Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Ancaman


__ADS_3

"Mau kemana kau?" Cazim menarik lengan Chesy.


"Pulang. Lepasin!" Chesy berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Cazim, namun tidak berhasil. Tenaga Cazim tidak cukup seimbang dengan kekuatannya.


"Aku belum menyuruhmu pulang. Aku masih mau bicara. Aku paling benci dengan orang yang selonongan sepertimu, main masuk kamar sembarangan. Sudah berapa kali kau lakukan itu padaku?"


"Kamu marah bukan karena aku selonongan, tapi karena rahasiamu hampir terbongkar olehku. Kamu orang berada, uangmu banyak. Tapi kenapa memilih tinggal di kontrakan kecil ini? Apa yang membuatmu meninggalkan tempat tinggalmu dan bersembunyi di sini?" Chesy sempat melihat bukti transaksi uang yang nominalnya fantastis tadi.


Tatapan mata Cazim makin tajam. Rahangnya pun mengeras. "Kau sudah terlalu jauh mencampuri privasiku."


"Aaakh..." Chesy meringis merasakan lengannya sakit sekali. Ngilu dan nyeri. Cengkeraman tangan Cazim sangat kuat. Jari berotot Cazim bahkan melingkar penuh di lengan kecil itu. "Lepasin. Sakit!"


Tidak ada tanggapan dari Cazim. Lelaki itu terus saja mencengkeram erat lengan Chesy dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Sakit. Lepas!" Chesy memukuli tangan Cazim yang memegangi satu lengannya itu.


"Aku bisa saja memberimu peringatan keras atas perbuatanmu ini. Jangan menyesal jika sampai terjadi sesuatu pada orang yang kau sayangi."


Chesy tidak menggubris perkataan Cazim. Ia terus memberontak meminta dilepaskan. Sampai akhirnya tanpa sadar ia menangis, air matanya tumpah begitu saja.


"Ini sakit sekali. Kamu menyakitiku. Lepas. Hiks." Chesy merintih.


Mata Chesy berair saat menatap Cazim. Tangannya mengusap- usap lengan yang pasti sudah membiru. Kulit Chesy sangat putih hingga cengkeraman tangan Cazim pasti meninggalkan bekas.


"Kamu beneran jahat! Hanya lelaki lemah yang berani menyakiti fisik wanita begini. Aku sumpahin kamu menjadi manusia sial seumur hidup dan menikah dengan wanita paling jelek juga memalukan di dunia ini. Secepatnya ajal menjemputmu! Huh!" Chesy menghambur pergi. Berlari dengan air mata yang membanjiri wajah.


Tangan kanannya terus saja mengusap- usap lengan kanan yang terasa ngilu. Ia lalu berhenti sebentar tepat di bawah lampu jalanan. Ia angkat ujung lengan baju hingga ke pangkal lengan untuk melihat kondisi lengan kanannya itu.

__ADS_1


Ya ampun, warnanya membiru. Jari besar tangan Cazim membekas di sana.


"Duh, sakit! Dasar jahat! Manusia terkutuk! Bisanya menyakiti fisik wanita! Keterluan! Hu huuu..." Chesy sesenggukan merasakan sakit di lengannya.


Seandainya saja Sarah yang merasakan sakit itu, mungkin Sarah tidak akan menangis. Sarah hanya akan mengurutnya saja pelan- pelan tanpa begitu peduli dengan rasa sakit yang tak seberapa baginya. Tapi ini yang mengalami sakit adalah Chesy, gadis yang kesehariannya hidup enak dengan segala keperluan yang dipersiapkan oleh pembantu, terkadang juga Yunus yang selalu menyiapkan keperluannya.


Dan satu lagi, kulit tubuh Chesy terlalu putih hingga bekas luka apa saja, meski hanya baret sedikit pun akan meninggalkan bekas cukup kuat.


Bersambung


Jangan lupa kasih hadiah, dan ikuti juga cerita Emma Shu di sebelah yang orange itu dengan judul MENCINTAI SANG PANGERAN. Baca gratis loh. Ada yang udah baca di sana belum? Masih ongoing


Yuk pencet tombol permintaan update di bawah. Makin banyak yg minta update, berarti ada banyak yg nungguin cerita ini 🥰

__ADS_1


__ADS_2