
"Kenapa menjemputku? Katanya ngantuk?" Chesy melirik wajah Cazim yang ada di dekatnya.
"Abi yang menyuruhku."
"Oh, aku juga tahu kamu nggak bakalan menjemputku jika bukan karena desakan lain. Seenggaknya kami tahu kalau perbuatanmu itu menyusahkan aku. Dan suami yang menyusahkan istri itu urusannya nggak bakalan dilapangkan oleh Tuhan. Baik urusan rejeki dan urusan apa pun. Saat hati istri tersakiti, suami pasti akan dipersulit dalam segala hal oleh Tuhan."
Cazim melirik wajah di sisi wajahnya itu. Ia lalu memutar mata. "Kau sendiri yang meminta aku tidak menganggapmu kan?"
Chesy kena skak. Awalnya memang begitu. Tapi Cazim tidak tahu kalau keadaan sudah berubah haluan.
"Aku tahu kau tidak suka dengan keberadaanku, dan kalau ada orang lain yang lebih pantas, kau juga pasti tidak akan meminta bantuanku." Cazim meletakkan tubuh Chesy ke kursi taman depan rumah.
"Kok, di sini?" tanya Chesy.
"Luruskan kakimu!" Cazim mengangkat satu kaki Chesy dan meluruskannya ke kursi panjang itu. Ia lalu ikutan duduk di kursi itu dan mulai mengurut kaki itu.
"Loh, kenapa diurut?"
"Kau bilang terkilir. Harus diurut biar cepat sembuh. Aku sudah melakukan hal ini sebelumnya pada punggungmu malam itu, dan kau sembuh berkat urutan tanganku bukan? Maka jangan ragukan kemampuanku dalam hal ini."
"Iya, aku mengerti. Tapi maksudku kakiku yang terkilir bukan sebelah kanan, tapi yang kiri. Kenapa yang kanan mesti diurut?" Chesy nyengir.
Muka Cazim langsung lempeng. Ia menurunkan kaki kanan dan mengganti dengan kaki kiri yang kini berada di pangkuannya. Ia mulai memijit kaki itu.
Sentuhan demi sentuhan tangan Cazim di kaki Chesy memberikan getaran hebat yang mengalir sampai ke hati. Mendebarkan sekali.
"Makasih ya udah mau pijitin aku!"
"Kenapa baru sekarang bilang itu?"
__ADS_1
"Loh, kan memang baru sekarang pijitinnya?"
"Kurasa kau tidak amnesia. Dulu aku pernah melakukannya dan kau malah marah padaku bukan?" Cazim terus memijit.
"Oh. Lain dulu lain sekarang. Aku yakin kamu pasti tahu hukum alam tentang perubahan cuaca, bisa tiba tiba hujan ketika panas terik. Begitu juga seseorang, bisa tiba- tiba berdamai setelah merasa marah sekali."
Cazim menjepit ujung hidung Chesy. "Sok hebat!" Pria itu kemudian meninggalkan kursi.
"Ini pijitannya udah selesai?"
"Sudah." Cazim terus melangkah masuk ke rumah. Dan berpapasan dengan Yunus saat di pintu. Entah sejak kapan Yunus ada di sana.
"Abi senang lihat kamu dan Chesy akur. Semoga lama kelamaan Chesy akan menjadi wanita yang baik," ucap Yunus membuat Cazim menggaruk caruk lehernya yang tak gatal.
Chesy senang ia kembali bisa berjalan. Kakinya yang terkilir sudah sembuh. Cazim memang jago dalam utusan pijit memijit.
***
Dengan senyum, Chesy meletakkan makanan itu ke meja makan.
"Tumben, Non Chesy masak. Bibik kan sudah masak non?" tanya Bik Parti dengan senyum simpul.
"Sekali- kali, Bik. Ini aku udah berhasil bikin telur dadar."
"Spesial untuk suami ya, Non?"
"Bibik tau aja."
Bik Parti puj tersenyum dan berlalu pergi ketika melihat Cazim muncul. Pria itu menarik kursi dan duduk.
__ADS_1
"Abi sudah pergi ya?" tanya Cazim. "Kok tidak sarapan?"
"Iya, abi udah pergi dijemput sama remaja masjid. Ada urusan," jawab Chesy. "Aku masak buat kamu. Makan ya!"
Cazim mebatap lauk di meja. Kemudian menggeleng. "Aku makan di luar aja."
Chesy kecewa. Ia sudah berjuang memasak telur dadar supaya tidak gosong, tapi ternyata Cazim malah menolaknya. Perjuangannya sia- sia.
"Ini telur dadar pertama buatanku yang nggak gosong loh. Kamu cicipin dulu!" bujuk Chesy.
Cazim menggeleng.
"Ya udah." Chesy menekuk wajahnya. Namun kemudian ia kembali tersenyum dan berkata, "Terus ini nanti kamu antarin aku ke sekolah ya." Saat ini Chesy sedang ingin berduaan terus dengan Cazim. Diantar oleh suami ke tempat kerja merupakan kebanggan tersendiri baginya.
"Kau bisa naik motor sendiri!" Cazim bangkit berdiri sambil menjawab telepon saat benda pipih itu berdering.
Dan Chesy sekilas melihat nama Senja di layar ponsel Cazim.
"Ya? Okey. Tentu. Aku akan mengantarmu sekarang." Cazim berjalan meninggalkan ruang makan.
Senja? Cazim menolak mengantar Chesy ke sekolah dan malah mau mengantar Senja? Mereka mau kemana?
Chesy mengejar Cazim yang menyudahi telepon dan pria itu berjalan menuju motor yang sudah terparkir di halaman rumah. Pria itu lalu menaiki motor dan mengenakan helm.
"Mas, kamu mau kemana? Ngantarin Senja?" Chesy mengambil kunci yang sudah menancap di motor.
Cazim menatap Chesy datar. "Apa yang kau lakukan? Berikan kuncinya padaku!"
Bersambung....
__ADS_1
Kasih hadiah biar semangat ya...
Bad mood ini. Lagi demam jadi updatenya dikit. maaf!