
"Maaf Ma, untuk kali ini aku nggak terima kalau Rajani di salahkan sementara jelas-jelas pembunuh itu Dalsa. Dalsa yang bersalah di sini," jelas Revalina sambil menunjuk-nunjuk muka Dalsa yang bersembunyi di belakang Candini.
"Hey, jaga jari dan mulut mu itu," tepis Candini menampik jari Revalina yang lancang menunjuk muka Dalsa tanpa sopan.
"Gimana aku bisa jaga mulut dan jari ku kalau Mama saja terus-terusan membela pembunuh ini, parahnya lagi malah menyalahkan almarhum Rajani. Aku nggak terima Ma, Rajani sudah sangat tersiksa di akhir hayatnya aku nggak mau sekarang dia tersiksa di akhirat karena disalahkan orang padahal dialah korbannya," ucap Revalina panjang lebar, mulai menumpahkan kekesalannya.
Tak ada lagi menunduk, kini dengan berani tegap menatap Candini namun untuk menantang ia tetap tak berani ia masih menghormatinya sebagai Mama mertua.
"Untuk permasalahan seputar cinta dan perasaan aku rasa apa yang dilakukan Dalsa ke almarhum Rajani sudah sangat kelewatan, bukankah membinasakan orang dengan apapun alasannya itu tetap salah. Lantas kenapa Mama terus menyembunyikan Dalsa di ketek Mama?" tanya Revalina setelah panjang berucap.
Candini mulai menggeleng-gelengkan kepalanya, nampak lemas tak berdaya begitupun Dalsa yang sejak tadi terus menangis seolah berusaha menunjukkan sisi lemahnya.
'Mereka ini sedang berakting atau gimana sih,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
"Aku nggak nyangka mulut mu bisa selicin itu, sekarang aku tahu kenapa Rival bisa semarah ini sama Dalsa itu ya karena hasutan mu," ucap Candini kembali menyalahkan Revalina.
"Harus betapa kali aku katakan Ma, Revalina sama sekali nggak menghasut ku. Justru mata ku sekarang sedang terbuka dengan sendirinya, aku baru sadar kalau memang aku punya adik pembunuh," sahut Rival kembali bersuara.
Malam itu terjadi perdebatan yang cukup panjang, semakin malam semakin memanas. Hingga di ujung perdebatan Dalsa mulai membela diri, sama sepeti Candini dia ikut menyalahkan Almarhum Rajani, membunuh karakter almarhum Rajani serta memfitnahnya dengan berbagai cerita halunya.
Plakkkkk.
Refleks Rival menampar Dalsa dengan tangan panjangnya, dia tak lagi bisa menahan kegeramannya pada sang adik yang terus saja mengelak dengan berbagai cara.
"Rival," teriak Candini langsung menarik Dalsa, mendekapnya dalam pelukan hangat.
Lagi-lagi Rival membuat Dalsa menangis, seketika Candini naik pitam dan kembali menyalahkan Revalina. Menyalahkan dan terus menyalahkan sampai tibalah satu kalimat pamungkasnya.
"Dengan tegas aku katakan, pergi dari rumah ini, aku nggak mau ada pembunuh di sini membawa pengaruh buruk ke keluarga ini. Cepat pergi dari sini," perintah Rival sambil menunjuk pintu rumah.
"Hiks hiks," isak tangis Dalsa semakin terdengar jelas.
__ADS_1
"Otak kamu itu dimana sih, Dalsa! Rajani itu saudara kembar Revalina, istri aku ... Kakak ipar kamu!" Rival emosi. "Kok bisa-bisanya kamu sampai hati membunuhnya seperti itu, dimana otak kamu, hah! Dimana!" sentak Rival pada adiknya.
Dia tentu tidak menyangka jika sang adik dapat melakukan perbuatan yang begitu keji itu pada saudaranya sendiri, meskipun persaudaraan itu terjalin karena pernikahan antara dirinya dan juga Revalina.
Namun tetap saja mereka sekarang ini saudara, dan perbuatan Dalsa terhadap Rajani itu sangat keterlaluan.
Menghilangkan nyawa orang lain itu bukan hal yang simpel, bagaimana jika nantinya polisi mengendus kasus kematian Rajani dan mengusutnya?
Tentu semua akan semakin kacau, juga nama baik keluarga yang selama ini dia jaga dengan susah payah pasti akan hancur dalam sekejap.
Sementara Dalsa sendiri hanya mampu terdiam di tempatnya, dia tidak bisa mengelak atau membela diri di hadapan kakaknya itu.
Apalagi Rival sudah mengetahui semua kebenarannya, tentu akan sangat sulit untuk dirinya membela diri dihadapan laki-laki itu.
"Maaf, Kak ... Aku tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini." lirih Dalsa yang seketika membuat Rival langsung menoleh menatap sang adik dengan tatapan tajamnya.
"Tidak tahu kamu bilang!"
"Jelas-jelas pembunuhan terhadap Rajani itu direncanakan, Dalsa! Dan kamu masih bisa bilang kamu tidak tahu akhirnya akan seperti ini!" Ucapan Rival sempat terhenti beberapa saat.
Menyuruh Dalsa untuk keluar dari rumah itu.
"Pergi kamu dari rumah ini, aku tidak mau menampung seorang pembunuh di rumahku!" ucapnya dengan penuh penekanan, sedangkan Dalsa sendiri hanya bisa menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya.
Ya, tidak percaya jika Rival berani mengusirnya dari rumah.
Satu hal yang mengganggu pikirannya saat ini,
'Akan tinggal dimana dia jika Rival sampai mengusirnya seperti ini?'
"Kak, Kakak tidak serius mengusirku kan, Kak?" ucap Dalsa menatap ragu Rival.
__ADS_1
"Untuk apa aku berbohong, Dalsa ... Aku mengatakan apa yang ada di otakku sekarang, cepat kemasi barang-barang mu dan segera angkat kaki dari rumahku!" tegas Rival muak. Menatap wajah Dalsa saja ia sudah muak.
"Tidak, tidak ada yang boleh pergi meninggalkan rumah ini!" sahut seorang perempuan paruh baya tak jauh dari keberadaan Rival dan juga Dalsa, membuat perhatian dua laki-laki itu seketika teralih dan menoleh menatap sang ibu yang sedang berdiri sambil menatap kedua anaknya dengan tatapan tajam.
"Ibu ...." lirih Rival juga Dalsa dalam waktu bersamaan.
"Kamu tidak bisa mengusir Dalsa dari rumah ini, Rival ... Sebesar apapun kesalahannya, dia tetaplah adikmu."
"Kamu wajib menjaga dan melindungi dia dengan seluruh tenagamu, Rival ... Bukan malah mengusir dia dan menyuruhnya pergi seperti itu" ucap Candini.
"Tapi, Bu ... Kesalahan yang dilakukan oleh Dalsa kali ini benar-benar sudah fatal, dia ikut terlibat pembunuhan terhadap Rajani, saudara kembar istriku!" Meski masih dilanda emosi, Rival tetap berusaha menurunkan nada bicaranya dihadapan sang ibu.
Pria itu masih sangat menghormati wanita yang telah melahirkan dan berjuang untuknya itu, walaupun apa yang dia katakan kali ini sangat membuatnya kecewa.
Bagaimana tidak, Candini menyuruh Rival memaafkan perbuatan Dalsa dan tetap melindunginya meski kesalahannya tidak bisa dimaafkan sebab telah menghilangkan sebuah nyawa milik orang lain.
Jika dia melakukan itu, itu sama saja dengan dia mengabaikan istrinya sendiri.
Mengabaikan perasaan Revalina yang pastinya sangat hancur atas kematian saudaranya, Rival tidak ingin mengorbankan wanita yang selama ini mendampinginya dalam susah maupun senang.
Baginya orang yang bersalah harus tetap mendapat hukuman, tidak peduli meski itu saudaranya sendiri!
"Lalu apa masalahnya, Rival ... Lagi pula Revalina tidak tahu tentang kenyataan itu kan, tinggal kamu sembunyikan saja semua yang kamu tahu dari istrimu dan semuanya akan baik-baik saja. Dalsa juga tidak perlu keluar dari rumah ini!" ujar Candini yang lagi-lagi membuat rival merasa kecewa dengan sikap ibunya yang terlalu berpihak pada Dalsa.
"Tidak, Ma ... Aku tidak ingin memelihara seorang pembunuh dalam rumah!"
"Aku tetap akan meminta Dalsa untuk pergi dari rumah, jika aku melihat Dalsa dan Revalina dalam satu ruang sama aku pasti tidak akan sanggup."
"Aku tidak bisa melihat Dalsa dengan semua kebebasannya meski dia telah melakukan sebuah kesalahan besar, sedangkan di sisi lainnya aku harus melihat kesedihan yang terpatri di wajah Revalina sebab duka kehilangan Rajani." Rival tetap dalam keputusannya untuk mengusir Dalsa dari rumah, tidak ingin membuat Dalsa merasa bebas dengan semua kejahatan yang telah dia lakukan di belakangnya.
"Tidak bisa, Rival ... Dalsa tidak boleh pergi dari rumah ini!" Candini kekeh. "Mau tinggal dimana dia kalau kamu mengusirnya, kamu itu saudaranya satu-satunya ... Seharusnya kamu yang mengayomi dan membantunya mendapat tempat tinggal, bukan malah mengusirnya seperti itu!" Candini masih saja tidak terima dengan keputusan Rival yang ingin mengusir Dalsa, wanita itu memikirkan kan kemana putranya yang satu itu.
__ADS_1
Apalagi sekarang hari sudah malam, pasti banyak orang-orang jahat berkeliaran di luar sana.
"Maaf, Bu ... Kali ini Rival tidak mau menuruti ucapan Ibu, Dalsa cepat kamu kemasi barang-barangmu dan segera keluar dari rumah!" ucap Rival sambil menatap Dalsa yang kini tidak bisa berbuat apa-apa.