
"Cazim, jadi selama ini sakitmu itu tidak hanya demam saja? Kau terkena tembakan, benar begitu?" Yunus menatap sendu.
"Iya, benar, abi. Tapi aku sudah sembuh. Aku baik- baik saja sekarang. Jadi tidak perlu dipermasalahkan lagi," jawab Cazim tenang.
"Bagaimana abi tidak mempermasalahkannya? Ini masalahnya ada pada Chesy. Chesy sudah bertindak kriminal. Dia menembakmu. Dari mana pula Chesy mendapatkan senjata api?"
"Dari polisi yang datang ke acara walimah," jawab Cazim. "Tapi itu terjadi karena tidak disengaja."
"Kenapa kamu membelanya? Dia sudah melukaimu, hampir melenyapkan nyawamu. Ini perbuatan kriminal dan membahayakan. Tidak bisa dianggap sepele. Perbuatannya itu sudah kelewat batas." Raut kemarahan tampal jelas di wajah Yunus. "Chesy bahkan sengaja membawamu ke kontrakan supaya abi tidak tahu perbuatan jahatnya itu."
"Abi, kemarilah duduk denganku. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin." Cazim merangkul mertuanya dan mengajaknya duduk di sofa. "Abi tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Jika dilihat sekilas saja, pasti kesannya Chesy itu bersalah. Tapi nyatanya tidak seperti itu. Chesy tidak sengaja menembakku, awalnya dia hanya ingin mengancamku supaya aku mau bicara tentang masa laluku yang sangat ingin dia ketahui, tapi tanpa sengaja ia menekan pelatuk hingga pelurunya melayang dan mengenaiku. Ini murni tidak disengaja."
"Tapi dia menyembunyikan mu di kontrakan supaya abi tidak mencium kejahatannya itu," kesal Yunus.
__ADS_1
"Tidak begitu masalahnya. Akulah yang meminta Chesy membawaku ke kontrakan, sebab aku tidak mau abi mencemaskan kondisiku jika sampai abi tahu keadaan yang sebenarnya. Jadi aku memilih untuk sembunyi di kontrakan. Kalau pun Chesy berbohong pada abi, itu karena permintaanku, abi. Bukan keinginan Chesy, maafkan aku."
Yunus terdiam. Ia menepuk pundak Cazim bangga. "Kau sudah dilukai oleh Chesy tapi masih bisa membelanya."
"Dia istriku, abi."
Yunus menatap haru. "Tidak salah aku menikahkan Chesy denganmu."
"Memangnya dari mana abi tahu soal ini?"
Cazim mengangguk. Pria itu kemudian menoleh ke arah Chesy yang masih membeku di tempat. Ia mengedipkan satu mata sambil mengangkat jempol, seakan memberi kode aman.
Kenapa Cazim memihak pada Chesy? Bukankah pria itu bisa memperburuk situasi dan menjatuhkan nama Chesy di depan abinya dengan memojokkannya? Ini malah sebaliknya, Cazim membela Chesy. Apa yang ada di pikiran Cazim?
__ADS_1
Chesy melangkah pergi, ia keluar dan menuju rumahnya Mimin. Tidak perlu naik motor, rumah Mimin tidak jauh dari rumahnya, bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki saja.
Tak lama kemudian Chesy sampai di rumah kecil nan sederhana milik Mimin. Rumah yang catnya pun sudah tidak bagus lagi karena sudah usang. Itulah rumah peninggalan orang tuanya Mimin.
"Mimin!" Chesy menghampiri janda muda yang tengah menampi beras di samping rumahnya.
Hari gini masih menampi beras? Dia pasti membeli beras di penggilingan padi, sehingga mesti menampi beras supaya bebas dari sampah. Beras di penggilingan padi memang harganya lebih terjangkau dari pada beras di warung yang harganya lumayan mahal.
Mimin menatap Chesy dengan tenang.
Chesy meraih lengan Mimin dan mencengkeramnya erat. "Apa yang kamu aduin ke abi? Suka banget cari masalah sama aku, hm?"
Mimin tersenyum. "Aku cuma bilang kalau aku tahu semuanya tentang semua yang kamu sembunyikan dari abimu. Yaitu tentang penembakan Cazim. Nggak salah kan?"
__ADS_1
Bersambung....