Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Bakso Untuk Cazim


__ADS_3

Cazim tengah menyantap pentol bakso. Mengunyah dengan nikmat. Sejak dulu, makanan kesukaannya adalah bakso dan bakmie atau apa pun segala jenis makanan yang judulnya mie. Sebenarnya ada sejarah tersendiri yang membuatnya mencintai bakso dan berbagai jenis makanan terbuat dari mie. Kalau diceritakan akan panjang sekali.


Simpelnya, ayahnya dulu adalah tukang bakso. Keseharian Cazim selalu menikmati makanan bakso. Sekali makan, ia bisa menghabiskan puluhan pentol bakso. Dan itu tidak pernah jemu. Kalau pun ia bosan, paling hanya sehari atau dua hari saja ia tidak menyantap bakso, setelah itu ia kembali menghajar bakso.


Ayahnya tidak mempermasalahkan meski putranya menghabiskan banyak bakso dari dagangannya. Toh ia bekerja juga untuk anak. Ia hanya tersenyum setiap kali melihat putranya menghabiskan banyak bakso jualannya.


"Bang, sudah dua mangkuk bakso kosong yang Abang makan, nggak blenger ngabisinnya?" Alando keheranan menatap Cazim begitu lahap menyantap bakso.


"Kau bukan baru kali ini mengenalku. Kupikir kau sudah terlalu sering melihatku makan ini kan? Jangan heran!" Cazim, pemuda tampan yang memiliki wajah dengan garis bibir tegas dipadu hidung mancung dan rahang kokoh itu rasanya terlalu unik bila menggemari bakso, seharusnya pemuda eksotik sepertinya memiliki selera yang unik pula.


Tapi tidak, ia malah terlihat sederhana dengan gaya makannya yang sederhana pula.


Malam itu, Cazim yang tengah duduk di warung bakso sontak memanggil Alando yang kebetulan melintas mengendarai motor di jalan. Cazim mengajak Alando makan di sana.


Suasana warung bakso yang unik dan nyentrik membuat Cazim tertarik menikmati suasana malam di warung yang tidak begitu kecil, warung itu cukup besar dan memberikan kesan modern, ditambah kelap kelip lampu yang menambah kesan meriah. Bukan hanya tempatnya saja yang nyaman, rasa baksonya juga nendang dan membuat lidah Cazim ketagihan.

__ADS_1


"Mulai besok, aku punya tambahan jadwal, yaitu memberi pengajaran kepada Chesy. Dia akan menjadi muridku," terang Cazim.


"Murid? Abang jadi guru?"


"Abinya Chesy menyuruhku mengajarinya, aku akan menjadi gurunya."


"Trus abang mau?"


"Harus mau. Kalau tidak mau rahasia kita terbongkar, maka lebih baik ikuti saja. Aku di sini dianggap sebagai orang yang paham agama, jadi harus menunjukkan hal yang benar."


"Aku salut sama abang, padahal abang kan bukan ustad, bukan pula jebolan santri dari pondok pesantren, tapi kenapa pemahaman tentang ilmu agama luas sekali?"


"Ya, aku tahu ayahmu orang hebat dalam bidang itu. Tapi beliau orang sederhana, lalu kenapa abang tidak hidup saja bersama dengan papanya abang saja? Dia punya segalanya, dia bahkan bisa membelikan komplek ini untukmu kalau mau."


"Berhenti membicarakan hal bodoh itu. Aku hanya punya satu ayah, tidak ada istilah papa dalam hidupku." Ekspresi wajah Cazim berubah emosi.

__ADS_1


"Maaf, Bang." Alando lupa kalau sahabatnya itu selalu marah setiap kali membahas pengusaha kaya itu. "Oh ya, kenapa abang mau tersesat di sini hanya demi aku bang?" Alando mengalihkan pembicaraan.


Cazim menepuk pundak Alando dengan tatapan penuh arti. "Kau tidak perlu tanyakan tentang kesetia kawanan padaku. Bagiku itu dalam sekali."


Alando terdiam. Ekspresinya berubah, baper sekali. Setiap kali membahas hal ini, selalu saja Cazim menunjukkan etika dari kesetiaan. Dia bukan teman sembarang teman, kesetiaannya tidak diragukan lagi.


Bersambung


klik like dulu


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2