
Rasanya kini Akram hampir saja mau menyerah, ia semakin tak kuat untuk berlari dengan kondisi panik seperti ini apalagi dikejar oleh Security yang jelas sudah terlatih fisiknya.
Namun seakan Tuhan masih memberinya kesempatan hidup, secara mengejutkan security itu berhenti tak lagi mengejar Akram bahkan terlihat kembali ke arah ruko yang dijaganya.
Melihat hal itu Akram masih terus berlari sampai bertemu tempat yang aman.
"Sialan Security itu, awas saja kalau aku balik ke negara ku dan ambil uang-uang ku bakal aku kasih paham," gerutu Akram sembari terus berlari.
Masih di lingkup perkotaan, Akram sulit menemukan kawasan yang sepi untuknya bisa berlindung dari orang-orang pemarah seperti security tadi.
Alhasil lagi-lagi ia pun memilih duduk di teras cafe karena tenggorokannya sudah sangat kering, kini rasa hausnya bertambah dengan rasa lapar.
Baru ia sadari roti tadi hanya bisa mengganjal perutnya tidak membuatnya kenyang buktinya baru dikejar-kejar beberapa menit saja sudah lapar kembali.
Di depan cafe Akram perlahan menoleh ke belakang, memandangi pengunjung dari balik dinding kaca yang tengah asik menyantap kue dan kopi, lalu ada anak-anak yang tengah berlarian sembari membawa satu cup es cream dan burger.
"Sepetinya enak sekali, ahh aku jadi lapar kan haus pula," gumam Akram dengan mata memicing.
"Hey, jangan duduk di sini pergi sana," usir seorang security cafe dengan garangnya menghampiri Akram.
Sontak Akram terkejut melihat security galak untuk yang kedua kalinya, dengan cepat ia pun beranjak dari sana. Tapi sadar jika ia masih mengenakan pakaian yang bagus terbilang gelandangan baru tentunya tak mungkin ia di sangka sebagai gelandangan sungguhan.
"Ya ampun Pak, orang cuma duduk-duduk. Ini saya juga mau masuk pesan kopi," sahut Akram dengan nada kesal.
"Oh iya Kak, Maaf tapi kalau duduk di sini memang di larang. Kalau mau pesan silahkan langsung masuk saja," ujar Security mendadak mengunakan nada bicara yang sangat lembut.
Kedua netra Akram masih membidik Security muda seusianya yang begitu menyebalkan ini, di awal seperti tak memanusiakan manusia tapi di akhiri ketika ia mengatakan akan masuk dan memesan seketika nada bicaranya berubah.
'Kenapa para Security hari ini sangat menyebalkan,' gerutu Akram dengan nada kesal.
"Silahkan langsung masuk saja Kak," ucap Security mulai mengarahkan Akram ke pintu utama cafe tersebut.
Terpaksa Akram pun masuk ke dalam demi membuktikan bahwa ia memang benar-benar berniat masuk, setibanya di dalam ia jadi pusing bagaimanapun cara membeli kopi dan roti di sini sementara ia tak pegang uang sepeser pun.
'Gimana ini, kalau aku pesan tapi nggak bayar nanti kena lapor polisi sama saja malah lebih parah awalnya status cuma jadi buronan malah lagi narapidana beneran,' gerutu Akram dalam hati.
Saat itu Akram tak memesan apapun, ia langsung duduk di salah satu meja yang ada di ujung ruangan bersebelahan dengan meja di samping yang penuh dengan makanan dan minuman.
'Semoga orang itu mau kasih aku roti sama kopi sisanya juga nggak papa,' ucap doa Akram sembari terus melirik ke arah meja samping.
Terlihat di sana hanya ada seorang wanita muda dengan anaknya yang masih berusia sekitar 3 tahun tengah bercanda sembari menyantap berbagai kue yang ada di hadapannya dengan posisi sudah terbungkus sepetinya dia memang sengaja untuk take away akan tetapi beberapa ia makan di tempat.
'Berbagi itu indah Bu, ayo berbagi Bu,' ucap Akram dalam hati terus memandangi kue-kue itu.
"Mama tinggal ke toilet dulu ya, kamu tunggu sini makan kue ya," pamit wanita itu pada anaknya.
Wanita itu pun mulai beranjak dari duduknya meninggalkan putri kecil yang fokus menyantap ice cream vanilla miliknya.
"Yummy," celoteh anak kecil itu.
Di pandanginya punggung wanita itu sudah menjauh dari pandangan matanya, dengan cepat Akram mulai melancarkan aksinya.
"Dek, adek cantik," panggil Akram lirih.
__ADS_1
"Dek," panggil Akram kembali.
Perlahan gadis kecil itu melirik ke arah Akram dengan tatapan kebingungan, lalu tak lama dia menyahut panggilan Akram dengan senyum manis.
"Dek," panggil Akram kembali.
"Iya Om," sahut gadis kecil itu.
"Om boleh minta kue sama kopinya?" tanya Akram sembari tersenyum lebar ke arah gadis itu.
"Boleh Om," sahut gadis kecil itu langsung mengambilkan satu paper bag berisi kue dan satu kopi cup ice coffee pada Akram.
"Terimakasih adek, jangan bilang Mama ya. Bilang saja nggak tahu kalau Mama tanya," ucap Akram menerima pemberian bocah itu.
Setelah mendapatkan kue dan kopi itu dengan cepat Akram bergegas keluar dari cafe tersebut menenteng paper bag dan satu cup kopi.
'Kalau begini caranya nggak masalah jadi gelandangan juga,' ucap Akram dalam hati sembari memandangi barang bawaannya kedua mata berbinar-binar.
"Hey, sudah mau pulang?" tanya wanita yang seorang ibu dari gadis kecil tadi menyapa Akram.
Sontak Akram terkejut menyadari kini berpapasan dengan wanita itu dalam keadaan yang sudah begini.
"Iya sudah ditunggu teman ku di parkiran," jawab Akram sembari mengernyit.
Kedua mata wanita itu tertuju pada papar bag dan kopi yang di bawa Akram. Sadar bahwa cup coffee yang di bawanya tertera nama wanita ini, dengan sigap ia pun menyembunyikan nama itu.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya," pamit Akram dengan langkah santai keluar dari cafe dengan rasa tak berdosa.
POV Revalina.
Tengah malam Rival sudah memberi kabar bahwa dirinya dan Yakub sedang berada di perjalanan pulang, tahu tentang keberadaan Revalina sekarang Rival tak langsung pulang melainkan berbelok ke arah rumah Chesy untuk mengajaknya pulang bersama mengingat sudah tengah malam seperti ini.
Setibanya mereka di rumah Chesy, mereka langsung mendapatkan sambutan hangat dari semuanya yang menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
"Assalamualaikum," ucap salam Rival mulai mencium punggung tangan Chesy.
Lalu beralih menjabat tangan Rafa sembari memeluknya diiringi dengan tepukan pada punggung masing-masing.
"Sama Yakub juga ternyata," ucap Chesy saat tangannya dicium oleh Yakub.
"Iya Tan," sahut Yakub sembari tersenyum.
Seolah sahutan Yakub tak membuat Chesy puas, kini kepalanya sedikit mendongak melirik-lirik ke arah belakang tepatnya pada teras rumah.
"Lah, Sarah mana?" tanya Chesy kebingungan.
"Kata Reva tadi Sarah juga ikut kalian," sambung Chesy dengan tatapan yang terlihat semakin kebingungan.
"Iya Umi, tapi Mbak Sarah tetap stay di sana sampai besok karena kondisi Mama masih nggak memungkinkan buat melakukan aktivitas semua sendiri," jawab Rival dengan nada bicara sopan.
"Oh begitu," sahut Chesy mengangguk-anggukkan kepalanya.
Revalina terdiam memandangi Chesy, sadar bahwa Uminya ini tak suka mendengar nama Candini meskipun hanya sebutan Mama sekalipun karena akan membuatnya teringat dengan wajah Candini. Agaknya kejadian di mana ia jatuh pingsan akibat mencegah mertuanya pergi dari rumah masih menjadi goresan terdalam pada hati Chesy.
__ADS_1
"Sudah tengah malam begini, apa nggak sebaiknya kalian menginap di sini saja?" tanya Chesy mulai menawarkan rumahnya.
"Iya, bahanya juga kalau pulang di jam segini," sahut Rafa sepaham dengan Chesy.
Tak langsung menjawab tawaran Chesy dan Rafa, Rival dan Yakub justru tersenyum-senyum malu dengan sesekali menundukkan kepala.
"Terimakasih Mi, terimakasih Kak atas tawarannya tapi kita harus pulang lagi pun Reva besok harus masuk kerja, Kak Yakub juga dan aku masih harus urus bisnis," tolak Rival dengan kalimat sehalus mungkin.
"Yahh, padahal Umi masih kangen sama kalian sama anak bontot Umi juga nih," keluh Chesy sembari merangkul tubuh Revalina dengan gigi yang mengerat gemas.
Saat dirangkul seperti itu Revalina hanya bisa pasrah, ia tahu bagaimana perasaan Uminya sekarang yang tak bisa terbantahkan.
'Kasihan Umi, kalau Umi sudah bilang kangen berarti artinya dia memang berada di tahap kangen berat,' ucap Revalina dalam hati.
Setelah melalui perbincangan yang cukup panjang, diselingi dengan Chesy yang terus menawarkan untuk menginap akhirnya Revalina, Rival dan Yakub pulang juga ke rumah meninggalkan Chesy dan Rafa.
Yakub mengendari mobilnya seorang diri, sementara itu Rival dan Revalina dalam satu mobil. Seperti biasa lambaian tangan Chesy dan Rafa selalu mengiringi kepergiannya ketika dirinya selesai bermain ke rumah mereka.
Di sela-sela melambaikan tangan ke arahnya dengan mobil yang perlahan mulai melaju, lagi-lagi Revalina bersedih entah kenapa selalu begini padahal setiap hari pun ia bisa bermain ke rumah Chesy.
"Nanti kita menginap di rumah Umi ya, kalau bisa setiap weekend," ujar Rival menatap Revalina dengan tatapan sendu.
Mendengar hal itu Revalina langsung beralih menatap Rival dengan tatapan kesal.
"Kamu sudah bilang begitu berapa kali Mas, tapi nggak pernah di wujudkan tuh," gerutu Revalina dengan nada kesal.
"Hihihi," kikih Rival dengan tak berdosanya.
Tawa Rival justru membuat Revalina semakin kesal, merasa dirinya yang kini tengah di tertawakan oleh suaminya sendiri.
"Kenapa tertawa?" tanya Revalina mulai bingung dengan maksud tawa Rival.
Menurutnya gerutuannya tadi tak ada lucu-lucunya sama sekali, tapi anehnya Rival malah terkekeh hingga kini sampai tak sanggup menahan kekehannya.
"Hihihihi," kikih Rival tanpa henti.
"Kenapa sih Mas?" tanya Revalina semakin kesal.
"Ya enggak, aku nggak menyangka saja kamu masih ingat kalau aku pernah bilang begitu," jawab Rival sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman yang masih terlihat seperti senyum ledekan.
Mendengar jawaban Rival, justru tak membuat kekesalan Revalina mereda namun malah membuatnya semakin kesal dan kesal.
"Hih, kamu kira aku lupa terus kamu kasih kata-kata itu lagi buat tenang. Nggak tahu apa kalau aku itu selalu ingat janji-janji mu dari dulu sampai sekarang bahkan aku ingat siapa saja Dosen wanita yang suka denganmu," gerutu Revalina kesal.
Rival terkejut langsung menoleh ke arah Revalina dengan tatapan kebingungan.
"Kenapa jadi kemana-mana begini sih?" tanya Rival dengan kedua matanya yang mulai memicing tajam.
"Aku cuma kasih tahu tentang ingatanku, supaya kamu tahu kalau ingatan ku itu tajam nggak tumpul seperti yang kamu bayangkan Mas," jawab Revalina dengan sejelas-jelasnya.
"Tapi aku juga kesal sama Bu Dosen itu," sambung Revalina membuang muka.
Bersambung
__ADS_1