR yang di lakukan perusahaan ini kenapa aku baru tahu sekarang ya. Tahu begitu tugas manajemen strategi waktu kuliah dulu aku pakai perusahaan ini," gumam Revalina lirih sembari mengetik.


"Bisa-bisanya aku nggak tahu apa-apa tentang perusahaan almarhum Abi, gimana mau kelat coba kalau yang di punya punya teori sedangkan yang lain kosong," gumam Revalina kembali.


Ia kembali fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba tak lama Joseph datang lalu berdiri di belakang Revalina sepetinya tengah membaca apa yang sedang Revalina kerjakan.


"Pintar juga kau ya, sekali aku jelaskan sudah langsung bisa kerjakan semuanya," puji Joseph setinggi langit.


Mendengar pujian itu Revalina langsung tersenyum malu, mengingat dirinya yang merasa tak begitu pintar tak seperti yang dikatakan Joseph barusan.


"Alhamdulilah, amin semoga saya bisa terus jadi nggak merepotkan Pak Joseph seperti tadi," sahut Revalina.


Raut wajah Joseph langsung berubah, tak setuju dengan ucapan Revalina.


"Siapa bilang merepotkan, aku nggak pernah bilang begitu. Justru aku sedih kalau kau bisa sendiri tapi ujung-ujungnya salah kan jadi kerja dua kali," ucap Joseph.


Revalina mengangguk pelan, paham dengan maksud ucapan Joseph hanya saja entah kenapa ia terbawa perasaan tak enak ketika banyak tanya atas ketidaktahuannya tentang perusahaan ini.


"Jangan pernah bilang merepotkan atau apapun itu, biasa saja dengan ku seperti kamu sama teman-teman mu luaran sana. Aku ingin kita nggak ada tembok karena itu akan sulit untuk kita bisa maju mengembangkan perusahaan ini," ujar Joseph.

__ADS_1


'Tak ada tembok,' ucap Revalina dalam hati dengan kedua matanya yang terbelalak.


Bersambung


__ADS_2