Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Perdebatan Dengan Polisi


__ADS_3

'Siapa yang meninggal, apa jangan-jangan orang tahanan juga,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


Segerombolan petugas medis dan para polisi itu terus melenggang pergi mendorong ranjang berisikan mayat itu ke arah selatan.


"Ih, kenapa aku jadi keinget Akram," ucap Revalina bergidik merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri.


Malam itu Revalina benar-benar hanya nunggu Rival dengan terduduk di kursi ujung kawasan ruang IGD, berulang kali Rival mengirim pesan mengajaknya masuk membesuk Dalsa. Dengan tegas Revalina katakan bahwa ia tak mau.


"Biarkan saja kalau Mas Rival mau marah juga terserah aku sudah muak dengan adik kesayangannya itu," gerutu Revalina lirih, kesal.


Bahkan ia sengaja tak memberi kabar pada Chesy dan Rafa tentang apa yang terjadi pada Dalsa hari ini, karena baginya itu kabar ini tak penting untuk mereka dengar.


Kurang dari satu jam lamanya akhirnya Rival keluar dari sana dengan di kawal polisi yang baru saja masuk ruang IGD, agaknya Rival mendapat teguran karena sudah melebihi waktu besuk.


Dengan paras bingung, Rival melenggang menghampiri Revalina, semakin lama langkahnya semakin tak bersemangat terseret-seret sampai terhenti di hadapan Revalina.


"Yuk, kita pulang," ajak Revalina beranjak dari duduknya sembari menaikkan tali tas ke bahunya.


"Kamu beneran nggak mau jenguk Dalsa?" tanya Rival sembari mengerutkan keningnya.


"Enggak Mas, kan aku sudah bilang nggak tahan bau rumah sakit apalagi di dalam ruang IGD begitu," jawab Revalina mulai kesal.


"Dalsa pengen ketemu kamu," ujar Rival ngotot.


Mendengar hal itu seketika Revalina terdiam, terkejut dengan apa yang telah di dengarnya. Antara percaya dan tak percaya tapi yang mengatakan hal ini adalah Rival, seseorang yang tak pernah berkata bohong padanya.


"Serius Dalsa pengen ketemu aku?" tanya Revalina lirih pelan dengan kedua mata membesar.


"Iya dia bilang begitu berkali-kali, aku mohon kau masuk besuk dia siapa tahu bisa mengurangi rasa sakitnya sekarang," jawab Rival berujung memohon pada Revalina dengan sepenuh hatinya. "Dalsa memang bersalah. Aku pun marah dan muak kepadanya. Tapi Rajani sudah perhi, dan semua yang telah terjadi tidak akan pernah bisa diputar balik lagi. Selain memaafkan Dalsa, apa lagi yang bisa kita lakukan? Kita doakan saja supaya Dalsa mendapat hidayah. Akhir dari segalanya adalah taubatnya seseorang. Kalau Dalsa saja bisa bertaubat, justru kitalah yang menjadi buruk saat malah menyimpan dendam."


Kali ini hati Revalina merasa tersentuh padahal ia tak tahu apa yang akan Dalsa nanti katakan ketika dirinya sudah berada di dalam, entah berupa cacian atau apa.


Namun mendengar nada bicara penyampaian permohonan Rival membuat hatinya berkata jika saat ini Dalsa sedang tak ingin berperang dengannya.


"Ayo Reva, jam besuk masih tinggal 15 menit lagi. Kasihan Dalsa dia akan sedih kalau kau nggak mau datangi dia malam ini," bujuk Rival.


Saat ini Revalina benar-benar berada di pilihan sulit, egonya berkata jika ia tak sudi membesuk pelaku pembunuh saudara kembarnya namun jauh dari lubuk hati terdalam ia merasa kasihan ketika mendengar Rival memohon-mohon padanya untuk mau membesuk Dalsa.


"Ayo Reva," ajak Rival secara berulang-ulang.


"Ayo," sahut Revalina dengan berat hati.


Seketika raut wajah Rival berubah jadi lega, dengan tenang Rival menarik Revalina masuk ke dalam ruang IGD dengan peringatan hanya 13 menit waktu besuk yang tersisa.


Revalina hanya bisa terdiam pasrah ditarik masuk oleh Rival, rasanya masih ada saja perasaan malas bertemu Dalsa.


'Kalau bukan karena Mas Rival yang memintaku untuk membesuk adiknya aku nggak akan mau besuk dia," ucap Revalina dalam hati.


Masih ada kekakuan dalam hati Revalina tak tak dapat ia ungkapkan, namun baginya semua itu wajar sebagai keluarga korban pembunuhan berencana nan sadis.


Di dalam ruang IGD terdapat beberapa pasien yang terbaring di sana dan Dalsa menempati di bilik paling ujung dengan satu-satunya monitor yang tak beroperasi di sana.


"Nggak parah kan Mas?" tanya Revalina lirih.


"Kalau organ dalamnya sih enggak, cuma bagian luar babak belur semua perutnya saja sampai sedikit membengkak," jawab Rival lirih.


"Memangnya perut juga kena hantaman?" tanya Revalina terkejut.


"Bukan pukulan lagi tapi tendangan," jawab Rival.

__ADS_1


Sontak Revalina tersentak terkejut mendengar jawaban Rival, sejak pertama kali mendengar kabar Dalsa ia tak menyangka akan adanya kekerasan sampai seperti itu ketika mendengar hal ini ia pun sangat shock.


"Ya Tuhan, sadis-sadis sekali orang-orang di dalam penjara itu," ucap Revalina merasa miris.


Tak lama mereka pun tiba di bilik yang ditempati Dalsa, seketika pandangan Dalsa yang semula kosong menatap langit-langit rumah sakit kini langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah Revalina dan Rival yang baru datang.


Betapa terkejutnya Revalina melihat kedua mata Dalsa mulai berkaca-kaca, menatap Revalina sembari tersenyum sementara tangannya berusaha untuk meraih tangan Revalina.


"Reva," panggil Dalsa lirih.


Namun Revalina enggan menyahut panggilan Dalsa, hati terasa benar-benar membeku.


"Reva, aku sudah mendapatkan karmanya, aku sudah mendapatkan karmanya," ucap Dalsa berulang-ulang.


Mendengar ucapan Dalsa sontak Revalina terkejut dengan kedua mata membesar, ia tak menyangka adik kesayangan suaminya ini akan berkata seperti itu padanya.


Sekejap pandangan Revalina beralih ke Rival yang terlihat tak terkejut sama sekali mendengar ucapan Dalsa barusan.


'Reaksi Mas Rival seperti sudah terbiasa mendengar ucapan Dalsa, apa jangan-jangan sebelumnya Dalsa sudah bilang begini di hadapan Mas Rival,' ucap Revalina dalam hati.


"Aku sudah dapat karmanya Reva," ucap Dalsa secara berulang-ulang.


Kedua mata Dalsa kini mulai tak mampu menahan air mata, perlahan air mata itu mengucur juga bersamaan dengan rintihan kesakitan.


"Argghhh," rintih Dalsa.


Sekujur tubuh mendadak gemetar hingga melepaskan genggaman tangannya pada tangan Revalina, saat itu sontak Rival panik sedangkan Revalina terdiam kaku masih berusaha mencerna semuanya.


"Dalsa, mana yang sakit?" tanya Rival panik setengah mati.


"Arghhh," Dalsa terus merintih.


Dengan sekali anggukan, Rival bergegas lari memanggil Dokter melalui pihak medis yang stand by di dalam ruang IGD meninggalkan Revalina berdua dengan Dalsa.


Melihat Dalsa yang terus meraung, merintih kesakitan Revalina tak berbuat apa-apa bahkan memenangkan pun enggan. Ia masih berusaha mencerna kalimat Dalsa yang entah bagian dari rencananya selama ini untuk sebuah kebebasan atau memang tulus adanya.


"Kalau kamu memang kesakitan, sabar saja nanti Dokter juga datang," ucap Revalina.


Dan benar tak lama Dokter datang bersama dengan Rival, Dokter itu dengan sigap memeriksa Dalsa dengan stetoskopnya dan berlanjut dengan pengecekan lain.


Saat itu juga Polisi yang berjaga di depan mendengar adanya masalah dengan Dalsa langsung bergegas masuk ke dalam menyaksikan langsung kondisi Dalsa sekarang.


"Mohon maaf jam besuk sudah habis, beri tahanan kamu waktu istirahat," ucap Polisi mengusir Revalina dan Rival secara halus.


Mendengar kalimat tersebut Revalina langsung menarik pelan tangan Rival sebagai kode bahwa dirinya ia tengah mengajaknya pulang.


"Tunggu dulu Pak, adik saya sedang seperti ini nggak mungkin saya tinggal pergi," ucap Rival semakin resah. "Dia butuh bantuan dan dukungan dari keluarganya. Biarkan saya menemani."


"Tidak bisa Pak, Bapak harus segera meninggalkan rumah sakit ini," sahut Polisi mulai menarik keluar Rival beserta Revalina.


Sepertinya Polisi tak mau membuat kegaduhan di dalam ruang IGD dan proses pelayanan Dokter di sana yang membuatnya terpaksa menarik paksa mereka keluar dari ruangan tersebut.


Saat itu hanya Revalina yang masih mengunakan logikanya sedangkan Rival kekeh ingin menemani Dalsa bahkan sampai meronta membuat polisi kewalahan menahannya.


"Nggak. aku nggak bisa, aku harus temani Dalsa," ucap Rival berusaha melepaskan cengkraman tangan polisi.


Sekejap tubuhnya terbalik menghadap ke bilik paling ujung, kegaduhan terjadi membuat para Polisi mulai murka.


"Mas jangan seperti ini Mas," tegur Revalina membantu Polisi menahan tubuh Rival.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian kegaduhan di dalam ruang IGD akhirnya terendus juga oleh semua polisi yang berjaga di luas. Sontak semuanya masuk ke dalam dan langsung menarik mundur Rival.


Dengan banyaknya Polisi yang menarik mundur tubuh Rival, akhirnya kini Rival bisa di bawa keluar dari ruang IGD.


"Kalian tidak tahu bagaimana di posisi saya, saya ini sedang merasa khawatir," geram Rival pada seluruh polisi yang ada di sana.


 Revalina tak menyangka jika Rival akan nekat segarang itu pada para polisi.


'Aku harus minta bantuan Kak Yakub,' ucap Revalina dalam hati.


Di tengah Rival yang tengah berdebat dengan para Polisi yang menariknya keluar dari ruang IGD, kini Revalina berusaha memanfaatkan waktu untuk menghubungi Kakak iparnya itu.


Tuttt tutt tutt.


Bunyi telfon tersambung.


Yakub: Halo, assalamu'alaikum.


Revalina: waalaikumsalam.


Yakub: gimana Reva, kau sudah ketemu Dalsa?.


Revalina: sudah Kak, cuma sepertinya Dalsa sedang kesakitan jadi sekarang lagi di tangani Dokter, tapi....


Yakub: Tapi apa?


Revalina: cuma sekarang jam besuk sudah habis jadi kita di paksa buat keluar tapi Mas Rival kekeh nggak mau keluar sampai di tarik paksa sama polisi di sini dan sekarang lagi debat tuh.


Yakub: ya Tuhan, tenang Reva aku akan segera ke sana.


Revalina: baik Kak, cepat ya Kak aku sudah takut di sini.


Yakub: iya sabar ya, aku pergi sekarang juga.


Yakub: ya sudah Assalamualaikum.


Revalina: waalaikumsalam.


Setelah menjawab salam, telfon langsung tertutup, nampaknya Yakub benar-benar bergegas ke rumah sakit di detik ini juga.


Akan tetapi secepat-cepatnya Yakub menuju ke rumah sakit tetap saja lama bagi seseorang yang menunggu apalagi sangat membutuhkannya.


Terpaksa pada saat itu Revalina kembali ke arah Rival yang kini masih berdebat hebat dengan para polisi, memandanginya dari kejauhan saja membuat mata Revalina terasa lelah.


"Nggak bisa begini terus, aku harus hampiri Mas Rival sekarang juga sebelum dia semakin jauh aku takutnya karena pemberontakannya ini yang membuat dia berurusan dengan hukum," ucap Revalina lirih.


Mulanya langkah kaki Revalina terasa begitu malas, namun saat ini ia tak lagi malas melainkan pacuan semangat yang tiada henti untuk membuat kedua kakinya terus melangkah.


"Mas, sudah Mas Dalsa nggak akan kenapa-napa," ucap Revalina berusaha membujuk suaminya untuk tak lagi melanjutkan perdebatan.


"Aku tahu kondisi Dalsa bagaimana. Dalsa sudah menyadari kesalahannya, dan itu membuatku merasa ingin memotivasinya supaya dia tidak kembali ke jalan yang salah," ucap Rival menoleh ke arah Revalina dengan tatapan mengiba.


"Ya aku nggak tahu persis gimana kondisi Dalsa, tapi coba pasrah sama Dokter, lagi pula kamu yang bilang sendiri kalau semua tergantung dari kuasa Tuhan, lalu kenapa kamu sendiri nggak percaya akan hal itu?" tanya Revalina balik.


Rival menghela napas panjang. Ia mengusap wajah dan berusaha menenangkan diri. Efek terlalu mengkhawatirkan mental dan usaha Dalsa untuk menjadi lebih baik, Rival jadi begini.


Bersambung


Baca juga novel baru Emma Shu di Noveltoon judul : Senja di Mekah

__ADS_1


__ADS_2